Peristiwa Daerah

Sekretaris MUI Jatim Prihatin Kasus Kekerasan Siswa di Sidoarjo

Senin, 26 September 2022 - 18:07 | 27.17k
Sekretaris MUI Jatim Prihatin Kasus Kekerasan Siswa di Sidoarjo
Sekretaris MUI Jawa Timur, Lia Istifhama saat menjadi pembicara di acara pasar rakyat dengan media partner TIMES Indonesia (Foto: dok Lia Istifhama)

TIMESINDONESIA, SIDOARJO – Sekretaris Majelis Ulama Indonesia Jawa Timur atau MUI Jatim, Lia Istifhama, merasa prihatin atas kasus kekerasan siswa sehingga mengakibatkan kematian, Fauzan (17) Siswa kelas III Insan Cendekia Mandiri atau ICM Boarding School Sidoarjo, yang tewas setelah menerima kekerasan dari tiga temannya.

Menurut perempuan yang biasa disapa Lia ini, seharusnya kekerasan di dunia pendidikan tidak terjadi jika pihak sekolah atau lembaga pendidikan lebih serius melakukan pemantauan atau pengawasan siswa di lingkungan sekolahnya.

"Saya tekankan pentingnya peran guru untuk melindungi dan mengawasi siswa agar bertindak sesuai norma sosial dan agama di lingkungan sekolah," kata perempuan yang juga dikenal sebagai aktivis sosial perempuan dan anak di Jawa Timur ini.

Menurutnya, sekolah atau lembaga pendidikan melalui guru, harus memantau siswanya. Sekolah melalui keamanan yang dimiliki, juga harus ekstra melakukan pemantauan di lingkungan sekolah.

Sekretaris-MUI-Jawa-Timur-Lia-Istifhama-a.jpgSekretaris MUI Jawa Timur, Lia Istifhama saat memberi bantuan kepada warga saat pasar rakyat dengan media partner TIMES Indonesia (foto dok Lia Istifhama)

"Jangan sampai lepas pemantauan, hingga siswa bisa bebas lakukan hal yang mengarah ke hal negatif seperti pertengkaran atau yang lainya sehingga merugikan mereka (siswa, Red)," imbuh Lia kepada TIMES Indonesia, Senin (26/9/2022).

Komite sekolah atau perkumpulan wali murid juga memiliki peran dalam perlindungan anaknya di sekolah. Komunikasi yang baik antara guru dan wali murid sangat membantu mengetahui perkembangan anak baik di rumah atau di sekolah.

Lebih jauh, Keponakan Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa ini menambahkan pentingnya mengedepankan etika yang diberikan pengajar kepada pelajar. "Kecerdasan kognitif saja tidak cukup. Saat ini pelajar atau siswa harus memiliki etika atau akhlak yang baik untuk berhasil," imbuhnya.

Menurut Lia, saat ini dunia remaja dihadapkan pada realita terjadinya demoralisasi. Banyak terjadi kasus pembullyan, penganiayaan, bahkan kasus pembunuhan dengan pelaku di bawah umur atau masih pelajar.

"Orang tua jangan sampai cuek, jangan hanya memikirkan pekerjaan atau masalah rumah tangga tanpa memikirkan perkembangan situasi atau proses tumbuh kembang anaknya," terangnya.

Ia juga mengingatkan orang tua tidak hanya memikirkan anak sendiri, lantas cuek dengan perkembangan situasi anak-anak di lingkungan mereka. Sebab lingkungan bermain juga mempengaruhi psikologis anak anak.

la mengatakan, orang tua harus sadar bahwa anak-anak sekarang butuh perhatian lebih. Jangan sampai anak-anak tumbuh menjadi manusia yang lupa memanusiakan manusia lainnya, apalagi memanusiakan teman mereka sendiri.

"Di sinilah kita bicara modal sosial. Bagaimana modal sosial bangsa ini tak lepas dari kita sendiri. Kita sebagai orang tua, apakah menyadari pentingnya solidaritas sosial dimiliki oleh anak-anak muda?" tanyanya

"Maka, ayolah kita menjadi teladan yang baik. Jangan sebaliknya, kita justru memberi contoh perilaku yang buruk buat anak-anak muda. Jangan ajari mereka untuk mudah membenci karena bangsa ini merdeka dengan jerih payah pahlawan. Jangan kemudian mudah timbul berbagai masalah sosial yang hanya merusak kelangsungan negeri yang damai ini," tambahnya.

Ketua DPD Perempuan Tani HKTI Jatim ini mendukung Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa untuk membentuk Satgas Perlindungan kepada Siswa di Sekolah.

Sekretaris-MUI-Jawa-Timur-Lia-Istifhama.jpg

"Untuk menangkal kekerasan di dunia pendidikan memang sangat diperlukan melibatkan semua pihak. Salah satunya dibentuk Satgas Perlindungan kepada Siswa di Sekolah seperti yang diungkapkan Bu Khofifah. Juga harus direalisasikan oleh Dinas Pendidikan Propinsi Jatim maupun Kabupaten//Kota," jelentrehnya.

Lia juga berharap setiap kejahatan yang dilakukan oleh anak-anak atau remaja di bawah umur, maka orang tua seharusnya juga diberi sanksi sosial. Ini sebagai bentuk shock terapi agar orang tua semakin memperhatikan perkembangan psikis anak-anaknya.

"Biar orang tua tidak lalai dalam memperhatikan tumbuh kembang anaknya, serta ada shock terapi agar kasus kekerasan anak atau siswa seperti yang terjadi di Sidoarjo dengan pelaku anak dibawah umur tidak kembali lagi terjadi didaerah lain," harapnya.

Diberitakan sebelumnya, kasus kekerasan siswa terjadi di Sidoarjo. Fauzan (17) pelajar asal Desa Kalosi, Kecamatan Alla, Kabupaten Enrekang, Provinsi Sulawesi yang sekolah di Insan Cendekia Mandiri atau ICM Boarding School Sidoarjo, tewas usai mengalami kekerasan dari ketiga temanya. Padahal awalnya pihak sekolah menyebut korban terjatuh dari lantai 3 lembaga pendidikan itu. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Muhammad Iqbal
Publisher : Sholihin Nur

TERBARU

KOPI TIMES