Pendidikan UIN Malang

Mahasiswa Asing Program I-YES Fakultas Humaniora UIN Maliki Malang Belajar Membuat Batik

Rabu, 16 November 2022 - 19:53 | 18.05k
Mahasiswa Asing  Program I-YES Fakultas Humaniora UIN Maliki Malang Belajar Membuat Batik
Proses ekoprint mahasiswa I-YES menggunakan daun jati dan daun jarak di rumah Hamparan Rintik pada Rabu 16 November 2022 (Foto: Ayu/TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, MALANGBatik adalah warisan dunia dari negara Indonesia, Batik sendiri merupakan ciri khas Bangsa Indonesia. Kain yang bercorak khas ini dibuat secara khusus dengan menorehkan warna-warna tertentu. Tidak hanya masyarakat Indonesia, namun penduduk dan mahasiswa asing juga tertarik dengan kain yang satu ini. Kedatangan mahasiswa asing ke Indonesia, salah satunya lewat program International Youth-Enhancing Study (I-YES) oleh Fakultas Humaniora UIN Maliki Malang (UIN Maulana Malik Ibrahim Malang) membantu eksistensi batik ke kancah internasional.

Fakultas Humaniora memperkenalkan batik melalui kelas membatik yang bekerja sama dengan Hamparan Rintik yang terletak di desa Mulyorejo, Sukun, Kota Malang pada Rabu 16 November 2022. Batik yang digunakan untuk kelas kali ini adalah batik  teknik jumputan dan ekoprint, Fikrah Ryanda Saputra selaku pemilik rumah hamparan rintik mengajari para mahasiswa I-YES membuat pewarnaan kain teknik jumputan yaitu dengan mengikat dan mencelup, sedangkan ekoprint adalah teknik membatik dengan memanfaatkan daun sebagai coraknya.

“Untuk jumputan menggunakan warna sintetis, karena waktu yang terbatas yaitu tiga jam. Hasil yang kita bikin adalah kain dengan ukuran kurang lebih 50x30 cm dengan menggunakan kain katun. Ukuran kain sekecil ini, bisa digunakan untuk bermacam-macam produk seperti tote bag, sarung bantal kecil, dan juga taplak,” ungkap Fikrah

Pemilik rumah Hamparan Rintik menjelaskan bahwa proses pembuatan batik adalah dengan memordan kain terlebih dahulu. Mordan di sini maksudnya menguatkan kain dengan mineral seperti tawas, besi sulfat, dan juga cuka. Hal ini dilakukan agar kain memiliki muatan mineral yang nanti bisa memudahkan proses muncul warna sempurna ketika di ekoprint. Kain katun ini dimordan selama 15 menit kemudian diangin-anginkan.

Setelah diangin-anginkan, kain dijumput atau dilipat-lipat dengan karet hingga membentuk motif sesuai pola. kemudian, kain tersebut dicelup ke dalam kotak warna napthol atau sintetis. Ketika proses pewarnaan selesai, ikatan tadi dibuka dan bagian yang kosong diberi daun jati atau daun jarak sebagai coraknya. Setelah itu, seluruh bagian kain ditutup dengan plastik kemudian digulung dan diikat dengan tali hingga tidak terdapat udara didalamnya. Proses pengikatan ini harus erat agar mendapatkan corak batik yang maksimal.

Proses-ekoprint-mahasiswa-I-YES-z.jpg

Pewarnaan kain batik dengan warna napthol atau sintesis dibantu oleh Fikrah pemilik rumah Hamparan Rintik (foto: Ayu/TIMES Indonesia)

Proses terakhir adalah mengukus kain yang sudah diikat tadi. Proses pengukusan dilakukan selama 1 hingga 1,5 jam. Kain yang sudah jadi nantinya tidak boleh dicuci selama seminggu agar warna daun teroksidasi terlebih dahulu.

Salah satu mahasiswa I-YES Asma yang berasal dari Tunisia mengungkapkan bahwa Ia sudah pernah belajar batik, namun kali ini berbeda, karena dulu menggunakan canting sedangkan sekarang lebih berimajinasi dengan ikatan-ikatan.

“Enggak sulit, tapi harus tahu bagaimana warna ini dengan warna itu dan dicampur atau enggak. Lebih berimajinasi dan berinovasi. Di sini menarik karena desain sendiri, dan merasa bagus kalau bisa pakai baju yang beda dari semua,” imbuhnya. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher : Sholihin Nur

TERBARU

KOPI TIMES