Pendidikan

Tiga 'Mutiara' Membangun Pertanian Menurut Kepala BPPSDMP Kementan

Sabtu, 19 November 2022 - 18:25 | 26.47k
Tiga 'Mutiara' Membangun Pertanian Menurut Kepala BPPSDMP Kementan
Kepala BPPSDMP Kementan Dedi Nursyamsi saat berbicara di kampus Polbangtan Malang, Sabtu (19/11/2022) dalam gelaran 1st Agripolyfest 22. (Foto: Polbangtan Malang for TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, MALANG – Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian (Kementan) Dedi Nursyamsi hadir dalam gelaran Agriculture Polytechnic Festival 2022 (1st Agripolyfest 22) di Polbangtan Malang, Sabtu (19/11/2022). Di depan ribuan petani milenial yang hadir, ia membeberkan tiga hal yang disebutnya sebagai 'tiga mutiara' dalam membangun pertanian.

Mutiara pertama adalah smart farming atau pertanian cerdas. Salah satu cirinya berorientasi pada kemampuan meningkatkan kuantitas  dan kualitas produksi hingga kontinuitas produk pertanian.

Ciri lain dari smart farming adalah pemanfaatan alat mesin pertanian (aslintan), dan pemanfaatan teknologi 4.0 termasuk di antaranya artificial inteligence (AI), big data, robotic, dan sejenisnya. 

BPPSDMP-Kementan-2.jpgKepala BPPSDMP Kementan Dedi Nursyamsi berbicara di hadapan awak media. (Foto: Ferry Agusta/TIMES Indonesia)

"Itu yang harus kalian mengerti pahami untuk membangun pertanian dan mendapatkan duit sebanyak-banyaknya," ujar Dedi dalam acara yang berlangsung secara hibrid.

Mutiara kedua adalah Kredit Usaha Rakyat (KUR). Ia mengibaratkan KUR sebagai 'bensin' yang menggerakkan usaha pertanian. KUR, kata Dedi, didedikasikan untuk para petani membangun agribisnis. Apalagi KUR memiliki bunga 6 persen. Besaran bunga ini diklaim lebih rendah dari bunga kredit pada umumnya.

Maka dari itu, Dedi mendorong para petani milenial dapat dan mampu mengakses KUR dengan baik untuk membangun usaha pertanian. "Manfaatkan KUR untuk membangun agribisnis," kata Dedi.

Mutiara ketiga sebagai bekal membangun pertanian adalah kolaborasi atau kerja sama. Dedi mendorong para pelaku usaha pertanian untuk menjalin kerja sama dengan seluruh stakeholder atau pemangku kepentingan.

Termasuk, lanjut dia, bekerja sama dengan konsumen. Berkaitan dengan konsumen, Dedi mengingatkan pentingnya mengerti kemauan pasar sebelum melakukan aktivitas produksi hingga distribusi. 

"Pertanian bukan hanya soal panen," ucapnya. "Kalian berbisnis harus dimulai dari pasar," sambungnya.

Dedi Nursyamsi juga mendorong para petani milenial sebagai ujung tombak pertanian Indonesia masa depan, untuk memanfaatkan basis data (database) dalam mendukung usaha pertanian. Database yang tersedia di banyak institusi baik pemerintahan, perguruan tinggi, dan lainnya, bisa dipelajari untuk melihat permintaan (demand) dan penawaran (demand).

BPPSDMP-Kementan-3.jpgKepala BPPSDMP Kementan Dedi Nursyamsi melihat produk yang dipajang di salah satu stan pameran 1st Agripolyfest 22 di Polbangtan Malang, Sabtu (19/11/2022). (Foto: Ferry Agusta/TIMES Indonesia)

Pada kesempatan itu, Dedi juga menekankan pentingnya regenerasi pertanian. Ia mendorong para petani milenial, melakukan resonansi dengan mengajak generasi muda yang lain bergerak dalam bidang pertanian.

"Saya minta kalian persiapkan diri untuk terjun bebas di samudra pembangunan pertanian untuk mendapatkan uang sebanyak-banyaknya," ujarnya.

Selain berbicara dan memberikan arahan, Kepala BPPSDMP Kementan juga meninjau stan-stan pameran produk olahan pertanian dalam 1st Agripolyfest 22. Produk tersebut merupakan karya mahasiswa, dosen, dan petani milenial dari berbagai daerah di Indonesia. (*)

**) Dapatkan update informasi pilihan setiap hari dari TIMES Indonesia dengan bergabung di Grup Telegram TI Update. Caranya, klik link ini dan join. Pastikan Anda telah menginstal aplikasi Telegram di HP.



Editor : Ferry Agusta Satrio
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan

TERBARU

KOPI TIMES