Peristiwa - Daerah

Wayang Kautaman Tampilkan Lakon Smaratapa di Gedung Cak Durasim

Wayang Kautaman Tampilkan Lakon Smaratapa di Gedung Cak Durasim Wayang Orang Kautaman, akan menyuguhkan kisah epic Smaratapa bagi masyarakat Surabaya di Gedung Cak Durasim, Jumat (27/10/2018).(Foto: Lely Yuana/TIMES Indonesia)
Sabtu, 27 Oktober 2018 - 10:09

TIMESINDONESIA, SURABAYA – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur melalui UPT Taman Budaya Jatim menggelar pertunjukan Wayang Orang Kautaman dari Jakarta, mulai Sabtu (27/10/2018) dan Minggu (28/10/2018) esok. Usai membuat tiga karya spektakuler sebelumnya, karya keempat yang akan tampil hari ini di Surabaya mengangkat kisah epic Smaratapa.

“Tiga tahun berturut - turut, Wayang Kautaman menggelar wayang orang dengan mengambil cerita dari seri Mahabarata,” terang sang produser, Ira Surono, Jumat (27/10/2018) saat menggelar konferensi pers.

Smaratapa merupakan Ramayana versi Wayang Kautaman. Smara yang bermakna asmara dan Tapa memiliki arti pertapaan, menggabungkan sebuah pertapaan cinta yang luas. Semua tokoh yang terlibat dalam cerita Ramayana bergerak atas nama cinta.

“Benang merahnya mereka sedang melakukan pertapaan jalan cinta mereka masing - masing,” jelas sang sutradara, Nanang Hape.

Kisah diawali dari kesedihan Rama yang tiada habis semenjak Sinta diculik Dasamuka dari Hutan Dandaka. Belasan tahun sesudah peristiwa itu terjadi, Anoman dipilih untuk berangkat ke Dasamuka guna memastikan keadaan Sinta sekaligus menakar kekuatan pasukan Alengka. Anoman membuat keributan di Taman Soka, tempat Sinta dikurung. Lalu membakar istana megah Dasamuka hingga tersisa seperempatnya saja. 

Sampai pada puncaknya, peperangan besar pecah. Pada puncak pertaruhan itu, Ramawijaya dan Dasamuka meluapkan segenap indra, terkepung dalam lingkaran pertarungan yang tak juga usai, demi cinta atau entah apa.

Pagelaran ini lebih menitik beratkan pada penggarapan tari, kostum, dan artistik yang berbeda. Kostum yang dikenakan akan lebih sederhana untuk mendukung karakter cerita namun tetap berkelas. Tak ketinggalan, penggunaan batik tulis hasil karya anak bangsa. Kostum cukup mendapat perhatian serius dari Ali Marsudi, penata busana. 

Tangan dingin Ali Marsudi tidak perlu diragukan lagi. Dikenal sebagai ‘Arjuna’nya Indonesia, Duta Seni ini cukup sering terlibat dalam beberapa kelompok yang menggelar seni budaya, khususnya wayang orang ke manca negara. Dan sejak 2015 - 2017, Ali mulai didapuk sebagai penata busana di Kautaman bersama sang istri tercinta, Hendawati.

Dalam kondisi prihatin atas minimnya apresiasi masyarakat terhadap kelestarian pertunjukan wayang orang, Wayang Kautaman membuktikan kegigihan, tak henti berkarya menghadirkan wayang berkualitas dan bernilai seni. 

“Wayang Kautaman merupakan wadah untuk seniman yang memiliki visi misi menghasilkan sebuah karya kreatif dengan sentuhan modern tanpa meninggalkan pakem yang telah ada,” sambung Nanang Hape, diamini oleh yang lain. Dalam gagasannya, Kautaman akan terus beruapnya mewariskan seni tradisi ini kepada generasi muda, meruang waktukan pertunjukan wayang orang agar dinikmati oleh generasi millenial.

“Ini bukanlah goal, tapi sebuah titik pijak membuat karya selanjutnya,” sambung Nanang.

Sementara itu, kegiatan yang dilaksanakan di Gedung Kesenian Cak Durasim tersebut sekaligus memberikan penghargaan kepada para seniman Jatim atas dedikasi mereka mengembangkan kreatifitas di dunia seni budaya.

Di antaranya penyerahan piagam penghargaan Gubernur sekaligus uang pembinaan senilai Rp 15.000.000,00. untuk sepuluh seniman. Serta penyerahan sertifikat penetapan Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia kepada 8 karya budaya, meliputi  celurit dari Madura, Rawon Nguling dari Kabupaten Probolinggo, Topeng Jatidhuwur dari Kabupaten Jombang, Wayang Thengul dari Kabupaten Bojonegoro, Sandhy dari Kabupaten Bojonegoro dan Tuban, Reog Cemandi dari Kabupaten Sidoarjo, Jangee dari Kabupaten Banyuwangi, dan Manten Kucing dari Kabupaten Tulungagung. (*)

Jurnalis : Lely Yuana
Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher : Sholihin Nur
Sumber : TIMES Surabaya

Komentar

Loading...
Registration