Peristiwa - Daerah

Polisi Tembak Pengedar Narkoba di Bangkalan

Polisi Tembak Pengedar Narkoba di Bangkalan Kapolres Bangkalan AKBP Bobby Paludin Tambunan menginterogasi pengedar narkoba yang ditembak karena melawan petugas saat hendak ditangkap. (FOTO: Doni Heriyanto/TIMES Indonesia)
Selasa, 17 April 2018 - 15:57

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Mansur (44) warga Desa Banyubesi, Kecamatan Tragah Bangkalan, Madura, Jawa Timur harus merasakan panasnya ditembus peluru timah. Polisi terpaksa menembak pengedar narkoba itu, karena melakukan perlawanan untuk meloloskan diri ketika hendak ditangkap. 

Pengedar yang tergolong berani dan nekat itu, melawan anggota Satuan Reserse Narkoba (Satreskoba) Polres Bangkalan menggunakan senjata air softgun.

Tidak ingin mengambil resiko, polisi melumpuhkan betis kaki kanan tersangka dengan timah panas. 

"Karena tersangka melawan dan mengambil air softgunnya, kemudian petugas mengambil tindakan tegas terukur dengan menembak di tempat," kata Kapolres Bangkalan, AKBP Bobby Paludin Tambunan, saat pers rilis, Selasa (17/4/2018).

Mantan Kasubdit III Jatanras Polda Jawa Timur ini menjelaskan, penggerebekan di rumah tersangka merupakan bagian dari Operasi Tumpas Narkoba Semeru 2018 yang dimulai sejak 13 April hingga 24 April. Selama empat hari terakhir, sebanyak 10 kasus penyalahgunaan narkoba berhasil diungkap. 

"Tersangka yang ditangkap secara keseluruhan berjumlah 18 orang. Total barang bukti sabu-sabu yang diamankan seberat 40,02 gram," imbuhnya. 

Bobby mengaku sangat prihatin dengan tingginya jumlah kasus peredaran obat-obatan terlarang tersebut. Terlebih, hanya dalam jangka waktu empat hari, pihaknya telah meringkus belasan tersangka dari beberapa tempat kejadian perkara (TKP) yang berbeda. 

"Rinciannya, Polres Bangkalan mengungkap kasus narkoba di 7 TKP, Polsek Kamal 2 TKP dan Polsek Sukolilo 1 TKP," ucapnya. 

Perwira kelahiran Padang Sidempuan, Sumatera Utara itu menuturkan, tugas utama ke depan melakukan penanggkapan hingga level bandar, tidak hanya tingkat pengguna maupun pengedar saja.

Tentunya, hal itu bukan perkara yang mudah, dan membutuhkan strategi khusus.

"Pengembangan di lapangan tidak semudah yang dibayangkan. Mereka menggunakan pola-pola yang sudah diprediksi sulit untuk dilakukan penangkapan," tandasnya. (*)

Jurnalis : Doni Heriyanto
Editor : Yatimul Ainun
Publisher : Sholihin Nur
Sumber : TIMES Madura

Komentar

Registration