Rabu, 21 November 2018
Opini

Demi Tuhan, Saya Pemuda

Demi Tuhan, Saya Pemuda Damanhury Jab, Koordinator Forum Pemuda Ora Terhormat Blas FPOTB Malang
Senin, 05 November 2018 - 11:08

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Hari Sumpah Pemuda baru saja berlalu, disetiap pojok podium tampak terdengar bergaung teriakan penuh kepalsuan. Mengajak wajah-wajah polos kembali mengikuti muslihat sang pragmatis. Inilah mereka para generasi bangsa yang sejak dalam rahim sering dididik dengan kepalsuan-kepalsuan kaum elitnya hingga lahir ke dunia. 

Ketika menjadi kanak-kanak, mereka terbuai dalam buaian mainan-mainan palsu. Kala tumbuh menjadi remaja, mereka dipersuguhkan dengan cinta-cintaan palsu dan merangkai barisan-barisan puisi palsu, hingga beranjak menjadi Pemuda-pemuda karbitan hasil produk palsu.

​Pemuda dalam genggaman waktu semakin menghilang dari gejolak semangat idealismenya. Berganti wajah menjadi sang kontributor berita palsu, korban profokator dan korban nasi bungkus yang akhirnya menjadi pagar bahu, pagar betis dan senjata bayaran  dalam beberapa momentum besar  di negeri ini.

Akhir-akhir ini, Tuhan dan perintahnya kembali dicomot sebagai objek pemecah belah demi kepentingan mencari siapa yang benar dan yang salah.

Kenapa tidak? Hari ini Indonesia tengah berada diambang situasi yang sungguh serba dilema. Pertarungan kubu-kubu kecil yang mengakui Muhammad Sebagai Rasul utusan Tuhannya tengah berseteru lantaran bendera yang bertuliskan kalimat tauhid dibakar oleh oknum-oknum yang mengaku merasa tidak sepakat terhadap gerakan yang mengancam ideologi bangsa dan ke- Bhinekaan ini. 

"Agama kurang diperkenalkan sebagai berita gembira dan janji cinta, melainkan sebagai tukang cambuk, pendera dan satpam yang otoriter." Inilah kritikan seorang Emha Ainun Najib salahsatu cendikiawan Nasional yang tidak pernah henti-hentinya menyerukan perdamaian dan rasa saling mencintai sebagai saudara sebangsa serta mengecam berbagai perseteruan yang mengatas namakan agama.

Dalam beberapa hari terakhir pasca kejadian ini dapat kita jumpai diskusi-diskusi di ruang akademik dan kemasyarakat tidak sedikit yang mengecam tindakan yang tidak terpuji yang telah dilakukan oleh oknum tadi. 

Merekalah barisan pembela kalimat "Tauhid" katanya. Disamping itu, tidak pula sedikit masyarakat yang mencaci ormas yang dianggap mengancam eksistensi ideologi bangsa yang plural ini sudah berani mengibarkan benderanya di bumi pertiwi.

Sementara itu, upaya penyelesaiannya pun kini semakin kehilangan arah dan cara. Masing-masing kubu yang mengaku bertuhankan Allah SWT dan mengakui Muhammad SAW sebagai Rasulnya malah berselisih dan berpecah belah. 

Sengketa kekhilafan oknum semakin meluas hingga tanpa disadari mereka telah berani menginjak-injak kitabnya dalam keadaan sadar dan terselimuti oleh ego primordialnya.

Lantas, apa yang bisa diharapkan jika fanatisme agama menjadi momok bagi kerukunan penganut dalam satu agama itu sendiri.

Perseteruan harus diselesaikan dengan bijak. Pemuda harus kembali memposisikan dirinya sebagai penengah bukan sebagai pelaku. 

Dengan semangat Sumpah Pemuda, Mari bersama kita ikat kembali jalinan ukhuwah kita yang kian semakin renggang. Kita pupuk kembali tenggang rasa kita. Kita lawan berbagai macam paham yang coba memecah belahkan Negeri kita.

Ir. Soekarno sang pendiri bangsa ini pernah berpesan; Negeri ini, Republik Indonesia, bukanlah milik suatu golongan, bukan milik suatu agama, bukan milik suatu kelompok etnis, bukan juga milik suatu adat-istiadat tertentu, tapi milik kita semua dari Sabang sampai Merauke!

Indonesia adalah warisan dari pendahulu, penerus yang baik mestilah selalu menjaga kemurnian amanah mereka. Berlandaskan Bhineka Tunggal Ika, kita bawa nama besar bangsa kita hingga tiba ke puncak yang agung. Anda pemuda, mereka pemuda dan demi Tuhan saya juga Pemuda. (*)

 

*Penulis, Damanhury Jab, Koordinator Forum Pemuda Ora Terhormat Blas FPOTB Malang

Jurnalis :
Editor : Yatimul Ainun
Publisher : Rizal Dani

Komentar

Registration