Kopi TIMES

Sri Mulyani Indrawati Sang "Pahlauang"

Jumat, 18 November 2022 - 11:21 | 29.31k
Sri Mulyani Indrawati Sang
Muhammad Aras Prabowo, S. E,. M. Ak, Kaprodi Akuntansi Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia; Direktur Lembaga Profesi Ekonomi dan Keuangan PB PMII; Mahasiswa Program Doktor Ilmu Akuntansi UNTIRTA.

TIMESINDONESIA, BANTEN – Puteri Kebumen ini lahir 60 tahun, 2 bulan, 19 hari yang lalu dari pasangan Prof. Satmoko dan Retno Sriningsih. Kedua orang tuanya asli Kebumen, namun dia dilahirkan di Tanjung Karang (sekarang Bandar Lampung) Provinsi Lampung. Dia dibesarkan dalam lingkungan keluarga akademisi Universitas Indonesia. Namanya bernuansa Jawa yang kental, Sri Mulyani Indrawati, S.E., M.Sc., Ph.D.

Dalam bahasa Sansekerta Sri berarti sinar atau cahaya yang, sangat familiar bagi gadis Jawa dulunya. Kemudian, Mulyani asal kata mulya yang juga berharga. Diakhiri dengan Indrawati yang terbagi dua kata yaitu indra dan wati yang melambangkan fitrah perempuan, feminin. 

Tiga gelar akademik di belakang namanya, menegaskan bahwa dia tetap menjaga warisan orang tuanya sebagai seorang akademisi. Selanjutnya, mengajar matakuliah Ekonomi Indonesia di Andrew Young School of Policy Studies di Georgia. Gelas SE-nya diperoleh di kampus tempat orang tuanya mengajar. University Illinois at Urbana-Champaign menjadi pilihannya untuk meraih gelar M.Sc., Ph.D di Amerika Serikat. 

Memulai karir sebagai Ekonom di US Agency for International Development (USAID) sebagai konsultan di Atlanta, Georgia. Tahun 2001 itu, dia berkhidmat untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) demi membangun otonomi Negara yang kuat dan mapan. Buah pikirnya sudah kita nikmati sekarang. 

Usia 39 tahun, dia sudah menduduki posisi strategis di dunia internasional mewakili 12 negara ASEAN sebagai Direktur Eksekutif International Monetary Fund (IMF) atau Dana Moneter Internasional. Disinilah dia mulai merintis dirinya sebagai "Pahlauang" (Pahlawan Keuangan) untuk NKRI kurang lebih 2 Tahun. 

Berkhidmat langsung kepada NKRI dimulainya sebagai Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas pada Kabinet Indonesia Bersatu pada kepemimpinan pertama Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Tidak butuh waktu lama, SBY membaca keahlian Ibu Sri di bidang keuangan, pada tahun 2005 diangkat sebagai Menteri Keuangan pada kabinet yang sama.

Nasionalismenya ia perlihatkan dengan memecat anak buahnya yang korupsi. Dia juga membangun imun kementeriannya terhadap virus korupsi. Antisipasi preventifnya terhadap perilaku tikus dengan sistem perpajakan dan keuangan yang akuntabel dan transparan. Dia menjadi "pahlauang" di Kementerian Keuangan saat itu.

Sikap ke-pahlauang-nya membawanya dinobatkan sebagai Menteri berintegritas. Mungkin hanya dia yang mewujudkan tag line SBY 'Katakan Tidak Kepada Korupsi'. Di sisi yang lain, ekonomi Indonesia dibuatnya tumbuh dengan meningkatkan investasi sampai $8,9 miliar. Karena prestasinya itu, dia diganjar sebagai "pahlauang" Euromoney Finance Minister of the Year oleh Majalah Euromoney.

Indonesia mencapai puncak tertinggi pertumbuhan ekonomi 6.6 persen setelah krisisis 1997 di ttahun 2007. Meskipun pada tahun setelahnya NKRI dihadapkan oleh krisis ekonomi global tahun 2008 yang mengakibatkan pelambatan ekonomi 0,6%. Akan tetapi dengan berbekal pengalaman yang mumpuni, dengan jejaring keuangan internasional dia mampu memformulasikannya dalam bentuk kebijakan radikal untuk keluar dari krisis. 

Berhasil keluar dari krisis, Juli 2008 Sri Mulyani dimutasi menjadi Menteri Koordinator Bidang Ekonomi. Tujuan SBY untuk memastikan bahwa krisis tertangani olehnya secara komprehensif, yaitu harmonisasi kebijakan pencegahan krisis melalui Kementerian Keuangan dan Kementerian di bawah koordinator bidang ekonomi. 

