Peristiwa Nasional Muktamar 48 Muhammadiyah

Duet Haedar Nashir-Abdul Mu'ti Kembali Akan Pimpin Muhammadiyah

Minggu, 20 November 2022 - 07:16 | 23.66k
Duet Haedar Nashir-Abdul Mu'ti Kembali Akan Pimpin Muhammadiyah
Haedar Nashir (kanan) dan Abdul Mu'ti di sela Muktamar Ke-48 Muhammadiyah. (Foto: Moh Ramli/TIMES Indonesia)
FOKUS

Muktamar 48 Muhammadiyah

TIMESINDONESIA, SOLO – Pemilihan 13 pimpinan pusat Muhammadiyah dalam Muktamar Ke-48 Muhammadiyah di Solo, selesai. Nama duet Haedar Nashir-Abdul Mu'ti kembali masuk dalam daftar tersebut. Dua tokoh tersebut juga mendapat suara terbanyak dari yang lainnya.

Pada muktamar ini, nama Haedar Nashir (incumbent ketum PP Muhammadiyah) dapat 2.203 suara, sedangkan Abdul Mu'ti (sekum incumbent) mendulang 2.159 suara. Pemilihan kali ini lewat e-Voting dan dilakukan di Edutorium UMS, Solo.

Mungkinkah dua tokoh ini akan kembali berduet di pucuk pimpinan pusat (PP) Muhammadiyah periode 2022-2027?

Beberapa tokoh organisasi yang didirikan oleh Kiai Ahmad Dahlan ini menginginkan Haedar Nashir dan Abdul Mu'ti memang masih memimpin Muhammadiyah. Salah satunya adalah Din Syamsuddin.

Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin itu meminta agar dua tokoh tetap berada di kepengurusan Muhammadiyah periode 2022-2027.

Ia menilai, dua tokoh itu merupakan intelektual dan ulama yang terbukti berhasil memajukan Muhammadiyah selama periode ini. "Mempertahankan dua figur intelektual- ulama yang berhasil memajukan organisasi pada periode berlalu yaitu Haedar Nashir dan Abdul Mu'ti," katanya dalam keterangan tertulis.

Menurutnya, memang banyak tokoh Muhammadiyah yang memiliki kapasitas dan bisa memajukan organisasi. "Banyak sekali kader atau tokoh Muhammadiyah yang mumpuni tapi mereka tidak akan bisa masuk kalau yang sudah lama di PP tidak legowo," jelasnya.

Tak hanya Din Syamsuddin, tokoh Muhammadiyah Muhajir Efendy juga menginginkan hal yang sama. Kata dia, dia tokoh tersebut sudah mampu membuktikan Muhammadiyah lebih maju. 

Menurut Muhadjir, Haedar adalah sosok yang menjadi acuan di Muhammadiyah. "Pak Haedar itu ensiklopedia hidup Muhammadiyah, menguasai mulai dari sejarah landasan filosofisnya dan renik-renik administrasi," katanya kepada wartawan.

Sedangkan Abdul Mu'ti, lanjut dia, adalah pelaksana handal apabila suatu kebijakan telah diputuskan di Muhammadiyah. "Prof Abdul Mu'ti itu seorang eksekutor yang bisa diandalkan di Muhammadiyah," ujarnya.

Pada Muktamar ke-48 kali ini, 13 nama yang ke luar tak jauh beda dengan Muktamar ke-47 Makkasar. Ada beberapa nama baru yang masuk. Berikut hasil nama dan suara 13 pimpinan pusat Muhammadiyah yang diperoleh di Muktamar ke-48 Muhammadiyah Solo:

Haedar Nashir 2203
Abdul Mu'ti 2159
Anwar Abbas 1820
Busyro Muqoddas 1778
Hilman Latief 1675
Muhadjir Effendy 1598
Syamsul Anwar 1494
Agung Danarto 1489
Saad Ibrahim 1333
Syafiq A Mughni 1152
Dadang Kahmad 1119
Ahmad Dahlan Rais 1080 
Irwan Akib 1001

Sementara itu, ada mekanisme pemilihan yang berbeda antara Muktamar ke-47 Muhammadiyah Makkasar dan Muktamar ke-48 Muhammadiyah Solo. 

Di Muktamar Makassar, pemungutan dilakukan secara manual. Sementara perhitungan dilakukan secara elektronik. Panitia menyiapkan 15 komputer untuk mendukung proses hitung secara elektronik. Setiap komputer akan ditempatkan tiga orang sebagai penginput data, saksi dan panitia pemilihan.

Sedangkan untuk Muktamar Solo ini, pemungutan suara sudah dilakukan dengan e-Voting. Setiap pemilik suara hanya tinggal menombol nama yang akan dipilihnya untuk 13 anggota pengurus pusat Muhammadiyah tersebut. Secara otomatis suara akan terekam dan penghitungan suara lebih simpel dan terbuka.

Sebagai informasi, nantinya 13 anggota pengurus pusat Muhammadiyah yang sudah disahkan kemudian melakukan musyawarah untuk memilih satu nama sebagai Ketum dan satu nama sebagai Sekretaris Umum PP Muhammadiyah masa jabatan 2022-2027. Muktamar Ke-48 Muhammadiyah ini akan ditutup Minggu sore. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Dhina Chahyanti
Publisher : Rizal Dani

TERBARU

KOPI TIMES