Peristiwa

Mengenal Sosok Abu Nawas, Penyair Tersohor Arab yang Cerdik dan Jenaka

Minggu, 25 September 2022 - 08:21 | 29.37k
Mengenal Sosok Abu Nawas, Penyair Tersohor Arab yang Cerdik dan Jenaka
Ilustrasi karikatur Abu Nawas. (Foto: Lazis Sabilillah)

TIMESINDONESIA, MALANG – Abu-Ali Al-Hasan bin Hani Al-Hakami atau dikenal sebagai Abu Nawas atau Abū-Nuwās adalah seorang pujangga Arab. Dia dilahirkan di kota Ahvaz di negeri Persia, dengan darah Arab dan Persia mengalir di tubuhnya.

Abu Nawas terkenal dengan kisahnya yang unik, cerdik, lucu dan fenomenal. Pemikirannya bisa dibilang out of the box. Umat muslim Indonesia juga banyak membaca syair indah karya sastrawan Arab tersohor di zamannya.

Syair tersebut dikenal syair "I'tiraf" yang digubah oleh Abu Nawas memang sangat monumental. Hal tersebut tidak lepas dari liriknya yang indah dan puitis dan juga maknanya yang sangat mendalam.

Bait syair indah itu tentu sudah sangat akrab di telinga masyarakat Indonesia terutama kaum tradisionalis Islam. Beberapa saat menjelang shalat Maghrib atau Subuh, jemaah di masjid-masjid atau musala di pedesaan biasanya melantunkan syair tersebut dengan syahdu sebagai puji-pujian dengan lagu dan irama yang syahdu.

Konon, bait tersebut adalah hasil karya tokoh jenaka yang fenomenal, yaitu Abu Nawas. Ia adalah salah satu penyair terbesar sastra Arab klasik pada masa Abbasiyah. Abu Nawas juga muncul dalam kisah 1001 Malam, kumpulan kisah tiga peradaban, Arab, Persia, dan India.

Lirik Syair Abu Nawas

Berikut lirik syair Abu Nawas beserta artinya:

Ilaahii lastu lil firdausi ahlaan wa laa aqwaa alaa naaril jahiimi

Artinya: Wahai Tuhanku! Aku bukanlah ahli surga, tapi aku tidak kuat dalam neraka Jahim.

Fa hablii taubatan waghfir zunuubii fa innaka ghaafirudzdzambil azhiimi

Artinya: Maka berilah aku taubat (ampunan) dan ampunilah dosaku, sesungguhnya engkau Maha Pengampun dosa yang besar.

Dzunuubii mitslu a daadir rimaali fa hablii taubatan yaa dzaaljalaali

Artinya: Dosaku bagaikan bilangan pasir, maka berilah aku taubat wahai Tuhanku yang memiliki keagungan.

Wa umrii naaqishun fii kulli yaumi wa dzambii zaa-idun kaifah timaali

Artinya: Umurku ini setiap hari berkurang, sedang dosaku selalu bertambah, bagaimana aku menanggungnya.

Ilaahii abdukal aashii ataaka muqirran bidzdzunuubi wa qad da aaka

Artinya: Wahai, Tuhanku! Hamba Mu yang berbuat dosa telah datang kepada-Mu dengan mengakui segala dosa, dan telah memohon kepada Mu.

Fa in taghfir fa anta lidzaaka ahlun wa in tathrud faman narjuu siwaaka

Artinya: Maka jika engkau mengampuni, maka Engkaulah yang berhak mengampuni. Jika Engkau menolak, kepada siapakah lagi aku mengharap selain kepada Engkau?

Bagi masyarakat Islam Indonesia, nama Abu Nawas atau Abu Nuwas juga bukan lagi sesuatu yang asing. Abu Nawas dikenal terutama karena kelihaian dan kecerdikannya melontarkan kritik-kritik tetapi dibungkus humor.

Cerita-cerita humornya juga cukup menghibur banyak kalangan di belahan dunia. Mirip dengan Nasrudin Hoja, sesungguhnya ia adalah tokoh sufi, filsuf, sekaligus penyair. Ia hidup di zaman Khalifah Harun ar Rasyid di Baghdad (806-814 M).

Profil Abu Nawas

Nama asli Abu Nawas adalah Abu Ali Al-Hasan bin Hani Al-Hakami. Dia dilahirkan pada 145 H (747 M) di kota Ahvaz di negeri Persia (Iran sekarang), dengan darah Arab dari ayah dan darah Persia dari ibu mengalir di tubuhnya. Ayahnya, Hani al Hakam, merupakan anggota legiun militer Marwan II.

Sementara ibunya bernama Jalban, wanita Persia yang bekerja sebagai pencuci kain wol. Sejak kecil ia sudah yatim. Sang ibu kemudian membawanya ke Bashrah, Irak. Di kota inilah Abu Nawas belajar berbagai ilmu pengetahuan.

Menurut informasi yang dihimpun dari tebuireng.online, masa muda Abu Nawas penuh kontroversi yang membuat Abu Nawas tampil sebagai tokoh yang unik dalam khazanah sastra Arab Islam. Meski begitu, sajak-sajaknya juga sarat dengan nilai spiritual, di samping cita rasa kemanusiaan dan keadilan.

Salah satu cerita menarik berkenaan dengan Abu Nawas adalah saat menejelang sakaratul mautnya. Konon, sebelum mati ia minta keluarganya mengkafaninya dengan kain bekas yang lusuh. Agar kelak jika Malaikat Munkar dan Nakir datang ke kuburnya, Abu Nawas dapat menolak dan mengatakan. “Tuhan, kedua malaikat itu tidak melihat kain kafan saya yang sudah compang-camping dan lapuk ini. Itu artinya saya penghuni kubur yang sudah lama”.

Tentu ini hanyalah sebuah lelucon, dan memang kita selama ini hanya menyelami misteri kehidupan dan perjalanan tohoh sufi yang penuh liku dan sarat hikmah ini dalam lelucon dan tawa.

Mengenai tahun meningalnya, banyak versi yang saling berbeda. Ada yang menyebutkan tahun 190 H/806 M, ada pula yang 195H/810 M, atau 196 H/811 M. Sementara ada pendapat lain yang mengatakan tahun 198 H/813 M dan tahun 199 H/814 M. Konon Abu Nawas meninggal karena dianiaya oleh seseorang yang disuruh oleh keluarga Nawbakhti yang menaruh dendam kepadanya. Ia dimakamkan di Syunizi di jantung Kota Baghdad.

Sejumlah puisi Abu Nawas dihimpun dalam Diwan Abu Nuwas yang telah dicetak dalam berbagai bahasa. Ada yang diterbitkan di Wina, Austria (1885), di Greifswald (1861), di Kairo, Mesir (1277 H/1860 M), Beirut, Lebanon (1301 H/1884 M), Bombay, India (1312 H/1894 M). Beberapa manuskrip puisinya tersimpan di perpustakaan Berlin, Wina, Leiden, Bodliana, dan Mosul. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Imadudin Muhammad
Publisher : Sholihin Nur

TERBARU

KOPI TIMES