Wisata

Ini Rasanya Naik Menara Tertinggi di Kota Batu

Ini Rasanya Naik Menara Tertinggi di Kota Batu Wisatawan bisa naik ke Menara Masjid Putih setinggi 54 meter ini untuk melihat pemandangan Kota Batu dari ketinggian. (FOTO: M Dhani Rahman/TIMES Indonesia)
Rabu, 11 Juli 2018 - 13:46

TIMESINDONESIA, BATU – Pernah merasakan berada di menara tertinggi di Kota Batu? Jika belum pernah datang saja ke Masjid Putih Darusshalihin di Jalan Soekarno, Kota Batu, Jawa Timur.

Masjid yang berada di jalan protokol Kota Batu ini memiliki menara setinggi sembilan lantai atau kurang lebih 54 meter.

Memang tidak begitu tinggi dibandingkan menara lain di Indonesia, namun di Kota Batu, menara Masjid yang juga akrab disebut Masjid dijual ini, diyakini merupakan menara atau banggunan tertinggi di Kota Batu.

TIMES Indonesia (timesindonesia.co.id) mendapatkan kesempatan bisa merasakan naik ke atas menara yang bisa digunakan untuk melihat seluruh sudut pemandangan di Kota Batu.

Begitu kaki menginjak di lantai tertinggi menara, lantai serasa membal, seolah bergerak, bergoyang mengikuti arah angin.

Alhamdulillah, arsitek masjid ini memasang cungkup di puncak menara, hingga siapa saja yang naik ke menara ini merasa aman dengan memegang atau memeluk sela sela tiang cungkup.

Bagaimana rasanya? Tentu sangat luar biasa. Tidak semua orang bisa merasakan sensasi berada di puncak menara masjid tertinggi di kota wisata ini.

Dari atas menara, kita bisa melihat hamparan pemandangan kota wisata yang sangat indah. Mulai Gunung Panderman yang berdiri kokoh dihiasi awan putih melayang di atasnya.

Di sisi utara terlihat jelas deretan pemukiman penduduk di Kecamatan Batu dan di Kecamatan Bumiaji.

Dari atas, pengunjung juga bisa melihat hamparan sawah di sekitar Gunung Wukir yang berada di belahan timur Kota Batu.

Siapa saja bisa naik ke menara Masjid ini, namun ada syaratnya, pertama tidak boleh memiliki kelainan jantung, kedua memiliki nyali dan ketiga paling penting mendapatkan izin dari takmir masjid. Itu pun tidak bisa dilakukan beramai-ramai, namun harus dibatasi.

“Wisatawan boleh naik ke menara, tapi harus dengan seizin dan didampingi takmir,“ ujar takmir Masjid Putih, Darusshalihin, Parno Muttaqien.

Butuh tenaga ekstra untuk bisa mencapai puncak menara ini, karena kita harus menaiki satu persatu dari 189 anak tangga. Artinya  pulang pergi kita harus menginjak 378 anak tangga.

Parno menjelaskan bahwa bangunan ini diarsiteki oleh H Hasan Jumain, owner Sate Kelinci Batu yang kini menjabat sebagai Ketua Yayasan Masjid Putih Darusshalihin.

Di Masjid ini dibangun sembilan kubah, sembilan lantai menara dan beberapa sarana prasarana Masjid yang berjumlah serba sembilan.

“Angka sembilan ini terinspirasi Wali Songo, lebih dalam arti kepemimpinan. Melihat bangunan ini, berisi pesan agar umat menjaga sembilan lubang di tubuh kita. Siapa yang bisa menjaga Insya Allah bahagia fiidunnya wal aqirah, “ ujar Parno.

Artinya mulut tidak digunakan untuk ghibah, telinga tidak digunakan untuk mendengarkan hal hal yang buruk dan bertentangan dengan nilai agama.

Masjid ini dibangun tahun 2009, kemudian selesai lima tahun kemudian yakni tahun 2014. Parno mengatakan menara masjid ini tidak untuk menaruh pengeras suara, namun lebih pada kelengkapan arsitektur bangunan.

“Simbol ini mengingatkan satu, hanya Allah SWT, “ ujar Parno sembari mengatakan bahwa Masjid Putih Darusshalihin di Jalan Soekarno, Kota Batu, Jawa Timur yang memiliki menara tertinggi ini dibangun menggunakan donasi dari 1848 orang. (*)

Jurnalis : Muhammad Dhani Rahman
Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan
Sumber : TIMES Batu

Komentar

Registration