Masih Tahun yang sama, tidak lama setelah ia menjadi "pahlauang" krisis, Sri Mulyani didapuk oleh majalah bergengsi di dunia global, Forbes sebagai wanita paling berpengaruh ke-23 di dunia. Betul-betul "pahlauang" bukan?. Berkat ke-pahlauang-annya, Negara tidak ketinggalan memberikan penghargaan sebagai wanita Kebumen paling berpengaruh di Indonesia.

Ke-pahlauang-annya tidak sampai disitu. Tahun 2007 dan 2008, oleh majalah Emerging Markets menganugrahkan Bu Sri sebagai Asia's Finance Minister of The Year. Hebat bukan? Karena ke-pahlauang-annya SBY setelah terpilih untuk kedua kalinya, kembali mempercayakan Bu Sri sebagai Menteri Keuangan tahun 2009.

Berbeda dengan negara-negara maju di dunia, tahun 2009 perekonomian Indonesian tumbuh 4.5% saat banyak negara-negara di dunia mengalami kemunduran. Ekonomi Indonesia kala itu hanya disaingi oleh China dan India. Masih soal prestasi, pemerintah menantang Ibu Sri untuk menaikkan setoran pajak penghasilan dari 4,35 juta orang hingga sebesar 16 juta di lima tahun terakhir. 

Tanpa kendala berarti, sekali lagi Bu membuktikan ke-pahlauang-annya dalam pengelolaan keuangan negara dengan pertumbuhan sekitar 20% setiap tahun hingga lebih dari Rp600 trilliun pada tahun 2010. SBY tambah kagum dengan prestasi Bu Sri. Prestasi Bu Sri untuk Indonesia membuat banyak negara ingin mengetahui tip dan trik pengelolaan keuangan agar semoncer Indonesia. Bisa jadi karena itu, Bu Sri pernah dikabarkan oleh The Guardian koran Inggris disadap oleh intelijen asal Australia. Mau tahu amat atau mau tahu aja? Sampai sadap-sadapan. Negara asing aja mengakui kalau Bu Sri seorang "pahlauang".

Ternyata bukan hanya negara asing aja yang terusik atas ke-pahlauang-an Bu Sri. Pengusaha yang juga tokoh politikus juga ikut panas dingin. Bagaimana tidak, "pahlauang" kita mau mengusut penggelembungan pajak oleh korporasi-korporasi bandel. Intervensi politiknya menggangu profesionalismenya, sehingga memutuskan untuk mengusurus keuangan dunia. Ya, seperti itulah karakter "pahlauang".

"Pahlauang" Indonesia diminta dunia mengurus keuangan bumi sebagai Direktur Pelaksana Bank Dunia. Bu Sri diberi kewenangan mengatur tata kelola keuangan internasional 74 negara di Amerika Selatan, Karibia, Asia Timur, Pasifik, Timur Tengah dan Afrika Utara, Indonesia tidak masuk.

Walhasil, ekonomi Indonesia meresot 3,8%. Nilai tukar rupiah 1% dibandingkan dollar. Saham Indonesia konsisten turun dalam rentan waktu17 bulan. Kejadian itu diberi istilah "Indonesia’s loss, and the World’s gain (Kerugian Indonesia, dan keuntungan dunia)". Seperti itulah fenomena seorang "pahlauang" meninggalkan tempat sebelum waktunya. Untuk nggak jadi miskin. Tapi nggak mungkin juga, karena jiwa "pahlauang" selalu memiliki sikap nasionalisme untuk negerinya. Penulis yakin, Bu Sri saat itu tetap memperhatikan Indonesia dari luar. Itu semua gara-gara semburan lumpur. 

Pada tahun 2014, majalah Forbes menetapkan Bu Sri sebagai "pahlauang" wanita paling berpengaruh di dunia urutan ke-38. Bu Sri sudah jadi "pahlauang" dunia. 

Keluar untuk kembali lagi, seperti itulah nasionalisme "pahlauang". Dia menyambut baik ajakan pulang Presiden Joko Widodo pasca memenangi pemilihan Presiden 2014. Tepatnya Juli 2016, kembali diangkat menjadi Menteri Keuangan. Layaknya "pahlauang", dia disambut baik warga NKRI dan Jokowi dinilai mengambil keputusan terbaik.

Seakan tropi merindukan tuannya, "pahlauang" kembali menerima penghargaan sebagai Menteri Keuangan Terbaik se-Asia 2017 oleh majalah Finance Asia dari Hong Kong. Ganjaran tersebut karena keberhasilannya mengurangi target defisit fiskal dengan kebijakan pengampunan pajak (tax amnesty), ini adalah reformasi radikal dalam sistem perpajakan Indonesia. Singapore dan beberapa negara lainnya sempat panas dinging, karena menjadi tempat penyimpanan kekayaan ilegal oleh oknum tertentu. 

