Peristiwa - Daerah Hari Batik Nasional 2017

Jelajah Motif Batik Daun Singkong Hingga Kupu-Kupu di Bondowoso Republik Kopi

Jelajah Motif Batik Daun Singkong Hingga Kupu-Kupu di Bondowoso Republik Kopi ILUSTRASI: Batik motif daun singkong Bondowoso (Foto: istimewa)
Minggu, 01 Oktober 2017 - 21:59

TIMESINDONESIA, BONDOWOSO – Tak ada daerah miskin jika masyarakatnya kreatif dan terus berinovasi secara mandiri. Semua potensi terus digali tak pernah berhenti. Budaya dan tradisi dirawat dengan seksama secara bersama. Itulah Indonesia yang sebenarnya. Kaya akan potensi, kreasi dan inovasi.

Pada momentum Hari Batik Nasional 2017, Litbang TIMES Indonesia mencoba menelusuri dan menjelajah aneka jenis motif batik yang ada di Indonesia. 

Kali ini, batik yang ada di daerah yang kini populer dengan sebutan Bondowoso Republik Kopi (BRK), yakni Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, yang dipimpin H Amin Said Husni, sebagai Bupati.

Dalam Journal Volume 05 Nomor 01 Tahun 2016, Edisi Yudisium Periode Pebruari 2016, halaman 10-18 Gian Bifadlika, Irma Russanti, Pengembangan Motif Batik Bondowoso Di Pengrajin “Batik Lumbung”, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Surabaya (UNESA) menjabarkan, bahwa Bondowoso ditemukan banyak jenis batik yang berasal dari Bondowoso.

Diantara jenis batik yang kini terus berkembang adalah batik motif Singkong, Batik Kupu-Kupu, Batik Capung, Batik Ilalang, Batik Cabe, Batik Stroberi, Batik Kacang Makadamia, Batik Singo Ulung, Batik Tembakau dan Batik Kopi.

Diketahui, Batik ditetapkan oleh UNESCO menjadi warisan budaya dunia pada tanggal 2 Oktober tahun 2009. Sejak itulah masyarakat di Indonesia, mulai bersemangat mengembangkan usaha pembatikan. 

Daerah yang dulunya tidak memiliki sejarah batik, kini mulai mengembangkan batik khas daerahnya dengan menuangkan potensi alam maupun ikon daerahnya sebagai motif batiknya. 

Dalam Jurnal hasil obesrvasi tersebut, Kabupaten Bondowoso, sudah lama memiliki batik khas sendiri sejak tahun 1984. Moif batik khas Kabupaten Bondowoso ini mengangkat tema tumbuhan singkong.

Tanaman  Singkong, di Bondowoso diproduksi menjadi jenis makanan tapai. sejak dahulu, tapai berhasil membawa nama Bondowoso menjadi "Kota Tapai".

Singkong merupakan komoditi unggulan di Kabupaten Bondowoso. Beralasan jika Tapai menjadi jenis motif batik khas Bondowoso.

Seiring dengan perkembangan zaman, batik khas Kabupaten Bondowoso tersebut dikenal masyarakat dengan motif batik daun singkongnya. Melihat hal tersebut, Pemerintah Kabupaten Bondowoso pada tahun 2009 mengukukuhkan motif batik Daun Singkong sebagai motif batik khas Kabupaten Bondowoso.

"Di Hari Batik Nasional besok, 2 Oktober, semua jajaran Pemkab Bondowoso pakai batik khas Bondowoso. Yakni, Batik Daun Singkong dan Batik Bondowoso Republik Kopi," jelas Bupati Bondowoso, H Amin Said Husni, Minggu (1/10/2017) malam, kepada TIMES Indonesia.

Pengukuhan motif batik Daun Singkong itu, sebagai motif batik khas Kabupaten Bondowoso berefek pada potensi batik khas Bondowoso semakin meningkat hingga kini. Karena, terus memaju para pengrajin batik yang ada untuk terus mengembangkan motif batik khas Bondowoso.

Sehingga motif batik yang dihasilkan oleh para pengrajin batik di Kabupaten Bondowoso, tidak terbatas pada motif batik daun singkong semata. 

Semua ini, dibuktikan dengan munculnya beberapa motif batik hasil perkembangan para pengrajin Kabupaten Bondowoso antara lain motif batik Kupu-Kupu, Capung, Ilalang, Cabe, Stroberi, Kacang Makadamia, Singo Ulung, Tembakau dan Batik Bondowoso Republik Kopi atau Batik BRK. "Di Hari Batik Nasional, para pejabat juga pakai Batik BRK," aku Amin Said.

Kini, di Bondowoso sudah bertaburan pengrajin batik. Beberapa pengrajin mulai mendirikan usaha pembatikan. Jumlah industri batik di Kabupaten Bondowoso terus bertambah.

