Indikator
  • USD → IDR Jual: 13,307 • USD → IDR Beli: 13,321
  • EUR → IDR Jual: 15,495 • EUR → IDR Beli: 15,515
  • HKD → IDR Jual: 1,704 • HKD → IDR Beli: 1,706
  • JPY → IDR Jual: 119 • JPY → IDR Beli: 119
  • AUD → IDR Jual: 10,531 • AUD → IDR Beli: 10,548
  • SGD → IDR Jual: 9,754 • SGD → IDR Beli: 9,772
  • Emas Jual → 550,000 • Emas Beli → 528,000
  • Perak Jual → 10,300
  • Update Tanggal 22-07-2017
Sinau Bareng Emha Ainun Nadjib

Garuda Menebus Ibu Pertiwi

Home / Opini / Garuda Menebus Ibu Pertiwi
Garuda Menebus Ibu Pertiwi Emha Ainun Nadjib (Cak Nun). (Grafis: TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Tengah-tengah asyik aku menulis puisi “Indonesia Bukanlah, Bukanlah Indonesia”, mendadak hatiku menghentikan pikiranku yang sedang bekerja. Aku bertanya ada apa, ia menjawab dengan pertanyaan: “Mana anak-anakmu yang berjanji menuliskan hasil pembelajarannya tentang Pancasila Garuda dan Bhinneka Tunggal Ika?”

“Kita perlu sabar menunggu”, aku menjawab, “kita tidak boleh memaksakan kemauan kita, setidak sabar apapun suasana batin kita”.

Tetapi hatiku tak bisa ditawar. Ia mendesak terus dan tidak memberi ruang sedikitpun kepadaku untuk menyelesaikan puisiku tentang “Anak Asuh yang Bernama Indonesia” itu.

Kalau tentang Pancasila, lumayan meskipun sangat sedikit aku sudah invest wacana dan menabung referensi, sebelum pada akhirnya semoga ada kesempatan untuk menguraikannya selengkap dan sekomprehensif mungkin. Misalnya bahwa tidak mungkin Pancasila lahir kalau para penggali dan penyusunnya tidak dibesarkan oleh budaya dan kependidikan Agama, utamanya Islam. Pengetahuan bahwa Tuhan itu Maha Esa, mungkin bisa diaspirasikan sendiri oleh pencarian akal dan hati manusia, tetapi hanya karena “ditanda-tangani” oleh ketegasan konsep “Tauhid” dalam Islam, maka mereka menjadi yakin.

Apalagi jelas ada 6 (enam) kata dengan muatannya yang Pancasila menggali dan mengambilnya dari khazanah Islam: adil, adab, hikmat, musyawarah, wakil dan rakyat. Keenamnya ini justru merupakan titik berat muatan filosofi dan prinsip nilai Pancasila. Sehingga kalau dalam aplikasi pengelolaan Negara di lapangan tiba-tiba muncul atmosfer berpikir yang mempertentangkan Pancasila dengan Islam, yang melebar ke polarisasi Nasionalis versus Islamis. Termasuk terpelesetnya, tidak matang dan tidak jernihnya kalimat “Ini Negara Pancasila, bukan Negara Islam”.

Tapi hatiku tak sabar sebelum anak-anakku setor kepadaku uraian tentang Garuda dan Bhinneka Tunggal Ika. Kemarin mereka bercerita panjang kepadaku tentang dua pusaka Nusantara itu. Aku ini jadul, bagian dari generasi yang terselip di selubung gelap masa silam. Ketika mendengar kisah itu aku sangat terpesona, tapi sama sekali kelabakan untuk merumuskannya kembali. Sehingga pikiranku tidak mampu mentransfer pengetahuan itu kepada hatiku.

Top
Tim.my.id Wawanita.com satriamedia.com