Sabtu, 17 November 2018
Glutera News

Pencari Jalan atau Pencari Alasan, Anda Termasuk yang Mana?

Pencari Jalan atau Pencari Alasan, Anda Termasuk yang Mana? Image: Glutera
Sabtu, 14 Juli 2018 - 10:58

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Umumnya orang mencari alasan karena takut mendapatkan dampak buruknya. Akibatnya kita cenderung mencari-cari alasan bahkan cenderung berbohong.

“Ketika ada niat akan mencari jalan, ketika tidak ada niat akan mencari alasan!”

Di dunia ini kita mengenal orang-orang yang mencari alasan (excuser) serta orang-orang yang mencari jalan keluar (problem solver). Seorang excuser, selalu saja ada alasannya mengapa dia melakukan ataupun tidak melakukan sesuatu. Sementara itu, seorang problem solver, selalu mencari solusi dan kalaupun belum ketemu, akhirnya dia akan berusaha mencarinya!

Keduanya, diibaratkan dengan kisah ini.
Ada dua penjelajah yang memutuskan untuk melakukan perjalanan yang jauh. Keduanya sama-sama sudah siap. Namun, hingga sore hari dan keesokan harinya, yang satu telah berjalan dan sudah melangkah jauh.

Sementara yang satunya lagi masih mikir-mikir soal apakah itu waktu yang tepat untuk melakukan perjalanan. Masih mikir soal apakah perbekalannya mencukupi atau tidak, dan lainnya. Hingga akhirnya, si pengelana kedua ini menunggu berhari-hari, kerena terus beralasan soal tidak siapnya dia untuk melakukan perjalanan itu.

Ilustrasi dua pengelana di atas, menggambarkan si pencari jalan serta pencari alasan. Dalam berbagai situasi, seorang pencari jalan akan mencari solusi. Bahkan dalam situasi dan pertanyaan yang sulit sekalipun, seorang yang terbiasa mencari jalan, akan berusaha menemukan jalan keluarnya.

Kenapa suka mencari alasan?
Pertama, umumnya orang mencari alasan karena takut mendapatkan dampak buruknya. Inilah hal yang kita pelajari sejak kecil. Akibatnya kita cenderung mencari-cari alasan bahkan cenderung berbohong.

Kedua, alasan dibuat untuk mencari pembenaran atas apa yang dilakukan. Misalkan saja seorang remaja memukul seorang pengunjung lain di sebuah diskotik. Lantas, dia ditanya mengapa memukulnya, jawabnya adalah, “Habis dia senggol saya duluan.”

Ketiga, alasan biasanya dibuat agar seseorang dapat dimaafkan ataupun diterima perilakunya. Misalkan, ketika seorang ibu marah karena anaknya seharian main terus, lantas anaknya berdalih, “Mama jangan marah lagi, kan adik main seharian karena olah raga demi badan sehat!”

Keempat, adalah karena tidak ada niat sama sekali, sehingga dibuatlah berbagai alasan. Misalkan saja, seorang karyawan ditanya mengapa tidak mengikuti suatu SOP (standard operating procedure) yang baru. Ternyata, dia beralasan, “Habis prosedurnya sulit dipahami Bu!"

Pada intinya, orang yang mau berusaha menjadi lebih baik selalu mencari jalan. Sedangkan orang yang mencari alasan biasanya mereka yang sering berbohong tentang suatu keadaan, meskipun ada yang mencari alasan karena sesuatu hal yang benar atau untuk membuktikan ia benar. (*)

Jurnalis :
Editor : Deasy Mayasari
Publisher : Rochmat Shobirin

Komentar

Registration