Indikator
  • USD → IDR Jual: 13,307 • USD → IDR Beli: 13,321
  • EUR → IDR Jual: 15,495 • EUR → IDR Beli: 15,515
  • HKD → IDR Jual: 1,704 • HKD → IDR Beli: 1,706
  • JPY → IDR Jual: 119 • JPY → IDR Beli: 119
  • AUD → IDR Jual: 10,531 • AUD → IDR Beli: 10,548
  • SGD → IDR Jual: 9,754 • SGD → IDR Beli: 9,772
  • Emas Jual → 550,000 • Emas Beli → 528,000
  • Perak Jual → 10,300
  • Update Tanggal 22-07-2017
Sinau Bareng Emha Ainun Nadjib

Bedhol Negoro (1)

Home / Opini / Bedhol Negoro (1)
Bedhol Negoro (1) Emha Ainun Nadjib (Cak Nun). (Grafis: TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Situasi saling tidak percaya, kebencian, permusuhan dan konflik antara pemeluk Agama tiba-tiba marak dan menjadi kecemasan primer Negara dan bangsa, membawa kita kepada perlunya bercermin ke masa silam sejarah kita sendiri. Misalnya, apakah dulu peralihan dari Kerajaan Majapahit ke Kesultanan Demak, diantarkan oleh perang Agama atau tidak. Tetapi mungkin tak akan pernah bisa dibuktikan dengan metodologi sejarah apapun.

Bahan-bahan untuk meneliti tidak benar-benar memadai. Setiap metode menghasilkan rumusan fakta yang juga berbeda, bahkan bisa bertentangan. Antara pendekatan akademis modern selama masa kolonial Belanda hingga era kemerdekaan RI, banyak menghasilkan kesimpulan yang tidak sama dibanding catatan-catatan kultural, misalnya Babat. Bahkan cara membaca Kitab Sejarah yang sama, katakanlah Pararaton atau Sutasoma, hasilnya juga bisa bertentangan.

Proses verifikasi sejarah yang kemudian dicampuri oleh program kekuasaan, proyek politik, persaingan antar Agama, dalam skala nasional maupun global – bahkan sudah sampai pada “hawa” wacana di mana Walisongo bisa dianggap tidak ada, atau sekadar dongeng rakyat. Karena sumbernya adalah Babat dan informasi turun-temurun. Yang sama sekali tidak bisa dibenarkan oleh metode akademik yang berlaku resmi di Sekolah dan Universitas. Bagi metode sejarah resmi, Walisongo bisa secara kuat dihipotesiskan sebagai mitologi.

Berita Terkait

Komentar

Top
Tim.my.id Wawanita.com satriamedia.com