Minggu, 19 Agustus 2018
Peristiwa

Silaturami dengan Pegiat Kopi, Bupati Amin: Jaga Nama Baik Kopi Bondowoso

Silaturami dengan Pegiat Kopi, Bupati Amin: Jaga Nama Baik Kopi Bondowoso Bupati Bondowoso, Amin Said Husni, saat memberikan pengarahan pada pegiat kopi di Bondowoso. (FOTO: Sofy/TIMES Indonesia)
Rabu, 17 Januari 2018 - 14:14

TIMESINDONESIA, BONDOWOSO – Bupati Bondowoso, Amin Said Husni, berpesan agar kualitas dan nama baik kopi Bondowoso dipertahankan.

"Jangan berpikir bisa menjual sendiri tanpa pemerintah dan tanpa adanya kluster. Kalau itu yang kita pikirkan, maka Republik yang sudah kita bangun akan segera ambruk," ujar Amin saat silaturahmi dengan Pegiat Kopi Bondowoso di Pendopo Bupati Bondowoso, Rabu (17/1/2017).

Amin menegaskan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bondowoso, Jawa Timur juga terus berupaya mendukung para petani lewat bantuan kepada masing-masing unit pengolahan hasil (UPH). Perihal UPH yang belum menerima bantuan, ia mengatakan hal tersebut disebabkan adanya keterbatasan anggaran.

Silaturahmi-Pegiat-Kopi-2.jpg

"Jika tidak bisa lewat APBD, pemerintah berusaha mencari lewat APBD Propinsi bahkan APBN. Sampean bisa tanya kepada petani di daerah lain, ada tidak yang mendapat bantuan seperti yang dilakukan Bondowoso? Tidak ada," tegasnya. 

Amin juga menyebut keberadaan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang dibentuk merupakan upaya Pemerintah melindungi Bondowoso Republik Kopi. Sebab kata Amin, karakteristik negara yang sukses memasarkan produk unggulannya adalah negara yang mampu mengendalikan pasarnya sehingga tidak ada oknum yang bebas menjatuhkan kualitas demi keuntungan sesaat. 

"Nanti kita rumuskan apakah belinya hanya cherry, HS basah atau green bean itu bisa kita atur. Karena tujuannya bukan mencari keuntungan, justru agar tata niaga perkopian di Bondowoso jangan kemudian mengorbankan kualitas demi keuntungan sesaat," ujar Amin. 

Perjalanan Bondowoso Republik Kopi

Bondowoso mendeklarasikan dirinya sebagai Bondowoso Republik Kopi (BRK) pada Mei 2016 lalu. Namun jauh sebelum itu, telah digagas program klusterisasi kopi rakyat yang melibatkan tujuh pihak yakni Pemerintah Bondowoso, Perhutani, APEKI Bondowoso, Bank Indonesia, Bank Jatim, Puslitkoka, dan Indokom pada 2011. 

Melalui PT Indokom pada 2011 lalu,  ekspor perdana kopi Bondowoso dilakukan ke Swiss sebanyak 186 ton. Lalu pada 2013, Kluster ini mendapat sertifikat Indikasi Geografis (IG) dari Kementerian Hukum dan HAM dengan nama Kopi Arabika Java Ijen Raung.

Menggandeng Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia  (Puslitkoka), pelatihan serta penyuluhan kopi gencar dilakukan. Puslitkoka dan Disbunhut (saat ini masuk dalam Dinas Pertanian) mengadakan penyuluhan proses petik merah matang segar, pengolahan wet process dan proses pengeringan pascapanen menggunakan para-para.

Silaturahmi-Pegiat-Kopi-3.jpg

Pasca klusterisasi kopi rakyat, petani kopi diberdayakan hingga berhasil menyandang kopi arabika terbaik dalam ajang Festival Kopi Nusantara Tahun 2016.

Saat ini, penandatangan MoU kluster kopi rakyat telah memasuki tahap ketiga. Awalnya ada tujuh pihak, kini menjadi lima pihak yakni Pemkab Bondowoso, Perhutani, Puslitkoka, Bank Jatim dan APEKI.

Hadir dalam acara tersebut Adm Perhutani Bondowoso,Kepala Puslitkoka Misnawi, Kepala Cabang Bank Jatim Suwoto, Ketua APEKI Bondowoso H Yusriadi, Beberapa Kepala OPD Bondowoso, dan puluhan pegiat kopi di Bondowoso. (*)

Jurnalis : Aminatus Sofya
Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher : Rizal Dani

Komentar

Registration