Indikator
  • USD → IDR Jual: 13,307 • USD → IDR Beli: 13,321
  • EUR → IDR Jual: 15,495 • EUR → IDR Beli: 15,515
  • HKD → IDR Jual: 1,704 • HKD → IDR Beli: 1,706
  • JPY → IDR Jual: 119 • JPY → IDR Beli: 119
  • AUD → IDR Jual: 10,531 • AUD → IDR Beli: 10,548
  • SGD → IDR Jual: 9,754 • SGD → IDR Beli: 9,772
  • Emas Jual → 550,000 • Emas Beli → 528,000
  • Perak Jual → 10,300
  • Update Tanggal 22-07-2017

Kakek-Nenek Ini Cari Kepompong Hutan untuk Makan

Home / Peristiwa - Daerah / Kakek-Nenek Ini Cari Kepompong Hutan untuk Makan
Kakek-Nenek Ini Cari Kepompong Hutan untuk Makan Syahri dan Juhara membersihkan kepompong di halaman depan rumah mereka yang berada di tepi hutan pinus. (Foto: Ahmad Su'udi/TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Keduanya adalah pasangan suami-isteri yang tinggal di tepi Hutan Produksi Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Banyuwangi Utara. Tepatnya di Lingkungan Krajan, Kelurahan Papring, Kecamatan Kalipuro, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.

Syahri dan Juharah tidak lagi ingat berapa usia masing-masing, semua anaknya juga telah berumah tangga dan tidak lagi tinggal bersama mereka hingga keduanya harus mencari nafkah sendiri. Tinggal di rumah kecil berdinding anyaman bambu lawas yang berada di ujung kampung, di dekat jurang yang berbatasan langsung dengan hutan penuh Pinus, Juhara selalu tersenyum saat dikunjungi.

“Kakek Syahri yang cari ke hutan, saya sudah tidak kuat jalan jauh, cari kayu dekat-dekat sini saja kaki langsung kerasa. Berangkat pagi, pulang hampir sore dapatnya 1 kilogram, 2 kilogram,” kata Juhara sambil menunjukkan ulat-ulat di tangannya, Jumat (19/5/2017).

Sekitar 5 hari sekali, kepompong yang telah dikumpulkan dijual ke pengepul setempat bernama Pak Awi dengan harga Rp 20 ribu per kilogram. Kemudian kepompong dengan selimut warna emas itu dijual ke restoran di Bali untuk diproses dijadikan rempeyek dan dijual kepada wisatawan.

Pengepul juga memiliki beberapa pencari kepompong lain. Dia juga harus melakukan berbagai usaha agar kepompong tidak menjadi kupu-kupu seperti tidak membuka selimut kepompong, karena tidak akan laku bila telah menjadi kupu-kupu.

kepompong-2LGeQ7.jpg

“Saya jalan terus di hutan, biasanya ada di Pohon Kedondong, Apokat, Kopi dan Beringin. Jadi kalau ada kuning-kuning warna kepompong, biasanya banyak, langsung saya panjat, saya ambil,” papar Syahri yang bekerja mencari ular, landak, trenggiling dan burung di hutan saat tidak musim kepompong.

Kepada TIMES Indonesia, Ketua Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Banyuwangi, Irwan Kurniawan SH MHum mengatakan, ulat yang dicari warga Kelurahan Papring adalah jenis ulat lipat atau ulat kenari. Ulat yang tergolong hama ini biasanya menyerang Apokat, Kedondong, Mangga, Kakao dan Kayu Manis.

“Biasanya banyak keluar pada saat puncak musim hujan, Januari hingga April, karena menyukai kelembaban dan pakan berupa daun amat melimpah. Dia merusak tanaman dengan cara mengonsumsi daun hingga pohon gundul,” kata Irwan sapaan Irwan Kurniawan SH Mhum.

Karena termasuk hama, biasanya petani membasmi ulat sepanjang 6 centimeter itu dengan insektisida, namun ulat lipat memiliki lapisan lilin sehingga kadang insektisida tidak berpengaruh. Cara lain membasmi ulat yang memiliki dominasi warna hitam dengan bercak putih di permukaan tubuhnya itu adalah dengan mendatangkan burung pemangsa hama.

“Kalau jadi makanan manusia, itu masuk makanan ekstrim berarti. Bisa jadi, sebagai daerah tujuan wisata, kuliner Bali harus selalu inovatif. Mungkin mirip street food di Thailand,” pungkas Irwan. (*)

Berita Terkait

Komentar

Top
Tim.my.id Wawanita.com satriamedia.com