Pendidikan

Tari Berburu SMAN 1 Marauke Tampil di PIRN XVII

Tari Berburu SMAN 1 Marauke Tampil di PIRN XVII Peserta PIRN ke XVII dari SMN 1 Kabupaten Marauke saat menampilkan tari Berburu (FOTO: Sinnangga Angga/TIMES Indonesia)
Sabtu, 14 Juli 2018 - 12:18

TIMESINDONESIA, PURBALINGGA – SMAN1 Kabupaten Marauke, Irian Jaya menyajikan tarian Berburu, di acara Perkemahan Ilmiah Remaja Nasional (PIRNXVII 2018 yang diselenggarakan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bekerjasama dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah.

Tarian Berburu dari SMAN 1 Kabupaten Marauke ini, tampil pada acara Pentas Seni yang digelar di SMKN 3 Purbalingga, Jumat (13/7/2018) malam.

Faustina Rosalia, salah satu peserta PIRN Ke XVII dari SMAN 1 Kabupaten Marauke, yang turut tampil, mengatakan penampilan tarian tradisional khas tanah Papua yaitu tari Berburu bertujuan untuk mengenalkan kepada khalayak tentang seni, budaya dan tradisi dari daerah kelahirannya.

“Secara umum tarian Berburu merupakan tarian tradisional Papua, tapi masing-masing daerah di Papua memiliki ciri khas tersendiri. Sedangkan yang kami sajikan kali ini adalah tarian Berburu versi Kabupaten Marauke agar kesenian tradisional Marauke dikenal banyak orang di Negara ini,” katanya kepada TIMES Indonesia (timesindonesia.co.id) di PIRN, (14/7/2018).

Faustina menjelaskan, tarian Berburu merupakan tarian yang menceritakan tentang adat atau kebiasaan masyarakat Papua yang gemar berburu binatang di hutan. Pada musim berburu kaum lelaki di Papua semuanya pergi ke hutan untuk berburu, sementara kaum wanitanya bekerja di rumah.

“Berburu itu bukan pekerjaan setiap hari, karena masyarakatnya lebih banyak bekerja sebagai nelayan. Tapi jika musim melaut sedang berhenti kaum lelaki di Marauke melakukan perburuan ke hutan,” jelasnya.

Faustina juga mengungkapkan dalam keikutsertaaannya di PIRN ke XVII 2018 di Kabupaten Purbalingga, dirinya beserta 3 teman lainya yaitu Trisna Ambarwarti, Evanyulius Yustirius dan Westina Yambi Manou dari kelas 12 SMAN 1 Kabupaten Marauke bertugas meneliti dan mempelajari pembuatan kerajinan kain batik di Kabupaten Purbalingga.

“Kami berempat ditugaskan melakukan penelitian tentang batik di daerah sini, karena di daerah kami tidak ada batik. Dan saya juga senang karena bisa mempelajari bukan saja tentang batik tapi juga sejarah Kabupaten Purbalingga,” ungkapnya.

Menurut Faustina pembuatan kerajinan kain batik di Kabupaten Purbalingga hampir memiliki kemiripan dengan tekstur lukisan badan yang sudah menjadi tradisi dan budaya masyarakat Papua ketika melakukan pertunjukan kesenian tradisional, utamanya adalah kesenian tari.

“Pada setiap pagelaran upacara adat, selamatan atau menyambut penerimaan tamu pasti akan disajikan tarian tradisional Berburu. Sebelumnya tubuh penarinya harus terlebih dahulu dilukis seperti lukisan batik,” ujarnya.

Faustina kembali mengungkapkan di samping mendapat tugas untuk meneliti dan belajar cara pembuatan kain batik, secara pribadi dirinya juga ingin bercerita kepada teman-teman PIRN tentang keberadaan daerahnya serta budaya dan tradisinya. 

“Saya ingin mengatakan kepada teman-teman kalau Kabupaten Marauake tidak seperti yang mereka bayangkan, sebagai daerah terpencil yang mungkin dipandang belum maju. Sekarang Kabupaten Marauke sudah maju,” ungkapnya.

Faustina menambahkan, Kabupaten Marauke merupakan daerah yang tidak memiliki dataran tinggi, namun daerah dataran rendah yang dikelilingi pantai.

Pembangunan gedung-gedung dan jalan sudah maju dan bagus, bahkan Kabupaten Marauke sudah memiliki bandara yang memudahkan transportasi dan memudahkan masyarakat untuk perkembangan dan maju.

Kabupaten Marauke sekarang sudah maju, sudah menjadi kota besar dan ramai. Bahkan menurut saya Kota Marauke lebih besar dibanding kota Purbalingga,” tambahnya usai tampil di acara pentas seni PIRN XVII 2018 itu. (*)

Jurnalis : Sinnangga Angga
Editor : Faizal R Arief
Publisher : Rochmat Shobirin
Sumber : Purbalingga TIMES

Komentar

Registration