Indikator
  • USD → IDR Jual: 13,307 • USD → IDR Beli: 13,321
  • EUR → IDR Jual: 15,495 • EUR → IDR Beli: 15,515
  • HKD → IDR Jual: 1,704 • HKD → IDR Beli: 1,706
  • JPY → IDR Jual: 119 • JPY → IDR Beli: 119
  • AUD → IDR Jual: 10,531 • AUD → IDR Beli: 10,548
  • SGD → IDR Jual: 9,754 • SGD → IDR Beli: 9,772
  • Emas Jual → 550,000 • Emas Beli → 528,000
  • Perak Jual → 10,300
  • Update Tanggal 22-07-2017

Program Lele Bioflok Masuk Pesantren, Apa Itu?

Home / Ekonomi / Program Lele Bioflok Masuk Pesantren, Apa Itu?
Program Lele Bioflok Masuk Pesantren, Apa Itu? Kolam pembudidayaan lele dengan sistem bioflok. (Foto: istimewa)

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) segera realisasikan program dukungan usaha budidaya lele sistem bioflok, untuk 73 pondok pesantren yang tersebar di 15 provinsi.

Program ini ditargetkan akan menyasar pemberdayaan terhadap sekitar 78.500 orang santri atau siswa.

Berdasarkan rilis dari KKP, hingga saat ini proses identifikasi, verifikasi, dan penetapan calon penerima program telah selesai dilaksanakan. Targetnya, akhir bulan Juni telah terealisasi secara serentak.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, ada dua alasan penting pihaknya lebih banyak mengalokasikan program ini pada pondok pesantren.

Pertama, pesantren sebagai lembaga non formal merupakan lingkungan yang efektif untuk  pembelajaran pengembangan usaha, sehingga pengenalan usaha lele bioflok ini diharapkan akan mampu mewujudkan pemberdayaan umat dan menjadi ladang dalam mencetak wirausahawan baru.

Kedua, pemerintah memiliki tanggunjawab moral untuk meningkatkan kualitas SDM di lingkungan pesantren melalui penyediaan dan peningkatan gizi berbasis ikan.

"Kami ingin kualitas SDM para santri ini meningkat dengan membiasakan mengonsumsi ikan," katanya.

Saat ini, tingkat konsumsi ikan di lingkungan pesantren hanya sekitar 9 kg per kapita per tahun.

"Melalui program ini paling tidak ada peningkatan menjadi 15 kg per kapita per tahun," ucapnya.

Budidaya sistem bioflok ini produktivitas bisa ditingkatkan sampai tiga kali lipat dibanding sistem konvensional.

Slamet menggambarkan dengan asumsi per paket bantuan sebanyak 12 kolam bulat dengan diameter 3 meter, maka dapat hasil produksi yang dihasilkan setidaknya sebanyak 12,15 ton per tahun dengan nilai pendapatan mencapai Rp 182 juta.

Pembudidaya akan mendapatkan nilai tambah keuntungan rata-rata sebesar Rp 3.900 per kilogram. Selain itu dari kualitas produk, diakui konsumen bahwa daging lele hasil budidaya dengan sistem ini memiliki citarasa yang lebih enak dan warna daging lebih putih," tegasnya. (*)

Berita Terkait

Komentar

Top
Tim.my.id Wawanita.com satriamedia.com