Indikator
  • USD → IDR Jual: 13,307 • USD → IDR Beli: 13,321
  • EUR → IDR Jual: 15,495 • EUR → IDR Beli: 15,515
  • HKD → IDR Jual: 1,704 • HKD → IDR Beli: 1,706
  • JPY → IDR Jual: 119 • JPY → IDR Beli: 119
  • AUD → IDR Jual: 10,531 • AUD → IDR Beli: 10,548
  • SGD → IDR Jual: 9,754 • SGD → IDR Beli: 9,772
  • Emas Jual → 550,000 • Emas Beli → 528,000
  • Perak Jual → 10,300
  • Update Tanggal 22-07-2017
Pemilihan Bupati Probolinggo

Jumanto: Parpol di Probolinggo Tak Berdaya di Hadapan Hasan

Home / Politik / Jumanto: Parpol di Probolinggo Tak Berdaya di Hadapan Hasan
Jumanto: Parpol di Probolinggo Tak Berdaya di Hadapan Hasan JUmanto (Foto: Istimewa/ TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Bakal calon bupati (cabup) Probolinggo dari jalur independen, Jumanto menyebut, parpol di Probolinggo tak berdaya di hadapan Hasan Aminuddin. Terutama menjelang pemilihan bupati tahun depan.

Salah satu buktinya adalah pertemuan enam parpol di rumah ketua DPC PDIP Kabupaten Probolinggo, Timbul Prihanjoko untuk mendukung calon incumbent, P. Tantriana Sari, yang notabene istri Hasan. Pertemuan dilakukan sekitar sepekan lalu.

Enam partai itu meliputi NasDem (14 kursi); PPP, Golkar, Gerindra dan PDIP (masing-masing lima kursi), serta Partai Hanura (2 kursi). Jika dijumlah, gabungan enam parpol itu memiliki 36 kursi dari total 45 kursi di DPRD Kabupaten Probolinggo.

Di luar itu, hanya ada PKB (delapan kursi) dan Partai Demokrat (satu kursi). PKB telah memutuskan bakal mencalonkan Abdul Malik Haramain. Tapi PKB perlu tambahan satu kursi lagi agar bisa mengusung pasangan calon.

"Partai-partai di Probolinggo itu tak berdaya di hadapan Hasan," kata Jumanto. Karena alasan itu, Ketua Forum Silaturrahim Mantan Tahanan dan Narapidana (Fosil Maharana) ini, memilih jalur independen.

Pernyataan itu disampaikan Jumanto dalam menanggapi statemen Hasan yang menyatakan enam parpol akan mendukung Tantri, serta tanggapan Abdul Malik Haramain yang menyebut statemen tersebut sebagai klaim dini.

Bukti kekuasaan Hasan lainnya, lanjut Jumanto, terlihat dalam Pemilihan Bupati 2003 silam. Saat itu, DPP PKB mengeluarkan SK pasangan Cholili Mugi dan KH. Abdul Hamid Wahid sebagai cabup dan cawabup Probolinggo.

"Tapi SK itu tidak diantarkan (ke DPRD) oleh DPC PKB. Malah Hasan yang maju," kenang Jumanto, yang kala itu menjadi anggota DPRD kabupaten setempat. Dan akhirnya, Hasan terpilih sebagai bupati hingga dua periode.

Menurut Jumanto, fakta sejarah itu semestinya menjadi pelajaran bagi lawan politik Hasan di Kabupaten Probolinggo. Karena bukan tidak mungkin, fakta serupa terulang dalam pilbup 2018 nanti.

"SK partai-partai bukan ke Tantri, tapi DPC atau DPD malah mendukung Tantri karena takut," katanya, memberi contoh. (*)

Berita Terkait

Komentar

Top
Tim.my.id Wawanita.com satriamedia.com