Di tahun 2014, data pengrajin batik di Kabupaten Bondowoso yang dikantongi Dinas Koperasi dan Perdagangan, hanya ada enam pengraji. Namun, kini sudah bertambah.

Namun, tidak semua pengrajin batik terdaftar sebagai mitra UMKM, dari lima pengarjin, hanya tiga pengrajin yang baru terdaftar dalam UMKM Diskoperindag. Para pengrajin yang tercatat sebagai mitra itu diantaranya, Sanggar Batik Tulis Sumbersari, Batik Lumbung, dan Sanggar Batik Tulis Kembang Kusuma.

Sejarahnya, Batik Daun Singkong mengalami perubahan desain. Namun, masih jelas terlihat secara keseluruhan mengarah keatas dari bagian pinggiran motif batik. Susunan ornamen daun singkong setelah dikembangkan dibuat lebih renggang dan sedikit berjauhan. 

Dalam pengembangannya bentuk ujung setiap helaian pada ornamen daun singkong menjadi lebih runcing dan sedikit meliuk. Penambahan batang pada bagian pangkal daun berupa ornamen ukel juga menambah variasi pada motif daun singkong. 

Selanjutnya, bentuk Ilalang setelah dikembangkan menjadi ornamen Ilalang dengan bentuk yang yang lebih besar dan lebih meliuk-liuk. Bahkan, terdapat pula ornamen Ilalang yang menyerupai ornamen ukel pada bagian ujung daunnya. 

Ukuran yang lebih besar dibandingkan dengan ornamen Ilalang sebelumnya memungkinkan motif batik secara keseluruhan memiliki pusat perhatian atau center of interest. 

Ornamen tambahan atau disebut juga ornamen pengisi bidang pada motif batik sesudah mengalami pengembangan berupa daun dengan stilasi membentuk ornamen ukel dan motif daun dengan bentuk yang lebih sederhana dan dibuat meliuk.

Ornamen tambahan setelah dikembangkan dibuat lebih sederhana dan penempatan ornamen tampak menyatu dengan ornamen utama yaitu daun singkong.

Ornamen daun singkong setelah dikembangkan dibuat tiga warna sehingga memberi kesan adanya center of interest dalam setiap ornamen daun singkong. Dan pada ornamen Ilalang, walaupun hanya diterapkan satu warna dalam satu ornamen.

Namun, jika dilihat secara menyeluruh pada rumpunan ornamen Ilalang, terdapat perbedaan warna antara ornamen Ilalang satu dengan yang lain. Jika dilihat warna ornamen Ilalang setelah dikembangkan terdapat ketidakseimbangan penempatan warna, sehingga rumpun Ilalang terlihat kurang harmonis.

Dari hasil penilaian observer dalam ulasan jurnal yang ditemukan Litbang TIMES Indonesia tersebut, mengenai hasil jadi pengembangan batik daun singkong memperoleh nilai rata-rata 2,89 dengan kategori penilaian cukup baik. 

batik-kupu2Ibgvd.jpg

Hal ini dikarenakan terdapat tiga  aspek unsur dan prinsip desain yang dinilai cukup baik. Pertama, Batik Daun Singkong dianggap belum memiliki ukuran dan bentuk yang seimbang sehingga dinilai cukup harmonis dan proporsional.

Kedua, Batik Daun Singkong dianggap belum menimbulkan irama atau kesan gerak dalam desainnya. Ketiga, dianggap sudah memiliki perpaduan warna yang kontras namun belum dilakukan penempatan warna yang baik sebagai suatu penekanan. 

"Jika ditinjau dalam keseluruhan aspek unsur dan prinsip desain, hal diatas belum sesuai dengan teori. "Sedangkan untuk membuat desain-desain yang lebih baik, maka harus memperhatikan prinsip-prinsip desain dalam menggabungkan unsur-unsur desain," begitu tulis Suhersono dalam jurnal tersebut (2004: 107).

Batik selanjutnya yang ada di Kabupaten Bondowoso adalah Batik Kupu-Kupu. Pada batik ini susunan antar ornamen masih terlihat sama antara batik sebelum dikembangkan dan sesudah dikembangkan. 

Hal itu terlihat pada bagian penyusunan ornamen daun singkong dan Kupu-Kupu berjajar keatas dalam setiap jenisnya. Namun, terdapat sedikit perbedaan pada gambaran garis yang membatasi tempat ornamen daun singkong dan kupu, garis yang sebelumnya lurus dibuat meliuk-liuk dan semakin keatas semakin mengerucut atau mengecil.

