News Commerce

Kisah Sukses Percetakan “Cetak Pintu”, Ganti Konsep Bisnis saat Pandemi

Rabu, 19 Oktober 2022 - 20:24 | 15.85k
Kisah Sukses Percetakan “Cetak Pintu”, Ganti Konsep Bisnis saat Pandemi
CEO Pintu Cetak, Rama Satya sedang bersama Farhan/Nasdem, dan bapak bapak pengurus ISMI Jabar (Foto: Dokumen Pribadi)

TIMESINDONESIA, BANDUNG – Pandemi Covid-19 membawa dampak yang sangat besar bagi para pelaku usaha. Ada yang ambruk tak bisa melanjutkan usahanya, tapi ada juga yang justru bertumbuh jadi entitas usaha baru karena mampu melihat peluang baru.

Kata orang, jika sedang terpepet biasanya buah ide atau gagasan muncul dengan cemerlang.  Ini yang dialami oleh usaha percetakan umum Cetak Pintu.

“Dulu dari 2006 hingga 2020, kami memang menerima order, baik berupa tender dari lembaga pemerintah atau order dari rekanan umum,” ujar R. Rama Satya, S.E. M.M., CEO Cetak Pintu.

Sampai sekarang pun, lanjut Rama, masih ada order juga untuk cetakan umum. “Tapi kami ingin menjadikan cetakan kemasan produk sebagai prioritas,” ujar Rama.

Pada saat PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) di era Covid-19, Rama mengalami kendala pada proyek yang ditanganinya. “Kami berinisiatif untuk membuat cetakan produk berdasarkan order yang sedang booming kala itu dari orderan online seperti Gofood dan Grabfood,” ulas Rama.

Cetak-Pintu-2.jpgKaryawan Pintu Cetak sedang memperlihatkan produk cetak yang jadi andalan  (Foto: Djarot/TIMES Indonesia)

Waktu PSBB, kata Rama, dirinya seperti melihat fenomena baru untuk dunia perkulineran dan pengiriman barang. “Pada saat itu, saya pribadi memesan produk dari Gofood, produk makanan sampai ke rumah, saya  melihat bahwa cetakannya atau bentukannya itu dari kertas,” papar Rama.

Biasanya produk tersebut hanya ada di catering atau katering arisan. “Saya melihat pada saat itu, betul juga kalau kuliner sekarang fokusnya kepada online berarti mereka mempunyai market yang terbaru,” ujar Rama.

Itulah para target pasar yang berdiam di rumah atau di kantor. “Untuk kondisi itu, pasti membutuhkan solusi untuk menempatkan makanan itu. Akhirnya makanan itu kan pasti ditempatkan di dalam kemasan,” ulas Rama.

Kemasan itu terbuat dari bahan kertas yang sudah memiliki laminasi, anti minyak, jadi tidak perlu lagi kertas nasi. “Juga produk itu seperti berbahan kertas daur ulang dan ada laminasi antiminyak, tidak ada plastik sama sekali,” sahut Rama yang sekaligus mendukung konsep go green.

Dari situlah, Rama kita terinspirasi, mengolah dan meriset, kira kira bentuk kemasan seperti apa yang memang sesuai dengan apa yang mereka jual. “Dari situlah kita mulai untuk berkembang. Alhamdulilah, karena ada pandemi, ide itu tidak akan muncul dan ini seperti fenomena yang terdisrupsi. Jadi, seperti pembiasaan baru itu,” ujar Rama.

Cetak-Pintu-3.jpgProduk cetak Pintu Cetak yang banyak dipesan konsumen (Foto: Djarot/TIMES Indonesia)

Rama melihat bisnis kuliner pun cara jualannya pun berubah. Percetakan pun harus beradaptasi dengan perubahan cepat tersebut. “Dengan cara kita harus memproduksi dari kertas menjadi olahan makanan yang siap pakai dan terjangkau,” papar Rama.

Untuk tahun pertama, Rama mengalami kesulitan mencari target karena saat itu banyak usaha kuliner yang meminimalkan pengeluaran untuk kemasan dan penjualannya.

Pada awal 2021, Rama mencari ide bagaimana untuk menggapai konsumen yang tidak hanya di Bandung saja, tetapi seluruh Indonesia. “Karena sekarang delivery sudah banyak di-support dengan pengiriman-pengiriman," katanya.

Para delivery itu, lanjut Rama, bisa membantu mengirimkan barang ke seluruh Indonesia dengan mudah. “Akhirnya, pada saat itu, kami mencari data mengenai data kuliner di seluruh Indonesia. Alhamdulillah itu adalah salah satu cara kita mendekatkan diri dan mempromosikan produk kita ke para konsumen tersebut,” papar CEO Cetak Pintu, Rama. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Deasy Mayasari
Publisher : Rizal Dani

TERBARU

KOPI TIMES