Rabu, 21 November 2018
Opini Opini

Aktualisasi Kesadaran Berpolitik bagi Pemilih Pemula di Pilpres 2019

Aktualisasi Kesadaran Berpolitik bagi Pemilih Pemula di Pilpres 2019 ik Tri Wahyuni, Mahasiswa Program Pasca Sarjana Ilmu Komunikasi Universitas Brawijaya Malang. (Grafis: Sholihin Nur/TIMES Indonesia)
Rabu, 07 November 2018 - 10:35

TIMESINDONESIA, JAKARTA – PEMILIHAN Umum (Pemilu) merupakan sarana pelaksanaan kedaulatan rakyat untuk memilih pemimpin politik secara langsung. Pemimpin politik disini adalah jabatan Presiden dan Wakil Presiden di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Pemilihan umum yang baik dan bersih mensyaratkan adanya pemilih yang mempunyai pengetahuan, kesadaran atas hak politiknya, bebas dari pengaruh pihak lain, dan terhindar dari pengaruh jaminan uang atau politik uang.

Oleh karena itu, Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagai penyelenggara Pemilu wajib melakukan upaya melalui regulasi atau aturan serta bekerja sama dengan stakeholder atau pemangku kebijakan dan kepentingan untuk melaksanakan kegiatan dalam rangka peningkatan partisipasi masyarakat pemilih.

Salah satu kategori pemilih yang mempunyai pengaruh besar terhadap demokrasi di masa mendatang adalah pemilih pemula.

Jumlah pemilih pemula di tahun 2019 mencapai angka 5 (lima) juta pemilih, sesuai DPSHP (Daftar Pemilih Hasil Perbaikan). Potensi daya kritis mereka dapat menetukan hasil pemilu itu sendiri.

Pemilih pemula adalah pemilih yang baru pertama kali akan menggunakan hak pilihnya pada Pemilu mendatang. Tahap pengenalan proses Pemilu sangat penting untuk dilakukan kepada pemilih pemula, terutama bagi mereka yang berusia 17 tahun.

KPU dibantu oleh pihak terkait, harus mampu memberikan kesan awal yang baik tentang pentingnya suara pemilih pemula. Dalam Pemilu suara mereka sangat menentukan pemerintahan selanjutnya, sehingga diharapkan bisa menjadi motivasi untuk terus menjadi pemilih yang cerdas.

Peranan pemilih pemula sangat penting karena sebanyak 20 persen dari keseluruhan jumlah pemilih adalah pemilih pemula.

Oleh karena itu, siapa yang bisa merebut perhatian kalangan milenial atau pemilih pemula, ia yang akan merasakan keuntungannya. Hal ini tentu mempengaruhi pengamanan proses regenerasi kader politik kedepan.

Meskipun membutuhkan biaya yang tidak sedikit, ketiadaan dukungan dari pemilih pemula atau kaum milenial akan sangat merugikan dari target suara Pemilu yang telah ditetapkan oleh setiap pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden.

Namun, demikian objek kajian politis ini semestinya tidak hanya berhenti di pada kerangka hitungan. Jauh lebih mendalam yakni meletakkan komponen ini pada kerangka pendidikan politik yang lebih mengacu pada aspek pencerdasan kehidupan bangsa, yang kini perlu ada pembenahan sudut pandang di kalangan milenial atau pemilih pemula pada ruang politik yang lebih luas.

Jurnalis :
Editor : Yatimul Ainun
Publisher : Rizal Dani

Komentar

Registration