Minggu, 21 Oktober 2018
Peristiwa - Daerah

Desa Laren Ikrarkan diri Sebagai Desa Bina Lingkungan

Desa Laren Ikrarkan diri Sebagai Desa Bina Lingkungan Tim dari Unisla memberikan pelatihan pengolahan sampah di Desa Laren, Kecamatan Laren, Kabupaten Lamongan, Jumat, (10/8/2018). (FOTO: Ardiyanto/TIMES Indonesia)
Jum'at, 10 Agustus 2018 - 16:23

TIMESINDONESIA, LAMONGAN – Langkah nyata untuk menuntaskan persoalan sampah dilakukan di Desa Laren, Kecamatan Laren, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur (Jatim) untuk menuntaskan persoalan sampah. Desa Laren pun, mengikrarkan diri sebagai Desa Bina Lingkungan guna mengatasi masalah pencemaran lingkungan itu.

"Pemerintah Desa melalui Musrenbag, membuat program untuk mengatasi masalah tersebut. Hal pertama yang dilakukan adalah dengan membangun tempat pengolahan sampah,” kata Kepala Desa Laren, Wiwit Rudianto, Jumat (10/8/2018).

Unisla-a.jpg

Tak cukup itu, untuk memahami pengetahuan tentang pengolahan sampah, Desa Laren juga menggandeng mahasiswa Universitas Islam Lamongan (Unisla) yang sedang melaksanakan Kuliah Kerja Nyata Belajar Bersama Masyarakat (KKN-BBM) untuk memberikan pelatihan pengolahan sampah.

"Akan tetapi dalam proses pengoperasianya kita tidak bisa melakukan sendiri, sehingga kita meminta pendampingan dari Kampus Unisla,” ucap Wiwit.

Tim dari mahasiswa Prodi Kesehatan Lingkungan yang didampingi Dosen Mimatun Nasihah, yang sabar memberikan pelatihan pengolahan sampah ke masyarakat. “Ada 10 Kelompok yang ikut kegiatan pengolahan sampah,” ucap Mima.

Unisla-b.jpg

Mima membeberkan, sebelum melakukan pengolahan sampah, pertama-tama, mereka diminta memilah sampah organik dan anorganik. “Selanjutnya sampah anorganik dimasukan ke dalam mesin pencacah sampah,” ujarnya.

Langkah berikutnya, sampah yang sudah dicacah diberi decomposer (EM4). EM4 ini berperan dalam mendekomposisi sampah menjadi pupuk dan molase atau tetes tebu sebagai sumber energi bakteri decomposer untuk mempercepat proses pendokomposisian.

“EM4 dan molase dicampur dengan air dan ratakan di atas permukaan sampah hingga sampah menjadi lembek dan basah,” tutur Mima.

Tahap selanjutnya, sambung Mima, tumpukan sampah tersebut kemudian ditutup menggunakan terpal untuk proses pengomposan. “Proses pengomposan terjadi selama kurang lebih tiga minggu hingga satu bulan. Kemudian pupuk yang sudah jadi diayak dan kemudian dikemas lalu siap diaplikasikan ke lahan pertanian,” katanya.

Mima berharap, warga Desa Laren, bisa mengaplikasi dengan baik setelah mendapat pelatihan pengolahan sampah. “Semoga Desa Laren bisa menjadi desa percontohan dalam mengatasi masalah pencemaran lingkungan,” ucapnya.

Di tempat yang sama, Rektor Unisla, Bambang Eko Muldjono, mengatakan, kehadiran mahasiswa Unisla ini, menjadi bukti pengajaran dan penelitian, yang sudah kewajiban civitas akademika perguruan tinggi, dengan cara mengabdi kepada masyarakat.

“Selama 3 tahun ke depan, Unisla siap mendampingi Desa Laren dalam kegiatan pengolahan sampah,” ujar Rektor Universitas Islam Lamongan ini. (*)

Jurnalis : MFA Rohmatillah
Editor : Deasy Mayasari
Publisher : Sholihin Nur
Sumber : TIMES Lamongan

Komentar

Registration