Kamis, 15 November 2018
Ekonomi

Soal Impor Beras, Mendag: Itu Keputusan Rakor

Soal Impor Beras, Mendag: Itu Keputusan Rakor Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita (FOTO: Alfi Dimyati/TIMES Indonesia)
Sabtu, 15 September 2018 - 00:01

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Menteri Perdagangan RI (Mendag RI), Enggartiasto Lukita mengungkapkan impor beras sebanyak dua juta ton pada tahun ini, diputuskan secara bersama dalam Rapat Koordinasi (Rakor) yang dipimpin oleh Wakil Presiden, Jusuf Kalla (JK).

Selain JK, dalam Rakor itu juga melibatkan Menko Perekonomian, Darmin Nasution, Menteri Pertanian, Amran Sulaiman, Deputi Kementerian BUMN dan Pimpinan Bulog serta dirinya.

"Rakor Menko Perekonomian dipimpin oleh pak Darmin Nasution. Dihadiri oleh Mentan, Mendag, Dirut Bulog dan Deputi Kementerian BUMN," katanya di Bandung, Jumat (14/9/2018).

Dia menjelaskan, alasan dibukanya kran impor lantaran saat itu stok beras di pasar Cipinang dan Gudang Bulog mengalami kekosongan.

"Dipimpin Pak Wapres sendiri adalah lihat stok gula dan beras di Cipinang, Kalau Bulog di bawah 1 juta ton dan kenaikannya lebih 10% (kenaikan harga) maka ini gawat maka berarti stok beras berada pada posisi rawan. Itu disampaikan pak Wapres dan diterima. Disitu ada pak Mentan juga. Stok menurun Januari kita rakor," kata dia.

Untuk gelombang pertama, keputusan impor ditetapkan pada bulan Januari dengan jumlah 500 Ton.

"Berproseslah masuk secara bertahap dan kalo bulan Februari beras impor. Eks impor tidak masuk dan pada bulan Januari terjadi defisit Bulog. (Pemerintah) Ada kewajiban Rastra 350 ribu ton. Bulog harus mengeluarkan 350 ribu ton per bulan Februari. Beras yang ada di Bulog eks dalam negeri 260 ribu ton. Minus 9 April 100 ribu ton. Beras masuk dari impor 250 ton," katanya.

Jadi, kata dia, apabila tidak ada impor maka pemerintah melalui Bulog akan mengalami defisit beras.

Dia mengklaim, berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk memenuhi kewajiban rastra seperti operasi pasar dan berkeliling ke gudang-gudang penyimpanan beras milik Bulog dan Perpadi. "Kita operasi pasar. Kita keliling bahwa kosong (hasilnya), Bulog kosong, anggota Perpadi kosong (beras langka)," klaimnya.

Enggar menceritakan, dia terjun langsung ke berbagai daerah seperti di Cirebon dan Indramayu. Namun dalam lawatannya ke gudang - gudang penyimpanan itu, hasilnya nihil.

"Saya jalan dari Jakarta sampai ke Cirebon jalan darat melihat gudang tanpa kita atur. Itu gudang mana. Cuma saya tahu gudang mana ini Perpadi di Kabupaten Cirebon dan Indramayu di situ isinya hanya 1 ton atau 2 ton. di bawah 10 ton," katanya.

Kemudian untuk gelombang kedua yakni pada bulan Maret dengan jumlah 500 ribu ton. "Maret di evaluasi kembali oleh rakor maka diputus kan kembali menambah 500 ribu ton rakor yang sama," katanya.

Meski sudah diguyur impor hingga satu juta ton, namun, kata dia harga beras belum juga bisa distabilkan dan stok beras dianggap belum mencukupi kebutuhan masyarakat. Oleh karena itu pada pertengahan April, Rakor akhirnya memutuskan penambahan impor beras satu juta ton. "15 April situasinya melihat Rakor itu menetapkan menambah 1 juta. Jadi 2 ton," katanya.

Anak buah Ketua Umum Partai Nasdem, Surya Paloh ini menjelaskan bahwa Kemendag hanya melaksanakan keputusan hasil Rakor dengan memberikan penugasan ke Bulog. "Siapa yang memutuskan (impor)? itu, Rakor. Siapa yang melalukan impor? Sesuai prosedurnya Rakor memutuskan, saya selaku Mendag menulis surat menugaskan Bulog berdasarkan ketentuan berlaku," katanya.

Selanjutnya, kata dia, Bulog membuka tender terbuka yang dilakukan secara tender internasional melalui website Bulog.

Ditegaskan Mendag RI, website Bulog bisa diakses pebisnis seluruh dunia. Oleh karena itu pengusaha seperti dari Brasil, India, Pakistan, Thailand dan Vietnam bisa mengetahui dan mengikuti penawaran lelang impor beras tersebut. "Bulog di bawah siapa, Kementerian BUMN. (Jadi) saya cukup menugaskan. Karena ujungnya penugasan," kata Enggartisato Lukita. (*)

Jurnalis : Alfi Dimyati
Editor : Faizal R Arief
Publisher : Rizal Dani

Komentar

Registration