Peristiwa - Daerah

Para Jurnalis Ini Rela Tidur di Depan Rumah Warga Demi Berita Teroris

Para Jurnalis Ini Rela Tidur di Depan Rumah Warga Demi Berita Teroris Para jurnalis di Sidoarjo, rela tidur di depan rumah warga demi mendapatkan berita penyergapan terduga teroris yang dilakukan tim Densus 88 Mabes Polri, di sejumlah tempat di Kabupaten Sidoarjo. (FOTO: Rudy/ TIMES Indonesia)
Kamis, 17 Mei 2018 - 02:14

TIMESINDONESIA, SIDOARJOPara jurnalis di Sidoarjo, rela tidur di depan rumah warga demi mendapatkan berita penyergapan terduga teroris yang dilakukan tim Densus 88 Mabes Polri, di sejumlah tempat di Kabupaten Sidoarjo.

Para jurnalis yang bekerja meliput di kota Delta itu, harus rela lembur untuk mendapatkan update penyergapan terduga teroris oleh Densus 88.

Mereka rela meninggalkan rumah dan anak isterinya agar tidak ketinggalan berita penyergapan terduga teroris oleh Densus 88. Tak ayal sambil menunggu proses penyergapan, para jurnalis itu, harus menahan rasa ngantuk dan sesekali merebahkan badannya, di tempat yang mereka anggap nyaman, di depan rumah warga, yang tak jauh dari rumah penyergapan terduga teroris.

Diketahui, penyergapan terduga teroris itu terjadi di kawasan Perumahan AL Sugiwaras, Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo, Kamis (17/5/2019) dini hari.

"Sambil menunggu proses penyidikan terkait penyergapan Densus 88, kita istirahat sambil merebahkan badan disini," aku Nanang, jurnalis Merdeka.com.

Ia juga sambil mengumpulkan data untuk dijadikan tulisan. "Kita ketik berita penuh data dan fakta, supaya berita menjadi menarik dibaca masyarakat," katanya.

Nanang mengaku, saat mendapat informasi proses penyergapan terduga teroris oleh Densus 88, dirinya berada di rumahnya, dikawasan Pucang Kota Sidoarjo.

"Istri saya lagi hamil besar. Tadi saya di rumah menjaga istri. Dapat informasi ada penyergapan terduga teroris, saya langsung berangkat kesini. Karena sudah jadi tuntutan profesi. Istri sudah paham profesi saya yang sewaktu-waktu harus saya tinggal liputan seperti saat ini," aku Nanang berkisah.

Hal senada juga diungkapkan Ismail, jurnalis beritajatim.com. Menurutnya, pemberitaan penyergapan teroris dan aksi terorisme, merupakan peristiwa nasional yang sangat oleh publik. Karenanya, harus terus update beritanya.

"Peristiwa ini adalah berita nasional. Bahkan internasional. Kantor berita manapun dan juga masyarakat, pasti membutuhkan pemberitaan ini," kata bapak satu anak ini.

Ismail mengaku, bahwa profesinya sebagai jurnalis itu memang dituntut untuk terus memburu berita yang akurat dan fakta. Harus menyajikan fakta di lapangan agar terhindar dari berita hoaks atau berita bohong.

"Media saya media Online. Saya dituntut cepat menyajikan fakta di lapangan, agar berita yang saya sajikan sesuai fakta dan tidak hoaks. Terutama soal kasus terduga teroris. Kondisi apapun yang dialami jurnalis di lapangan, sudah menjadi konsekwensi profesi," tegasnya.(*)

Jurnalis : Rudi Mulya
Editor : Yatimul Ainun
Publisher : Sholihin Nur
Sumber : TIMES Sidoarjo

Komentar

Registration