Indikator
  • USD → IDR Jual: 13,307 • USD → IDR Beli: 13,321
  • EUR → IDR Jual: 15,495 • EUR → IDR Beli: 15,515
  • HKD → IDR Jual: 1,704 • HKD → IDR Beli: 1,706
  • JPY → IDR Jual: 119 • JPY → IDR Beli: 119
  • AUD → IDR Jual: 10,531 • AUD → IDR Beli: 10,548
  • SGD → IDR Jual: 9,754 • SGD → IDR Beli: 9,772
  • Emas Jual → 550,000 • Emas Beli → 528,000
  • Perak Jual → 10,300
  • Update Tanggal 22-07-2017
Khittah NU Jaga NKRI

Khittah NU Harus Terus Digelorakan untuk Indonesia

Home / Peristiwa - Nasional / Khittah NU Harus Terus Digelorakan untuk Indonesia
Khittah NU Harus Terus Digelorakan untuk Indonesia Suasana seminar nasional yang digelar LTN-NU Jatim di Sukorejo Situbondo Jawa Timur, Rabu (10/1/2017). (Foto: Achmad Suusdi/TIMES Indonesia)
Fokus Berita

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Perjalanan panjang Khittah Nahdlatul Ulama (NU) menghadapi berbagai tantangan. Baik sejak awal didirikan, hingga saat ini. Tantangan yang dihadapinya terlihat demikian panjang.

Karenanya, diperlukan refleksi ulang agar Khittah NU tetap menjadi ruh bagi perjalanan jam'iyah dan rakyat Indonsia pada umumnya.

Salah satunya digelar Seminar Nasional Refleksi 33 Tahun Khittah NU, yang berlangsung di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah, Sukorejo, Asembagus, Situbondo, tempat NU kembali ke Khittah.

Kegiatan tersebut diselenggarakan di Aula Ma'had Aly Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo Situbondo Jawa Timur, Rabu (11/1/2017).

Dalam pandangan KH Hariri Abdul Adhim, kegiatan ini sebagai upaya melakukan pembacaan ulang sejarah sejak awal pendirian NU.

"Bagaimana kita memiliki pemahaman dan pengertian saat Mbah Hasyim mendapatkan restu dari Mbah Cholil Bangkalan ketika hendak mendirikan NU," katanya.

Periode berikutnya adalah, bagaimana perjalanan NU yang awalnya berorientasi sebagai jam'iyah diniyah ijtimaiyah akhirnya diuji dengan politik praktis.

"Karena saat terlibat dalam politik praktis, ternyata menimbulkan gejolak di internal NU sendiri," jelas Mudir Ma'had Aly Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo.

Mewakili PWNU Jatim, KH Sadid Jauhari juga mengingatkan bahwa keinginan kembali ke Khittah NU sebenarnya telah dilakukan sejak tahun 1971.

"Akhirnya, pada Musyawarah Nasional atau Munas NU tahun 1983 di pesantren inilah gagasan tersebut dapat diterima," katanya.

KH Muhammad Firjaun Barlawan yang juga putra almagfurlah KH Ahmad Shiddiq mengingatkan bahwa kegiatan membincang khittah NU sebagai sumbangsih bagi khidmat NU.

"Diharapkan upaya ini dapat menjadi sumbangsih kita kepada NU," harap Gus Firjaun, begitu populer disapa.

Kegiatan tersebut adalah hasil kerjasama Keluarga Alumni Ma'had Aly Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah denga  PW LTN NU Jatim dan TV9 Nusantara. (*)

Berita Terkait

Komentar

Top
Tim.my.id Wawanita.com satriamedia.com