Rabu, 19 September 2018
Opini Sinau Bareng Emha Ainun Nadjib

Alhamdulillah Dibubarkan

Alhamdulillah Dibubarkan Emha Ainun Nadjib (Grafis: TIMES Indonesia)
Selasa, 14 November 2017 - 08:23

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Pahala-pahala gratis seperti itu Mbah Sot peroleh ratusan kali di banyak tempat. Acara ceramah di sebuah Universitas di Mandar mendadak dibatalkan oleh pihak yang berwajib, membuat kami memindahkannya menjadi acara silaturahmi di rumah asli tokoh akhlaqul karimah Baharudin Lopa di Pambusuhan, daerah Waliyullah Muhammad Thahir Imam Lapeo, yang juga santrinya Syaikhona Kholil Bangkalan sebagaimana Mbah Yai Hasyim Asy’ari. 

Pembubaran yang sama atas acara di sebuah Universitas Lampung, membuat Mbah Sot sempat menengok anak sulung Mbah Sot yang bersekolah di SMP Katolik Metro Lampung Tengah. Pembatalan pentas teater “Pak Kanjeng” di Yogya dan Surabaya yang temanya adalah penggusuran desa-desa Kedungombo, melahirkan pengalaman batin dan politik yang luar biasa. Menambah jumlah saudara dan sahabat. Pak Permadi dan Gendheng Pamungkas datang ke rumah menyatakan keprihatinan atas pembubaran acara, yang sebenarnya Mbah Sot syukuri, karena membuat Mbah Sot jadi dekat dengan dua tokoh aneh itu.

Bahkan penganiayaan politik itu membangkitkan dan mengkreatifkan ikhtiar pembelaan Mbah Sot dan teman-teman kepada penduduk desa Kedung Pring dan Mlangi, yang naik mengungsi ke bukit-bukit, menolak penggusuran, sehingga Pak Harto pidato marah di Solo dan menyebut mereka “hambegugug ngutho waton”. Semacam kepala batu. Tanpa Pak Harto, Gubernur Jateng Pak Ismail dan putranya, serta Pemerintah Provinsi menyadari bahwa “hambegugug ngutho waton” itu diapresiasi dan dipuji oleh Tuhan, asal dilakukan kepada penguasa yang “adigang adigung adiguna”. Alias mentang-mentang.

“At-takabburu lil-mutakabbiri shodaqotun”. Bersikap sombong kepada pihak yang menyombongi itu bernilai sedekah. Sampai-sampai ketika Mbah Sot dan teman-teman membawa truk berisi beras bertumpuk di bak-nya, Pak Jenggot pemimpin Kedung Pring dan Mlangi menolaknya. Padahal susah truk mencapai tempat di perbukitan itu. Tapi nekat Mbah Sot dan teman-teman mengangkut beras itu dari truk ke depan rumah-rumah darurat mereka. Pak Jenggot menyatakan: “Kami ini tidak miskin. Tidak minta-minta beras atau apapun. Kami kaya. Desa kami makmur. Tapi direndam oleh Pemerintah. Sampai Masjid dan Kuburan juga tenggelam”. 

Jurnalis :
Editor : AJP-1 Editor Team
Publisher : Sholihin Nur

Komentar

Registration