Selasa, 23 Oktober 2018
Peristiwa - Nasional

Demi Kedamaian Indonesia, JCC Minta Jokowi-Prabowo segera Bertemu

Demi Kedamaian Indonesia, JCC Minta Jokowi-Prabowo segera Bertemu Chairman John Caine Center (JCC), Najib Attamimi (FOTO: Dokumen TIMES Indonesia)
Kamis, 11 Oktober 2018 - 11:08

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Rakyat Indonesia rindu dan cinta akan kedamaian terus tercipta di Indonesia. Terutama di tahun politik, yang tak lama lagi akan melaksanakan pesta rakyat, berupa Pemilihan legislatif dan pemilihan Presiden 2019. Demi terciptakan kedamaian Indonesia, kedua calon Presiden, Jokowi dan Prabowo, diharapkan segera bertemu.

Bencana alam sudah terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Usai gempa di Donggala dan Palu, kini gempa terjadi di Kabupaten Situbondo, Madura dan sekitarnya, tiga korban meninggal dunia di Pulau Sepudi, Kabupaten Sumenep Madura.

Selain bencana alam, Indonesia juga sedang dilanda bencana informasi hoaks atau kabar bohong, fitnah, saling menyalahkan antar sesama. Jelang Pipres 2019, masing-masing kubu atau tim pemenangan Capres-Cawapres saling hujat dan perang informasi hoaks.

“Kondisi ini melanda negeri ini. Republik ini sedang menangis karena banyak pihak yang sudah tidak mau mengindahkan Indonesia. Petinggi negara banyak yang sibuk ngurus dan menyoal kasus Ratna Sarumpaet. Ini sudah cukup tragis dan memilukan,” jelas Chairman John Caine Center (JCC), Najib Attamimi, Kamis (11/10/2018).

Seharusnya, para petinggi negara, politisi, tim sukses, tim kampanye Capres-Cawapres, penegak hukum dan lainnya, tidak hanya sibuk ngurus kasus kecil seperti kasus Ratna Sarupaet. “Kasus Ratna itu jangan diperpanjang, dipolitisir. Jika sudah terbukti hoaks, silahkan proses secara hukum,” tegas Najib.

Tim Kampanye dan Capres-Cawapres jelas Najib, seharusnya fokus pada apa program yang akan diusung dan untuk rakyat Indonesia. Membahas bagaimana cara dan strategi melahirkan kampanye damai, santun dan edukatif. Hal itu yang harus dikedepankan oleh kedua Capres-Cawapres.

“Padahal kedua Capres-Cawapres sudah ada pakta integritas, sudah deklarasi kampanye damai dan santun di depan rakyat Indonesia. Tapi buktinya masih nihil dan hanya kepalsuan belaka. Hanya janji, ketoprak dan komitmen palsu semata,” kritik pedas Najib.

Kedua Capres-Cawapres harap Najib, harus mengedukasi tim masing-masing dalam berkampanye. Baik di dunia nyata maupun penyebaran informasi di dunia maya.

Najib mengaku heran, mengapa saat ada kasus Ratna Sarumpaet, semua pihak bangkit menyikapi dan menyoalnya. Penegak hukum secepat kilat mengusutnya. Sementara, saat kasus mahar politik yang diduga dilakukan salah satu kubu Capres-Cawapres, penegak hukum diam membisu.

Banyak pelaku penyebar hoaks, fitnah dan kasus lainnya, penegak hukum tidak secepat kilat mengusutnya hingga tuntas. “Ini ada apa? Dan mengapa terjadi demikian? Saat Ratna mencaci maki Luhut Binsar Panjaitan, soal pencarian korban Kapal Motor Sinar Bangun dihentikan atau tidak. semua pada diam, padahal Luhut itu menjalankan tugas negara,” terangnya.

Penegak hukum katanya, harus tegas menindak pelaku persekusi, penyebar hoaks dan pembuat kekacauan di negeri ini. “Jangan tebang pilih. Siapapun dan dari kubu manapun, jika salah, tindak dengan tegas,” katanya.

Selain itu, Najib juga meminta para Menteri dan pejabat negara juga harus bekerja secara profesional dan tidak memihak pada salah satu Capres-Cawapres. “Karena para Menteri itu menjalankan tugas negara dan menjalankan program negara bukan menjalankan program Capres-Cawapres,” urai Najib.

Dua figur calon presiden katanya, seharusnya fokus pada program yang diusungnya. Bukan malah menyikapi hal sepele yang tidak menguntungkan pada negara dan rakyat. Para calon harus sibuk menawarkan programnya pada rakyat.

“Saya sangat respek kepada kedua Calon Presiden. Baik Jokowi dan Prabowo. Karenanya, kedua figur itu, harus segera kembali bertemu untuk membicarakan banyak hal untuk menata kedamaian Indonesia. Menunjukkan ke publik bahwa keduanya komitmen untuk membangun Indonesia, yang damai, ramah dan siap berkampanye santun dan edukatif,” pungkasnya.(*)

Jurnalis : Imadudin Muhammad
Editor : Yatimul Ainun
Publisher : Sholihin Nur

Komentar

Registration