Kopi TIMES

Belajar dari Ki Hadjar Dewantoro

Minggu, 20 November 2022 - 10:32 | 14.53k
Belajar dari Ki Hadjar Dewantoro
Amirudin Mahmud, Pemerhati Sosial-Politik dan Keagamaan.

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Sudah lebih dua puluh tahun saya menjadi guru. Selama kurun waktu cukup lama tersebut saya tak pernah mempelajari lebih dalam pemikiran-pemikiran Ki Hadjar Dewantoro (KHD). Sebagai seorang pendidik sepantasnya pemikiran KHD dipahami, dihayati dan dipraktikan dalam keseharian saat menjalani profesi sebagai guru. Sebab KHD adalah tokoh yang menjadi ikon pendidikan Indonesia. 

Program Guru Penggerak seperti mebangunkan kesadaran saya betapa penting menguasai, memahami, mendalami dan menghayati pemikiran KHD. Sebelumnya saya tak pernah menduga pemikiran KHD  diperkenalkan lebih awal dalam rangkaian panjang pembelajaran di pendidikan Calon Guru Penggerak (CGP). Terhitung sejak 20 Nopember 2022 saya mengikut pendidikan CGP di angkatan 7.  Awalnya saya mengikuti kegiatan tersebut bermodalkan semangat mengikuti perubahan yang sedang dilakukan Menteri Pendidikan Mas Nadiem Makarim. Saya ingin menjadi bagian transformasi pendidikan Indonesia. 

KHD adalah bangsawan Jawa, aktivis pergerakan kemerdekaan Indonesia, kolumnis, politisi dan pelopor pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia dari zaman penjajahan Belanda. Suwardi Suryadiningrat (nama lahir KHD) adalah pendiri Perguruan Taman Siswa,  suatu lembaga pendidikan yang memberikan kesempatan bagi para pribumi untuk memperoleh hak pendidikan seperti halnya para priyayi maupun orang Belanda. Karena kegigihannya dalam memperjuangkan pendidikan di Indonesia tanggal kelahirannya diperingati sebagai hari pendidikan nasional. 

Pemikiran KHD

Dari pembelajaran dalam pendidikan CGP diungkap beberapa pemikiran KHD yang menurut saya sangat berlian, visioner, melesat jauh ke depan antara lain:

1.    Pendidikan adalah menuntun. Yakni menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagian setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Demikian, pendidik itu bertanggungjawab membimbing, melatih, mengarahkan peserta didik guna menemukan bakat, potensi yang terpendam dalam dirinya. Untuk menuntun peserta didik, KHD mendorong pendidik dapat berperan sebagai among dengan trilogi pendidikannya yakni Ing Ngarso sung Tulodho (di depan menjadi teladan), Ing Madya Mangun Karsa (di tengah membangun motivasi), tut wuri handayani (di belakang memberi dorongan)

2.    Pendidikan itu memerdekakan. Manusia merdeka adalah manusia yang hidupnya lahir maupun bathin tidak bergantung ke orang lain tetapi bersandar atas kekuatan diiri sendiri. Pendiikan tak boleh memaksa. Pendidikan hanya menebalkan kemampuan, potesnsi dan bakat yang dimilki oleh peserta didik.

3.    Kodrat alam dan kodrat zaman. Kodrat adalah keadaan bawaan peserta didik yang berbeda-beda satu dengan yang lain seperti fisik, lingkungan alam, atau masyarakat yang mengelilinginya. Sementara kodrat zaman adalah waktu dimana peserta didik hidup. Zaman tentu berubah sangat cepat. Mendidik dilakukan sesuai kodrat alam anak dan kodrat zaman. Pendidik sepatutnya dapat membaca siapa peserta didik, di mana dia tinggal? Kapan dia hidup? Itu selayaknya menjadi pertimbangan pendidik. Sehingga peserta didik mendapatkan apa yang dibutuhkannya guna meraih kebahagiaan hidup baik sebagai manusia atau sebagai anggota masyarakat di tempat di tinggal di zaman dia hidup.

4.    Bermain adalah kodrat anak. Pembelajaran sepatutnya melibatkan unsur permainan. Guru harus kreatif mengemas pembelajaran dengan permainan. KHD mengisyaratkan bahwa banyak permainan tradisional anak-anak yang mengandung nilai edukatif seperti coklak dan lainnya.

5.    Pendidikan berpusat pada anak. Pendidik wajib menyayangi peserta didik. Kebutuhan peserta didik sepantasnya dipenuhi. Bakat, potensi anak yang terpendam selayaknya digali, dikembangkan sesuai kebutuhan dan keinginan peserta didik.
Arah ke depan

Selama ini nampaknya ada yang salah dalam pola pikir saya terkait pendidikan. Ego pribadi sebagai guru seringkali membuat saya merasa dominan di dalam kelas. Kemudian saya juga beranggapan bahwa hukuman adalah salah satu media pendidikan. Ya, walaupun saya mempraktikannya dengan ekstra hati-hati.  Saya menghukum dengan hal-hal yang mendidik seperti menghafal, menyanyi di depan kelas dan lainnya. Saya menghindari hukuman yang bersifat fisik. Sebab saya sadar hal itu tak boleh dilakukan seorang guru. 

Seiring dengan keikutsertaan dalam pendidikan CGP  saya sadar paradigma dan mindside saya seperti di atas tak pantas dipertahankan. Saya harus  melakukan perubahan strategi, pendekatan dan metode dalam mendidik di masa yang akan datang. Berikut arah perubahan yang akan dilakukan, pertama, memasukan unsur permainan dalam pembelajaran di kelas. Terlebih saya mengajar di sekolah dasar. Mereka pastinya lebih membutuhkannya guna mengurangi kejenuhan dalam kelas. Unsur permainan berupa ice breaking, yel-yel atau lainnya yang diselipkan ke dalam pembelajaran. Hal ini juga termasuk komitmen saya menyangi mereka.

Kedua, menggali potensi dan bakat peserta didik dengan cara mencoba. Yakni mendorong peserta didik untuk berani mencoba apapun yang dianggapnya bisa. Kebisaan apapun yang mereka milki layak ditampilkan di depan peserta didik yang lain. Ini bertujuan untuk memberi semangat kepada yang bersangkutan dan memberi motivasi kepada yang lain.

Ketiga, lebih fokus pada ketrampilan peserta didik dalam memberikan penilaian. Selama ini pendidikan memberatkan soal kemampuan pengetahuan peserta didik. Kemampuan atau keberhasilan peserta didik dilihat dari raport, ranking dan lainnya. Ketrampilan peserta didik lebih dibutuhkan secara nyata dalam kehidupannya yang mengantarkan mereka meraih kebahagian baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masayarakat.

Walhasil pendidikan pemikiran KHD sangat menginspirasi banyak hal. Sepantutnya menjadi pegangan guru di Inodnesia. Kemudia Program guru penggerak pantas diacungin jempol. Bisa jadi lokomotif perubahan pendidikan di Indonesia. Sekarang guru Indonesia telah bergerak, semoga mendatangkan kemajuan pendidikan di tanah air yang selama ini terlihat berjalan di tempat. Belum menemukan momentum perubahan. Gonta-ganti kurikulum, bongkar pasang kebijakan menjadi indikasi hal tersebut.

***

*) Oleh: Amirudin Mahmud, Pemerhati Sosial-Politik dan Keagamaan.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

**) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Irfan Anshori
Publisher : Ahmad Rizki Mubarok

TERBARU

KOPI TIMES