Selasa, 13 November 2018
Peristiwa - Daerah

Unik, Tiap Tanggal 1, Pegawai Pemkot Blitar Pakai Baju Djadoel

Unik, Tiap Tanggal 1, Pegawai Pemkot Blitar Pakai Baju Djadoel ASN melaksanakan apel dengan memakai baju djadoel, Kamis (1/2/2018). (FOTO: Nana Ariani/ TIMES Indonesia)
Kamis, 01 Februari 2018 - 10:51

TIMESINDONESIA, BLITAR – Mulai tahun 2018 ini, Pemkot Blitar mewajibkan semua Aparatur Sipil Negara (ASN) di bawah Pemkot untuk memakai baju djadoel  dan Soekarno Look. Aturan ini dibuat sebagai  bagian dari implementasi ajaran trisakti Bung Karno, yakni berkepribadian dalam kebudayaan.

Tiap tanggal 1,  masyarakat bisa melihat para pejabat dan pegawai pelayan masyarakat itu memakai baju djadoel. 

Disebut djadoel, karena perpaduan kebaya dan kain panjang bagi wanita. Sedangkan bagi pria, atasan sorjan dipadu celana bumbung hitam lengkap dengan blangkon. 

"Kewajiban memakai baju djadoel ini tertuang dalam Peraturan Wali Kota Blitar Nomor 37 Tahun 2017. Diharapkan dengan memakai baju djadoel bisa  meningkatkan kecintaan terhadap budaya asli Indonesia," terang Kasubag Humas Pemkot Blitar, Gigih Mardana di kantor pemkot Jalan Merdeka Kota Blitar, Kamis (1/2/2018).

Tak hanya pada tanggal 1, namun tiap tanggal 21, Pemkot juga mewajibkan semua ASN memakai kostum Soekarno Look. Soekarno look adalah model busana yang sering digunakan Presiden pertama RI, Soekarno.

"Kostum Soekarno look itu untuk meneguhkan, bahwa Blitar sebagai wilayah sentral untuk menambah wawasan kebangsaan dan nasionalisme," papar Gigih.

Apabila tanggal 1 dan 21 bukan hari kerja efektif, lanjut dia,  maka pakaian djadoel dan pakaian Soekarno look dipakai pada hari efektif selanjutnya.

Aturan ini mendapat animo positif para ASN di Pemkot Blitar. TIMES Indonesia (timesindonesia.co.id) menemui beberapa ASN, mulai pejabat sampai guru, mereka tidak keberatan dengan berlakunya aturan itu.

Seperti penuturan Clarisa Utami (44) staf humas protokoler Pemkot Blitar. Menurutnya, kebijakan ini tidak diterapkan semua daerah. 

"Malah kalau pakai kostum ini kita ingat sebagai orang Jawa. Yang berkepribadian, menjaga unggah-ungguh (sopan santun). Lagipula gak mengganggu aktifitas kok," akunya.

Begitu juga dengan penuturan guru dari salah satu  SMPN di Bumi Bung Karno ini. "Kami sudah punya soalnya, karena sering ada event memakai kostum seperti itu. Jadi ya sudah terbiasa," aku Hendro (44) guru SMPN 3 Kota Blitar. (*)

Jurnalis : Nana Ariani
Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher : Sholihin Nur

Komentar

Registration