Rabu, 21 November 2018
Entertainment

Membumikan Pancasila di Wellington Lewat Film "LIMA"

Membumikan Pancasila di Wellington Lewat Film Tantowi Yahya dan Lola Amaria saat diskusi untuk mengawali pemutaran film LIMA di Ruang Bali di Kedutaan Besar RI (KBRI) Wellington di Selandia Baru, Jumat, 26/10/2018) malam. (Foto: Tantowi Yahya For TIMES Indonesia)
Sabtu, 27 Oktober 2018 - 10:35

TIMESINDONESIA, WELLINGTON – Ruang Bali di Kedutaan Besar RI (KBRI) Wellington di Selandia Baru, penuh sesak dengan warga, Jumat, 26/10/2018) malam. Mereka antusias untuk nonton bersama (nobar) pemutaran film LIMA. Sambil menunggu matahari musim semi tenggelam di Wellington, mereka menunggu nobar dengan menjawab quiz yang dilontarkan MC.

Duta Besar Indonesia untuk Selandia baru, Tantowi Yahya dan Lola Amaria selaku sutradara dan produser mengawali pemutaran film dengan diskusi singkat mengenai alasan mengangkat tema Pancasila dalam film.

"Pancasila adalah guiding principle yang magis karena mampu menyatukan Indonesia yang sangat beragam," kata Dubes Tantowi Yahya dalam sambutannya, Jum'at (26/10/2018).

Film-LIMA.jpg

Tantowi berharap pemutaran film ini dapat membumikan Pancasila sebagai ideologi negara kepada seluruh rakyat Indonesia serta membakar rasa nasionalisme di hati para diaspora Indonesia di Selandia Baru.

Dalam kesempatan yang sama, Lola Amaria mengatakan Selandia Baru adalah negara kelima untuk pemutaran film LIMA.

Wellington adalah kota ke-2 di Selandia Baru yang dikunjungi oleh tim Lola Amaria Production setelah sebelumnya sukses ditayangkan di Christchurch dan selanjutnya dijadwalkan untuk diputar di Auckland.

Film-LIMA-a.jpg

"Setelah menonton film ini, penonton dapat pulang dengan membawa pandangan yang positif tentang toleransi, kebhinnekaan dan semakin memperkuat semangat kebangsaan," Lola berharap.

Lola menjelaskan, film LIMA ini unik. Dikerjakan oleh 5 (lima) sutradara yaitu: Lola Amaria, Shalahuddin Siregar, Tika Pramesti, Adriyanto Dewo dan Harvan Agustriansyah yang masing-masing menggarap setiap Sila dan kemudian disatukan menjadi plot cerita utuh yang indah. 

"Film ini mengangkat kisah mengenai pentingnya toleransi dan kebhinekaan yang saat ini terancam dengan nilai-nilai chauvinistik terhadap golongan, ras atau agama tertentu," ungkap Lola.

Film-LIMA-Cover-Kecil.jpgKlik Untuk Memperbesar Foto

Film yang berdurasi 110 menit ini ingin memberikan pesan bahwa Pancasila, terutama sila ke-3 Persatuan Indonesia, tidak akan terberangus dalam kehidupan bermasyarakat di Indonesia.

KBRI, Tantowi menambahkan, dan masyarakat Indonesia di Wellington merasa beruntung dengan kedatangan seorang sineas muda yang idealis dan kreatif seperti Lola Amaria.

Dia juga berharap, film ini dapat membumikan Pancasila sebagai ideologi negara kepada seluruh rakyat Indonesia serta membakar rasa nasionalisme di hati para diaspora Indonesia di Selandia Baru.

Dan penonton yang hadir dalam pemutaran film LIMA ini terlihat sangat mengapresiasi film ini. "KBRI Wellington tentunya akan terus memfasilitasi kegiatan-kegiatan serupa yang bertujuan untuk memupuk rasa kebangsaan serta persatuan di tengah kebhinnekaan bagi seluruh WNI yang berada di Selandia Baru. Selain itu tentunya untuk mendukung kemajuan perfilman Indonesia yang berkualitas," ujar Tantowi Yahya. (*)

Jurnalis :
Editor : Faizal R Arief
Publisher : Sholihin Nur
Sumber : TIMES Jakarta

Komentar

Registration