Ornamen Kupu-Kupu sebagai ornamen utama kedua dalam pengembangannya terlihat pada bentuk sayap kupu-kupu yang beragam antara kupukupu satu dengan yang lain. Ornamen kupu-kupu setelah dikembangkan dibuat lebih beragam bentuk. Ornamen Kupu-Kupu setelah dikembangkan membentuk Kupu-Kupu yang sedang beterbangan kesegala arah dengan sayap yang terlihat penuh ataupun yang terlihat dari samping seekor Kupu-Kupu.

Adapun hasil penilaian observer mengenai hasil jadi pengembangan motif batik Kupu-Kupu memperoleh nilai rata-rata 2,81 dengan kategori penilaian cukup baik. Hal tersebut dikarenakan terdapat empat aspek unsur dan prinsip desain yang dinilai cukup baik.

Pertama, Batik Kupu-Kupu dianggap belum memiliki ukuran dan bentuk yang seimbang sehingga dinilai cukup harmonis dan proporsional. Kedua, Batik Kupu-Kupu dianggap belum menimbulkan irama atau kesan gerak dalam desainnya dan Ketiga, Batik Kupu-Kupu dianggap memiliki gabungan motif dan warna yang belum membentuk suatu kesatuan atau unity.

Dan Keempat, Batik Kupu-Kupu dianggap sudah memiliki perpaduan warna yang kontras namun belum dilakukan penempatan warna yang baik sebagai suatu penekanan agar timbul sebuah pusat perhatian. 

Sedangkan jika ditinjau dalam keseluruhan aspek unsur dan prinsip desain, menurut Suhersono (2004:107), hal diatas belum sesuai dengan teori untuk membuat desain-desain yang lebih baik. Solusinya, harus memperhatikan prinsip-prinsip desain dalam menggabungkan unsur-unsur desain.

Terakhir adalah Batik Cabai. Bondowoso juga memiliki Batik Cabai atau Cabe. Pada pengembangan batik yang terakhir ini, mengalami perubahan desain. Namun masih jelas terlihat secara keseluruhan memiliki susunan motif yang searah. 

Susunan ornamen daun singkong, cabe dan sulur dibuat lebih rapat, sehingga batik terlihat lebih penuh dengan ornamen. Ornamen cabe dan ornamen daun merupakan ornamen tambahan pada batik cabe. 

Ornamen cabe dibuat sangat berbeda dengan sebelumnya. karena berbentuk cabai dengan bentuk yang sebenarnya dan disusun berbentuk lingkaran sehingga nampak seperti baling-baling. 

Pada batik cabe, secara keseluruhan memiliki enam jenis isen-isen, yakni, Krakalan, Ceceg Telu, Kembang Suruh, Ceceg Pitu, Ron Pakis dan Sawut.

Adapun hasil penilaian observer mengenai hasil jadi pengembangan motif batik cabe ditinjau dari unsur dan prinsip desain, batik cabe memperoleh mean sebesar 3,2  dengan kategori penilaian baik dan merupakan nilai tertinggi dibandingkan dengan Batik Daun Singkong dan batik Kupu-Kupu.

Alasannya, karena terdapat empat aspek unsur dan prinsip desain yang dinilai baik. Pertama, Batik Kupu-Kupu dianggap telah memiliki ukuran dan bentuk yang seimbang sehingga dinilai nampak harmonis dan proporsional.

Menurut teori Kamil (1986:62), bahwa ukuran erat hubungannya dengan bentuk sehingga dalam pembuatan sebuah desain yang baik harus memperhatikan keseimbangan ukuran dan bentuk yang baik agar desain yang tercipta dapat harmonis dan proporsional. 

Kedua, Batik Cabe dianggap sudah memiliki perpaduan garis yang bergerak dengan teratur. Ketiga, Batik Cabe memiliki perpaduan warna yang seimbang penempatannya.

Keempat, Batik cabe dianggap memiliki gabungan ornamen dan warna yang sudah membentuk suatu kesatuan atau unity. Jika ditinjau dalam keseluruhan aspek unsur dan prinsip desain hal diatas belum sesuai dengan teori dari Suhersono (2004:107).

Dalam teori Suhersono, untuk membuat desaindesain yang lebih baik maka harus memperhatikan prinsip-prinsip desain dalam menggabungkan unsur-unsur desain.

Pada Hari Batik Nasional 2017, tim Litbang TIMES Indonesia, terus menjelajah keberbagai daerah di Indonesia, soal motif batik yang ada di Indonesia. Lebih detailnya, ikuti terus kajian motif batik yang menjadi kekayaan Indonesia di TIMES Indonesia.(*)

Jurnalis : Aminatus Sofya
Editor : Yatimul Ainun
Publisher : Ahmad Sukma
Sumber : TIMES Bondowoso

Komentar

Loading...
Registration