Peristiwa - Daerah

Meski Beda Keyakinan, Warga Desa Kandangan Hidup Rukun Berdampingan

Meski Beda Keyakinan, Warga Desa Kandangan Hidup Rukun Berdampingan Masjid dan Gereja saling berdampingan (FOTO: Rizki Alfian/ TIMES Indonesia)
Sabtu, 09 Juni 2018 - 07:33

TIMESINDONESIA, BANYUWANGI – Krisis toleransi yang terjadi di beberapa wilayah di Indonesia belakangan ternyata tak berlaku di Desa Kandangan, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi.

Betapa tidak, desa yang berjarak kurang lebih 85 KM dari pusat kota Banyuwangi ini, ternyata merupakan wilayah yang memegang teguh kerukunan umat beragama yang telah terjalin sejak lama.

Hal tersebut dapat terlihat dari banyaknya tempat ibadah berbagai umat beda keyakinan yang tersebar di desa ini. Bahkan di salah satu sudut desa ada sebuah Masjid yang berdampingan dan hanya tersekat tembok dengan sebuah Gereja.

Sebut saja Masjid Jami’ Syuhada. Masjid ini berdampingan langsung dengan Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Jemaat Silirbaru Pepantihan Kandangan.

Bukan hanya itu saja, tak jauh dari lokasi, tempat peribadatan umat Buddha yakni Vihara Dhama Santi juga berdiri tegak di desa yang masuk wilayah KPH Banyuwangi Selatan ini.

Menurut Bu Munawaroh, Pengurus Masjid Jami' Syuhada, masyarakat Desa Kandangan selama ini sudah terbiasa hidup berdampingan dengan perbedaan keyakinan.

"Masyarakat di sini tak pernah mempermasalahkan adanya perbedaan keyakinan. Selama ini alhamdulilah hidup dengan damai, saling toleransi dan menghormati satu dengan yang lain," ujar Munawaroh kepada TIMES Indonesia (timesindonesia.co.id), Jumat (8/6/2018).

Sementara itu Jumani, Romo Pandita Vihara Dhamma Santi mengaku, kerukunan yang terjalin di lingkungan desa Kandangan nya karena rasa toleransi yang dimiliki masyarakat sangat tinggi. "Bahkan setiap perayaan hari raya tiba, warga tak sungkan saling berkunjung ke rumah masing-masing," tandas Jumani. (*)

Jurnalis : Rizky Alfian
Editor : Faizal R Arief
Publisher : Rochmat Shobirin

Komentar

Registration