Minggu, 23 September 2018
Gaya Hidup

Awas, Ini Dampaknya Sering Berbelanja Berlebihan

Awas, Ini Dampaknya Sering Berbelanja Berlebihan ILUSTRASI. Berbelanja online. (FOTO: orderfulfilment.co.uk)
Rabu, 13 Desember 2017 - 05:38

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Bagi sebagian orang, selain memenuhi kebutuhan sehari-hari, belanja dianggap dapat melepas kepenatan. Apalagi di era digital ini proses belanja dimudahkan dengan adanya fitur belanja online. Pembeli tidak harus bertatap muka dan tidak perlu repot datang langsung ke penjual. Hal ini yang membuat orang semakin senang saat berbelanja online.

Meski mejadi kebiasaan yang menyenangkan, berbelanja online terlalu berlebihan ternyata berdampak buruk. Berbelanja, terutama jika dilakukan dengan gegabah, tak hanya dapat merugikan kantong Anda tetapi juga memengaruhi kesehatan psikis.

Seperti dilansir dari Klik Dokter, ketika Anda belanja dan tergiur untuk terus membeli barang, dapat menimbulkan masalah seperti belanja secara kompulsif. Perilaku berbelanja seperti ini membuat orang mengeluarkan uang secara berlebihan atau tidak terkontrol. Mungkin Anda atau orang-orang terdekat Anda pernah mengalami hal ini.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Universitas Stanford, diperkirakan sekitar 5,5 persen pria dan 6 persen wanita menjadi pembeli yang komplusif. Memang penelitan terkait gangguan mental tersebut belum dilakukan lebih mendalam, namun keadaan tersebut termasuk dalam gangguan dalam mengendalikan hasrat atau dorongan dalam diri.

Bagaimana sebenarnya mekanisme keinginan belanja secara kompulsif bisa terjadi? Ada kalanya, dengan membeli suatu barang, seseorang dapat merasakan sensasi memegang kendali akan suatu kondisi. Kondisi tersebut juga dikaitkan dengan riwayat saat masih kecil.

Orang tua cenderung memberikan hadiah dibanding meluangkan waktu dan memberi perhatian untuk anaknya. Hal tersebut bisa membuat anak tumbuh dengan pola pikir untuk terus memenuhi kebutuhan materi. Dalam hal ini, membeli barang-barang.

Selain itu, ada pula orang yang tumbuh dalam keluarga yang mengalami kesulitan ekonomi dan ketika memiliki kemampuan untuk membeli barang sendiri, seolah timbul rasa ingin “balas dendam” untuk memenuhi kebutuhan hingga lepas kendali.

Kondisi kehilangan kendali dan berlebihan dalam berbelanja dapat pula memengaruhi hubungan, misalnya dengan pasangan. Apalagi jika Anda sudah menikah. Masalah keuangan dapat memicu gesekan dalam rumah tangga, yang kemudian dapat berujung pada stres bahkan perceraian.

Jadi, boleh saja berbelanja, termasuk belanja online, sebagai cara Anda membuat diri Anda bahagia. Namun, tetaplah bijaksana. Sesuaikan uang yang Anda keluarkan dengan barang yang sungguh-sungguh Anda butuhkan. (*)

Jurnalis :
Editor : Deasy Mayasari
Publisher : Rizal Dani

Komentar

Registration