Rabu, 21 November 2018
Opini Opini

Bendera Perang dan Damai antara Interpretasi Kiai, Politisi dan Dipolitisi

Bendera Perang dan Damai antara Interpretasi Kiai, Politisi dan Dipolitisi Ahmad Patoni, S.S, Kepala Madrasah Diniyah Salaf Modern Thohir Yasin Lendang Nangka, Masbagik, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. (Grafis: TIMES Indonesia)
Selasa, 06 November 2018 - 16:44

TIMESINDONESIA, LOMBOK – Isu bendera Tauhid sampai hari ini terus menghangat. Semakin hari, hati kita dibuat tak karuan. Apalagi setelah adanya gerakan mengadu domba tafsir sejarah fathul makkah. Perbedaan pandangan dalam Islam dibuat menjadi alat untuk mengkafirkan dan mengklaim bodoh pada beberapa kyai panutan umat.

Santri Ahlussunnah sejak fase awal Islam sudah terbiasa dengan perbedaan pandangan dan penafsiran ulama. Tapi kita tidak pernah berani mengclaim atau menghukum hasil ijtihad ulama. karena meyakini setiap pandangan (hasil ijtihad) ulama jika salah akan mendapatkan satu pahala, jika benar akan mendapatkan dua pahala.

Berbeda dengan kondisi hari ini, tidak jarang seorang santri begitu sangat berani menjadi garda terdepan menyalahkan hasil interpretasi sejarah gurunya. Lebih lebih dengan menghangatnya perbedaan pilihan pada pilpres kali ini. Akan sangat naif dan memalukan ketika perbedaan pilihan pada pilpres mampu menghilangkan pengetahuan yang sudah lama tertanam dalam jiwa kita masing-masing. Seolah pengetahuan kita tentang perbedaan adalah rahmat, sudah hilang dibawa hembusan angin kepentingan.

Kembali pada kasus interpretasi kondisi sejarah fathul makkah. Sudah menjadi bagian kajian dalam setiap bab yang mengulas sejarah perang yang dipimpin Rasulullah. Tidak ada satupun sejarawan muslim memasukkan peristiwa fathul makkah dalam bab selain bab yang berbicara tentang perang. Terkait kondisi yang terjadi pasca pasukan Rasulullah sampai di kota Makkah, maka itu adalah efek dari besarnya jumlah pasukan yang dibawa Rasulullah dari Madinah menuju Kota Makkah.

Jurnalis : Anugrah Dany Septono
Editor : Yatimul Ainun
Publisher : Rochmat Shobirin
Sumber : TIMES Lombok

Komentar

Registration