Kamis, 19 September 2019
Kopi TIMES Kolom Abdul Adzim Irsyad *

Bendera HTI Membawa Gaduh, Tahlil NU Bikin Teduh

Bendera HTI Membawa Gaduh, Tahlil NU Bikin Teduh Abdul Adzim Irsyad (FOTO: Dok. TIMES Indonesia)
Sabtu, 27 Oktober 2018 - 21:35

Sampai kapan-pun, HTI yang telah dibubarkan tidak akan terima dengan kondisinya sekarang ini. Mereka akan melakukan perlawanan dengan cara apa-pun. Sampai kapan-pun, HTI tidak akan menerima bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia, karena HTI hanya yakin dengan "Khilafah Islamiyah". 

HTI juga tidak akan mau hormat bendera merah putih, karena itu merupakan kesyirikan. Pancasila juga di anggab sebagai berhala, sehingga mereka akan berusaha merubah Pancasila dengan Khilafah Islamiyah yang mereka yakini.

NU satu-satunya organisasi yang menentang HT, juga melawan gerakannya, juga mendukung pembubaran nya. Setelah sekian lama tiarap, terpancing dengan pembakaran bendera HT yang dibakar dengan spontanitas. Respon dari orang-orang yang mengecam NU, dan meminta membubarkan Banser adalah orang yang sakit hati terhadap NU. Tujuan utamanya adalah kebencian terhadap NU, karena NU merupakan pilar utama Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Bagi NU, untuk mengumpulkan warganya dari seluruh Nusantara untuk demonstrasi tandingan, itu perkara gampang. Bukan satu juta, namun bisa puluhan juta dalam waktu yang sama. Warga NU sudah terbiasa menghadapi tuduhan syirik, bidah, sesat dari lawan-lawan politik. Terbukti, lawan-lawan itu akhirnya lenyap begitu saja. 

Itu karena tujuan berdirinya NU untuk menyatukan visi dan misi para Kyai dan Habaib dalam masalah akidah, syariah dalam sebuah Negara yang aman. Di dalam Jamiyah NU, terdiri dari para Kyai, Habaib, mereka sepakat menjaga keutuhan NKRI dan ke Kebinekaan. Penyusupan HT pada acara Hari Santri Nasional menjadi momentum penting untuk menyatukan kekuatan NU. Organisasi yang didirikan para Habaib, Kyai akan semakin kuat, kokoh.  

Nah, tanggal 28 Oktober 2018, akan diadakan Istighosah Kubra di Sidoarjo. Ini akan menjadi bukti nyata bahwa NU tetap kuat, kokoh, kuat, eksis. Semua akan mengibarkan merah putih, bukan mengibarkan bendera Tauhid Ala Hizbu Tahrir. Walaupun tidak mengibarkan bendera Tauhid, namun jutaan warga NU akan menggemakan Kalimat Tauhid, Tahmid, Tasbih dan sholawatan  kepada Rosulullah SAW di Sidoarjo. Itulah bedanya HTI dan NU yang di dirikan para kekasih Allah SWT.

Bagi warga NU, ketika Kalimah Tauhid yang keluar dari lisan, akan membuat damai dan tenang jiwa, keteduhan, dan kedamaian, karena itu meng-agungkan Allah SWT. Sedangkan ketika bendera HTI diangkat dan dikibarkan, maka muncullah kegaduhan dan kadang juga cacian. Itulah bedanya Kalimah Tauhid yang keluar dari lisan dan hati, atas dasar iman dan cinta kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW, sementara bendera Hizbu Tahrir berkibar atas dasar politik dan haus kekuasaan. (*)

 

Abdul Adzim Irsyad adalah pengajar di Unisma Malang.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

Jurnalis :
Editor : Deasy Mayasari
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan

Komentar

Registration