Pendidikan

Ajak Anak-Anak Aware dengan Kesehatan Mental Melalui Cara Menyenangkan  

Minggu, 20 November 2022 - 21:23 | 26.70k
Ajak Anak-Anak Aware dengan Kesehatan Mental Melalui Cara Menyenangkan  
Kegiatan anak-anak di Festival Hari Anak Internasional 2022 di Taman Bacaan Puri Anjali Kota Kediri (FOTO: Yobby/TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, KEDIRI – Menjaga kesehatan mental anak sama pentingnya dengan menjaga kesehatan fisik anak-anak. Dengan kesehatan mental yang lebih terjaga baik, akan membuat tumbuh kembang, baik fisik atau emosi anak lebih baik. Hal tersebut nantinya juga turut berdampak pada kehidupan sosial anak-anak di masa depan.

"Kesehatan mental tidak bisa lepas dari kesehatan fisik," tegas Dosen Psikologi IAIN Kediri Fatma Puri Sayekti.

Dengan perkembangan jaman saat ini, potensi gangguan pada kesehatan mental bisa saja muncul dari lingkungan sekitar tanpa disadari. Bertepatan dengan Hari Anak Sedunia atau World Children's Day, anak-anak di kota Kediri diajak mengenali potensi-potensi atau penyebab gangguan kesehatan mental melalui taman-taman tematik. 

Festival-Hari-Anak-Internasional-2.jpg

Digelar di Taman Bacaan Puri Anjali, Kota Kediri, Minggu, (20/11/2022), Festival Hari Anak Internasional 2022 Kota Kediri memiliki lima taman tematik atau kelas tematik yang bisa diikuti anak-anak. Menariknya saat mendaftar, anak-anak yang ambil bagian bebas memilih materi apa yang ingin diikuti.  Fatma Puri Sayekti mengungkapkan dengan memilih sendiri materi, anak-anak saat datang sudah memiliki gambaran apa yang ingin dipelajari.

"Anak-anak merdeka dulu, dapat materi secara menyenangkan. Ada beberapa macam materi untuk menuju tema umum, yakni Kesehatan mental. Kami berharap anak-anak bisa lebih aware terhadap hal-hal yang bisa mengganggu kesehatan mental. Perundungan atau kekerasan seksual, baik korban dan pelaku arahnya nanti juga ke masalah kesehatan mental," tutur Fatma.

Untuk anak usia SD terdapat dua taman tematik. Yakni Taman Jelajah Kebun dan Taman Anti Kekerasan Seksual. Di Taman Jelajah Kebun anak-anak diajak sejenak meninggalkan teknologi dan lebih berinteraksi dengan lingkungan. Pada Taman Anti Kekerasan Seksual, pembina dari Gerakan Perpustakaan Anak Nusantara (GPAN) Kediri memberikan materi tentang pendidikan seksual dan anti kekerasan seksual dengan cara yang lebih menyenangkan, melalui  dongeng atau cerita serta wayang.  

Mengenalkan pendidikan seksual dan anti kekerasan seksual sejak dini penting mengingat tidak menutup kemungkinan anak-anak secara tidak sadar atau tidak tahu telah menjadi korban dan tidak berani melawan. "Dengan cara yang tepat kita bisa menjelaskan tanpa harus memakai bahasa orang dewasa," kata Fatma.

Sementara itu untuk usia SMP-SMA, ada Taman Anti Perundungan. Di sekolah atau lingkungan, anak-anak serta remaja terkadang secara tidak sadar telah menjadi pelaku perundungan baik melalui verbal atau non verbal.  Di teman ini, anak-anak dan para remaja diajak berdiskusi bersama bagaiman mengenali dan mencegah perundungan baik itu di sekolah atau lingkungan.

Festival-Hari-Anak-Internasional-3.jpg

"Juga ada asesment, pernah atau tidak menjadi korban atau pelaku," tambah Fatma lagi. Juga ada Taman Eksperimen Sains, dimana mereka yang menjadi peserta diajak teman sebaya dari English Massive Tosaren untuk melakukan percobaan sains. 

Menjaga kesehatan mental tidak hanya menjadi tanggung jawab anak itu sendiri. Tapi juga orang tua atau orang dewasa di lingkungan. Di taman terakhir ada Taman Orang Tua Cerdas yang dibuka untuk orang tua, mahasiswa, guru dan umum. Membawa tema "Cooperative Parenting,Mengasuh Anak Berbasis Raos" dan ditemani Dosen Psikologi IAIN Kediri Sunarno, di kelas ini para orang tua diberi bekal tentang peran pengasuhan dalam kesehatan mental anak. 

Fatma mengungkapkan, perundungan atau kekerasan seksual yang didiamkan atau tidak diketahui bisa berkembang menjadi masalah gangguan kesehatan mental. Anak-anak bisa menjadi pendiam dan depresi yang kemudian berujung pada hal-hal negatif.

"Jadi dari dua sisi anak anak ini ditumbuhkan kekuatan kesehatan mentalnya. Dari orang tua diberi bekal tentang kesehatan mental anak bagaimana kooperatif parenting. Seperti bagaimana ketika ayahnya tidak berperan, bagaimana ketika ibu lebih berperan," jelasnya. 

Festival Hari Anak Internasional 2022 Kota Kediri di Taman Puri Anjali diikuti lebih dari 100 orang anak dari sekolah-sekolah yang ada di Kota Kediri. Sementara pembina datang dari alumni mahasiswa, Pramuka, dosen dan juga pengajar. Anak-anak yang ambil bagian sendiri tampak antusias mengikuti setiap materi yang diberikan.

Ukti Nuraini, salah satu guru yang mendampingi muridnya mengikuti Festival Hari Anak Internasional 2022 tersebut, berharap dengan ilmu yang didapat dari kegiata tersebut anak-anak bisa lebih menjaga diri dan membatasi dirinya.  "Yang sekarang terjadi orang tua tidak bisa selalu memeriksa apa yang dilihat anak di ponsel dan tidak semua orang tua paham IT," tukasnya.

Ukti juga mengungkapkan anak-anak asuhnya merasa senang karena selain mengenal lingkungan baru, juga mendapatkan teman baru baik yang seumuran atau dari para pembina. Festival Hari Anak Internasional 2022 ini juga digelar di Pekalongan dan Sragen. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Faizal R Arief
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan

TERBARU

KOPI TIMES