Rabu, 14 November 2018
Peristiwa - Daerah

Antologi Puisi Timur Jawa: Balada Tanah Takat Wujud Ekspresi Penyair Lokal

Antologi Puisi Timur Jawa: Balada Tanah Takat Wujud Ekspresi Penyair Lokal Diskusi antologi puisi Timur Jawa: Balada Tanah Takat. (FOTO: Sofya/TIMES indonesia)
Minggu, 08 Juli 2018 - 15:41

TIMESINDONESIA, JEMBER – Pusat Pengembangan Literasi LP3M Universitas Jember bekerjasama dengan Forum Sastra Timur Jawa dan Komunitas Menulis (Komunlis) Probolinggo menyelenggarakan bedah buku antologi puisi "Timur Jawa: Balada Tanah Takat".

Salah satu narasumber diskusi, Siswanto menyampaikan bahwa tema dalam antologi puisi "Timur Jawa: Balada Tanah Takat" ini difokuskan pada tema sejarah, mitos, dan bentang alam. Tema-tema ini kata dia, memberikan satu kemungkinan dan harapan bagi para penyair agar mampu mengungkap khazanah kultural dalam konteks lokal masing-masing. 

"Wilayah Timur Jawa ini sangat kaya atas tema-tema tersebut. Penyair dapat mengangkat dan mengungkap tema sesuai dengan konteks dan lokalitasnya," kata Siswanto saat diskusi buku Timur Jawa: Balada Tanah Takat di Probolinggo, Minggu (8/7/2018).

Secara lebih khusus, Siswanto mengatakan antologi puisi ini menjadi media ekspresi manusia-manusia di Timur Jawa terutama yang hidup dan berkembang dalam bentangan wilayah Pasuruan sampai Banyuwangi.

"Manusia-manusia dengan ekspresi lokalitasnya mengekspresikan kegelisahan dan merayakan kebahagiaannya," katanya. 

Buku ini juga ia sebut sebagai sebuah artikulasi jujur bagi proses kreatif sastra, "Buku puisi ini merupakan wujud dari keterhubungan dan solidaritas manusia-manusia di Timur Jawa yang menyatakan diri dalam historisitas dan kultural yang kurang lebih sama," ujarnya. 

Sementara itu, Hadi Makmur selaku Koordinator Pusat Pengembangan Literasi dalam paparannya menyampaikan bahwa literasi sebagai bagian penting kebijakan negara perlu dilakukan secara kontinu dalam konteks membangun kebudayaan masyarakat yang literat.

"Oleh karena itu, secara lebih implementatif gerakan kebudayaan berbasis literasi ini perlu dilakukan secara membumi," kata Makmur.

Senada dengan itu, Akhmad Taufiq selaku ketua LP3M Universitas Jember, sekaligus kurator antologi puisi  Timur Jawa: Balada Tanah Takat menyampaikan bahwa gerakan literasi sebagai bagian gerakan kebudayaan bisa dilakukan oleh siapapun dan kelompok yang memiliki kepedulian atas gerakan literasi. 

Komunitas-komunitas literasi kata dia, memiliki fungsi strategis dan praktisnya di masyarakat.  

"Sehubungan dengan itu  antologi puisi ini merupakan bagian dari medium gerakan literasi ini," ucapnya. 

Diskusi Antologi Puisi Timur Jawa: Balada Tanah Takat yang dipandu oleh Jaka sebagai moderator dan sebagai pemantiknya Stebby Julionatan ini berjalan sangat meriah dan hidup. Moderator dengan joke-joke segar mampu menghidupkan suasana diskusi sedemikian rupa. (*)

Jurnalis : Aminatus Sofya
Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher : Rochmat Shobirin
Sumber : TIMES Jember

Komentar

Registration