Rabu, 21 November 2018
Opini

Potret Sarjana Setengah Tua

Potret Sarjana Setengah Tua Imam Syafi’i,S.Pdi,M.Pd, Dosen Fakultas Agama Islam Unisma Malang. (Grafis: Dena/TIMES Indonesia)
Selasa, 06 November 2018 - 11:50

TIMESINDONESIA, MALANG – TES seleksi kompetensi dasar (SKD) calon pegawai negeri sipil tahun 2018 sudah usai, memberikan cerita yang beraneka ragam,ada yang gembira karena lolos dan ada juga sampai menangis begitu kecewanya karena gagal dalam tes SKD. 

Ini menjadi permasalahan yang sangat serius seakan-akan ketika tidak menjadi PNS rezeki yang dijamin oleh Allah kepada hambanya akan berhenti.
Fenomena keinginan menjadi PNS begitu semarak, para sarjana muda sampai sarjana setengah tua ingin menjadi PNS begitu aduhainya profesi ini. Ataukah karena pemikiran yang sempit bahwa hanya dengan menjadi pegawai negeri sipil saja manusia akan hidup kecukupan materi. Akan tetapi bisa jadi dengan menjadi PNS justru terkekang dengan aturan dan hidupnya semakin sempit untuk menikmati indahnya dunia.

Dalam konsep Islam rezeki itu wajib diikhtiarkan akan tetapi penentu rezeki untuk umat manusia ini hanyalah Allah SWT. Kalau kita melihat pemikiran al Imamul Ghozali tentang bahasan rezeki ,ada rezeki lahiriah ada juga rezeki batiniah. Rezeki lahiriah berupa makan,minum baju keperluan sehari-hari sedangkan yang batiniah berupa pengetahuan dan penyingkapan ruhaniah untuk makrifat kepada Allah Swt.

Kebanyakan manusia hanya berfikir bahwa rezeki itu bersifat materi kalau kita tarik dalam teori tasawuf tidakkah nafas,tangan ,kaki ,nyawa ,seluruh tubuh kita ini dan hati yang bersih adalah nikmat rezeki yang diberikan kepada kita oleh Allah yang seharusnya disyukuri untuk mengagungkan kebesaran-Nya.

Ketidak berdayaan para pemburu PNS tidak seharusnya menggebu-gebu sampai dengan cara apapun yang penting menjadi PNS,sebaiknya kita sadari bahwa masih banyak kesempatan yang lain untuk menjadi manusia yang sukses dunia dan akhirat. 

Ataukah ini menjadi cambuk cemeti bagi pemerintah kedepan agar membangun mainset para sarjana yang tangguh untuk menghadapi dunia global dengan segala kemampuan kognitifnya serta skill yang dimilikinya,agar para sarjana tidak gamang dalam menghadapi hidup di era revolusi industri 4.0 yang menekankan pada pola digital economy,artificial intelligence,big data,robotic dan lain sebagainya atau dikenal dengan disruptive innovation.

Pemerintah harus segera memberikan peluang kepada para sarjana dengan pemberdayaan dibidangnya masing-masing,kalaupun dibidang wirausaha berikan kebijakan untuk para usaha muda untuk bisa cepat berkembang, sedangkan dibidang keilmuan berikan kesempatan kepada para sarjana muda untuk berekspresi dalam ruang dialektika penulisan buku dan diberi kemudahan dalam pemasaran karya-karya terbaik anak bangsa Indonesia. (*)

Penulis: Imam Syafi’i,S.Pdi,M.Pd, Dosen Fakultas Agama Islam Unisma Malang

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

Jurnalis :
Editor : AJP-5 Editor Team
Publisher : Sofyan Saqi Futaki

Komentar

Registration