Minggu, 16 Desember 2018
Peristiwa - Nasional

Lima Jurnalis TV Peliput Gempa dan Tsunami di Sulteng Terima Penghargaan

Lima Jurnalis TV Peliput Gempa dan Tsunami di Sulteng Terima Penghargaan Gempa Donggala dan Palu Sulteng (FOTO: Twitter/@bagjasatiya)
Jum'at, 12 Oktober 2018 - 14:57

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Lima jurnalis televisi di Palu, Sulawesi Tengah, yang meliput peristiwa gempa dan tsunami mendapat penghargaan atas dedikasi dan kemanusiaannya. Penghargaan diberikan Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) setelah mencermati dan mempelajari kisahnya.

Kelima jurnalis TV tersebut adalah Abdy Mary (TV One), Ody Rahman (NET), Rolis Muhlis (Kompas TV), Ary Al-Abassy (TVRI), dan Jemmy Hendrik (Radar TV).

piagampenghargaanijti3.jpg(FOTO: Istimewa)

Saat itu, Jumat (28/9/2018) sekitar pukul 15.00 WITA, kelima jurnalis itu turun dari Kota Palu menuju Kecamatan Sirenja, Donggala. Mereka akan meliput dampak gempa 5,9 SR yang terjadi satu jam sebelumnya. Kabarnya, ada korban meninggal akibat tertimpa bangunan yang ambruk.

Jarak dari Palu ke Sirenja di Pantai Barat biasanya dua jam perjalanan menyusuri sisi utara teluk. Mereka bermobil dengan kapasitas tempat duduk tujuh penumpang. 

Satu jam perjalanan, dekat Pelabuhan Pantoloan menjelang perbatasan Palu-Donggala, pemandangan laut terlihat indah seperti biasanya. Namun, tiba-tiba, mereka merasakan gempa yang sangat kuat. 

"Saya langsung tarik rem tangan, mobil berhenti di tengah jalan. Kami lihat hampir semua pengendara motor di sekitar kami berjatuhan," tutur Ody yang mengemudikan mobil.

Mereka langsung turun dan merekam semua peristiwa dengan telepon genggam masing-masing. Ada yang sambil menolong orang-orang yang terjatuh. 

Tiba-tiba terjadi lagi gempa. Ketika mereka melihat ke laut, tampak gelombang tinggi bergerak cepat ke arah mereka. Mereka terpana. Jemmy Hendrik berteriak, "Itu tsunami!"

Teriakan Jemmy menyadarkan mereka dan semua orang yang mendengar. Ada bahaya besar di depan mata. Orang-orang panik, berteriak-teriak. Mereka pun ikut berteriak sekeras-kerasnya memperingatkan semua orang. 

"Lari, lari, tsunami, tsunami..! Kami langsung masuk mobil dan putar balik," cerita Abdy. 

Dia menuturkan, banyak melihat orang yang berlari ke sana ke mari. "Kami buka pintu dan menarik beberapa masuk. Sampai tak ada lagi yang bisa masuk. Ibu-ibu, nenek-nenek, anak-anak, semua histeris dan menangis di dalam mobil yang sesak. Ketakutan dan tercekam. Sampai di ketinggian yang kami anggap aman, mobil saya hentikan," kata Ody.

"Kami semua keluar. Saya hitung-hitung, ada duabelas orang yang ikut kami. Total 17 dalam mobil yang hanya untuk 8 orang termasuk pengemudi. Saya tidak tahu bagaimana bisa muat sebanyak itu," cerita Abdy.

Meskipun panik karena tak bisa menghubungi keluarga, mereka masih bisa menolong warga yang ketakutan.

Setelah memastikan berada di lokasi yang aman, mereka melihat ke arah tempat tadi berhenti di dekat Pelabuhan Pantoloan. "Sudah rata dengan tanah. Rumah-rumah hancur dan berpindah tempat. Perahu dan kapal melintang di jalan. Di mana-mana terlihat penuh puing," tutur Abdy.

Jurnalis :
Editor : Ferry Agusta Satrio
Publisher : Rizal Dani
Sumber : Press Rilis

Komentar

Registration