Rabu, 21 November 2018
Wisata

Kemenpar RI Proyeksikan Banyuwangi dan Bali Pusat Wisata Alam

Kemenpar RI Proyeksikan Banyuwangi dan Bali Pusat Wisata Alam Perbukitan hijau di Bali dan Banyuwangi nampak dari ketinggian (FOTO: Rizki Alfian/TIMES Indonesia)
Senin, 05 November 2018 - 10:52

TIMESINDONESIA, BANYUWANGIKemenpar RI akan mengembangkan destinasi wisata alam terpadu di Banyuwangi, Jawa Timur dan Bali. Konsep wisatanya seputar kembali ke alam.

"Konsep wisata back to nature merupakan tren terkini yang menjadi incaran wisatawan dunia. Oleh sebab itu, pengembangan klaster menjadi keputusan yang sangat ideal,” kata Asisten Deputi Pengembangan Wisata Alam dan Buatan Kemenpar Alexander Reyaan dalam Focus Group Discussion (FGD) Pengembangan Klasterisasi Destinasi Ekowisata Jawa Timur dan Bali di Banyuwangi. 

Menurut Reyaan, klaster ini diharapkan dapat bersinergi dengan baik sehingga target kunjungan wisman dari sektor ekowisata dapat memberikan sumbangsih yang signifikan terhadap devisa negara sehingga semakin mensejahterakan masyarakat.

"Langkah ini penting dilakukan untuk pengembangan pariwisata Indonesia. Sebab, kecenderungan wisatawan dunia telah bergeser ke arah ekowisata," kata Alexander.

Dia menambahkan, dipilihnya Jatim dan Bali sebagai lokasi pengembangan bukan tanpa alasan. Secara geografis, dua daerah ini letaknya berdekatan sehingga memiliki konektivitas dan keterkaitan yang cukup baik.

Selain itu, imbuhnya, Jatim-Bali juga memiliki destinasi ekowisata yang cukup menarik dan beragam. Di Jatim misalnya, terdapat Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Taman Nasional Meru Betiri (TNMB), Taman Nasional Alas Purwo (TNAP), Taman Nasional Baluran (TNB) serta Taman Wisata Alam Kawah Ijen (TWA Kawah Ijen). Sementara Bali, khususnya Kabupaten Jembrana, memiliki Taman Nasional Bali Barat (TNBB).

"Potensi-potensi ekowisata ini akan berkembang lebih cepat jika ada kerjasama yang baik antar daerah (Jatim-Bali). Dengan kolaborasi, akan tercipta pengelolaan ekowisata yang harmonis. Destinasi satu dengan lainnya akan saling mendukung dan menguatkan, bukan saling menjatuhkan,” tegas Alexander.

Alexander menambahkan, program klasterisasi ini semakin meningkatkan daya saing pariwisata Indonesia. Karena ekowisata merupakan bagian dari pariwisata berkelanjutan dan bisa meningkatkan daya saing pariwisata. Berdasarkan Travel and Tourism Competitiveness Index (TTCI), World Economic Forum (WEF), tahun 2017 daya saing pariwisata Indonesia naik ke peringkat 42 dari peringkat 50 ditahun 2015.

"Komitmen pemerintah ditunjukkan dengan menghubungkan sebagian besar target dan indikator SDGs ke dalam rencana pembangunan jangka menengah nasional (RPJMN). Selain itu, Kemenpar juga mengeluarkan Peraturan Menteri Pariwisata No. 14 Tahun 2016 tentang Pedoman Destinasi Pariwisata Berkelanjutan, sehingga acuannya pun jelas," terang Alex.

Bupati Banyuwangi  Abdullah Azwar Anas menyambut baik ide tersebut. Anas yang sempat memaparkan strategi pengembangan pariwisata Banyuwangi pun, sepakat dengan konsep kolaborasi yang dirancang oleh Kemenpar RI.

“Sekarang bukan jamannya lagi berkompetisi. Agar semakin maju, daerah harus saling berkolaborasi. Inilah yang telah kami lakukan di Banyuwangi termasuk di sektor pariwisata. Kami sudah sepakat kerja sama kapal cepat dengan Kabupaten Buleleng Bali. Kami juga sedang merancang untuk menggelar event ‘Selat Bali’ bersama dengan Kabupaten Jembrana Bali pada 2019 nanti. Bahkan, ini sudah kami anggarkan tinggal menunggu kepastian dari pihak Jembrana,” kata Bupati Anas.

Untuk mendorong pengembangan ecotourism sendiri, kata Anas, sejak beberapa tahun lalu Banyuwangi telah menggelar beragam event pariwisata yang berbasis alam. Seperti International Tour de Banyuwangi Ijen, Ijen Green Run, dan masih banyak lainnya.

“Kami juga mengeluarkan peraturan desa (perdes) yang mengatur ketentuan pembangunan di suatu kawasan yang memiliki alam yang indah. Ini semua kami lakukan semata-mata agar ekoturisme di Banyuwangi tetap terjaga,” tandasnya. Kemenpar RI pun mengamini konsep bupati Anas. (*)

Jurnalis : Rizki Alfian
Editor : Deasy Mayasari
Publisher : Rizal Dani
Sumber : TIMES Banyuwangi

Komentar

Registration