Indikator
  • USD → IDR Jual: 13,307 • USD → IDR Beli: 13,321
  • EUR → IDR Jual: 15,495 • EUR → IDR Beli: 15,515
  • HKD → IDR Jual: 1,704 • HKD → IDR Beli: 1,706
  • JPY → IDR Jual: 119 • JPY → IDR Beli: 119
  • AUD → IDR Jual: 10,531 • AUD → IDR Beli: 10,548
  • SGD → IDR Jual: 9,754 • SGD → IDR Beli: 9,772
  • Emas Jual → 550,000 • Emas Beli → 528,000
  • Perak Jual → 10,300
  • Update Tanggal 22-07-2017

Senyum Manis Petani di Tengah Pedasnya Harga Cabai

Home / Ekonomi / Senyum Manis Petani di Tengah Pedasnya Harga Cabai
Senyum Manis Petani di Tengah Pedasnya Harga Cabai ILUSTRASI: Petani Cabai. (Foto: Dok. TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Di tengah mahalnya harga cabai di berbagai daerah, petani cabai di lahan pantai Desa Bugel, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, justru bergembira. 

Petani cabai didaerah itu meraup keuntungan relatif besar hingga  puluhan juta rupiah atas hasil panen yang melimpah dan harga di pasaran yang cukup tinggi.

Ketua Kelompok Tani Gisik Pranaji Sukarman di Kulon Progo, mengatakan harga cabai ditingkat petani mencapai Rp 80.000 per kilogram.

"Sejak September 2016, harga cabai terus merangkak dari Rp 25.000 per kilogram, sekarang mencapai Rp 80.000 per kg. Keuntungan yang didapat petani juga sangat banyak," kata Sukarman.

Harga cabai keriting di tingkat petani sebasar Rp 35.000 per  kilogram dari sebelumnya Rp 25.000. Sedangkan cabai rawit Rp 80.000 per kilogram dari sebelumnya Rp 45.000 hingga Rp 50.000.

"Harga cabai di tingkat petani terus meningkat karena jumlah produksi turun hingga 50 persen dibandingkan pada masa tanam pertama," katanya.

Dia menjelaskan, musim tanam pertama yakni pada Maret dan mulai panen pada Mei. Pada masa taman pertama, satu hektare tanaman cabai mampu menghasilkan 12 ton hingga 15 ton. Pada September 2016 sampai saat ini, satu hektare tanaman cabai hanya menghasilkan antara 5 ton hingga 7 ton. 

"Pada Mei 2016, harga cabai di tingkat petani hanya Rp 4.000 hingga Rp 5.000 per kilogram, kami sangat rugi tenaga dan biaya operasional. Pada September 2016, kami mulai menikmati keuntungan dari hasil panen cabai," katanya.

Hasil panen September sampai sekarang hanya dapat mencukupi permintaan pasar lokal. Tengkulak menjualnya ke Pasar Beringharjo, Giwangan dan Gamping.

Hasil panen Mei, biasanya dijual ke Jakarta dan Sumatera. Hal ini dikarenakan permintaan pasar lokal sudah cukup. (*)

Top
Tim.my.id Wawanita.com satriamedia.com