Selasa, 13 November 2018
Opini

Membudayakan Kembali Harmoni dengan Alam

Membudayakan Kembali Harmoni dengan Alam Sanusi, Pranata Humas Kebun Raya Purwodadi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. (Grafis: TIMES Indonesia)
Sabtu, 01 September 2018 - 03:17

TIMESINDONESIA, JAKARTABUMI kita sampai hari ini adalah satu-satunya planet yang bisa dipijak oleh manusia. Peradaban manusia di dalamnya sangat tergantung pada alam. Interaksi antar manusia dan begitupun manusia dengan lingkungannya membentuk sebuah budaya.

Perkembangan budaya ini pula tidak lepas dari peningkatan kecerdasan manusia. Pengetahuan manusia tentang mengelola sumber daya hayati terus meningkat seiring dengan peningkatan jumlah penduduk dunia. Hal ini tidak lepas dari ketergantungannya pada sumber daya alam.

Pendidikan-lingkungan.jpg

Bila ekosistem alam rusak maka kehidupan manusia pun akan terganggu. Berbagai bentuk kearifan lokal yang ditemukan di berbagai daerah menjadi sebuah bukti akan adanya harmoni antar budaya yang telah ada dengan alam.

Di pedalaman masyarakat sunda masih dapat ditemukan budaya "Pamali". Demikian juga di Banten, masyarakat Badui masih menjaga budaya "Pikukuh". Mengusik leuweng larangan (Hutan Lindung), apalagi menggunakan bahan kimia yang dapat merusak ekosistem alam merupakan suatu pelanggaran hukum adat.

Kearifan serupa masih dapat kita temukan dalam suku Sakai Riau. Suku Sakai masih menggunakan hukum adat dalam mengatur berladang dan mengelola hutan.
Di Kalimantan dapat kita temukan Sistem Usahatani Perladangan Gilir Balik.

Berabad-abad sebelum munculnya diskusi mengenai konservasi alam, masyarakat Dayak telah mengenal konsep konservasi dengan mencadangkan rimba lebat di lingkungan hidupnya dalam budaya berladang.  

Di Papua dan kepulauan Maluku, tercatat ada budaya Sasi. Kearifan ini merupakan tradisi menjaga kelestarian sumber daya. Pengelolaan dengan baik sumber daya dalam mengambil hasil laut.

Jurnalis : Sanusi (CR-89)
Editor : AJP-5 Editor Team
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan

Komentar

Registration