Legitimasinya semakin kuat sebagai "pahlauang" di mata rakyat kerena mencetak sejarah untuk pertama kalinya Pemerintah Pusat memperoleh opini wajar tanpa pengecualian (WTP) atas Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) Tahun Anggaran 2016 dari hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Nasionalisme menjadikannya begitu buas terhadap penyelewengan keuangan Negara. Dia berhasil mengagetkan perusahaan raksasa Google dan Facebook dan membayar tagihan pajaknya untuk Indonesia.

Setelah Asia, 11 Februari 2018 World Government Summit atau forum pemerintah dunia di Uni Emirat Arab, ke-pahlauang-annya kembali diakui oleh dunia dengan dinobatkan sebagai Menteri Terbaik di Dunia (Best Minister Award). Kerena jasanya, 23 Oktober 2019 kembali dilantik sebagai Menteri Keuangan Kabinet Indonesia Maju periode 2019-2024 oleh Jokowi. 

Tahun 2020, ke-pahlauang-annya kembali diuji dengan situasi pandemi yang melanda hampir seluruh dunia. Tidak ada ekonomi yang kuat di hadapan pandemi, negara maju sekalipun. Berkat kolaborasi semua elemen-elemen, baik kolaborasi nasional hingga internasional, Indonesia bisa pulih lebih cepat dalam perekonomian. 

Kelihaian seorang "pahlauang" mampu merumuskan kebijakan ekonomi untuk mendorong kesehatan keuangan Negara. Hingga akhirnya didapuk masuk dalam negara dengan 20 anggota Konferensi Tingkat Tinggi (KTT). Keanggotaannya tidak mudah, harus menjadi Negara dengan pertumbuhan ekonomi paling tinggi di dunia dalam 20 besar, Indonesia masuk dalam urutan ke-tujuhbelas. 

Tidak sampai disitu, KTT G20 yang diselenggarakan di Roma 2021, menobatkan Persiden RI Joko Widodo sebagai Presiden G20. Jabatannya diserahkan langsung oleh Perdana Menteri Italia, Mario Draghi di Roma. 

Sampai sekarang kegiatannya masih berlangsung. Banyak sekali rangkaian kegiatan internasional yang terselenggara, mulai pelibatan pemuda dalam G29, misalnya Muhammad Abdullah Syukri Ketua Umum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII). Selanjutnya R20, pertemuan tokoh agama dunia yang digagas oleh KH Yahya Cholil Staquf Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PB NU). 

Sekali lagi, KTT G20 adalah berkat tangan dingin sang "pahlauang". Tentu bersama dengan banyak pihak yang terlibat. 

Ow ya, "pahlauang" kita ini sama seperti perempuan pada umumnya. Bu Sri juga seorang Ibu Rumah Tangga (IRT) yang mengurusi tiga buah hatinya dari suaminya Tony Sumartono. Suaminya dinilai sosok penting dalam keberhasilan dan prestasi sang "pahlauang", selalu mendukungnya bersama keluarga. 

Variabel penting Bu Sri sebagai " pahlauang" bahwa dibalik khidmatnya kepada Negara ia tetap menjadi "pahlauang" dalam keluarga, baik dalam pengelolaan keuangan keluarga maupun menjalankan tanggungjawab sebagai IRT. 

Tantangan selanjutnya menurut penulis  bagi sang "pahlauang" adalah menanti kebijakan beliau dalam ancama krisis tahun 2023 yang dikhawatirkan oleh banyak Negara. Selain itu, bagaimana ia mengatur sedemikian rupa keuangan Negara hingga terwujud Ibu Kota Nusantara yang nantinya menjadi ikon bagi masyarakat Indonesia. 

Jika ia mampu melalui dua tantangan tersebut dalam sisa kepemimpinannya, maka legitimasi ke-pahlauang-annya akan semakin kuat, baik dari masyarakat Indonesia maupun dunia. Peran penting lainnya yang tidak bisa diabaikan adalah Presiden Joko Widodo, ia mendukung dan memastikan bahwa "pahlauang"nya bekerja secara profesional tanpa intervensi kepentingan politik. 

Refleksi sebagai akuntan dari teladan "pahlauang" kita bahwa profesionalisme sejati tidak akan mampu diinterpretasikan oleh kepentingan politik. Kompetensi dan etika tetap menjadi pertimbangan utama dalam menjalan profesi, tidak bisa didikte oleh politikus. 

Dibuktikan oleh "pahlauang" kita, ia tetap diperhitungkan oleh dua pengusaha yang saling bertentangan dalam dunia politik. Keduanya saling menjadi antitesa dalam kebijakan, tetapi Menteri Keuangan tetap Sri Mulyani Indrawati. Dan sang "pahlauang" tetap memberikan khidmat terbaiknya dalam dua kekuasaan yang berbeda. Sungguh nasionalisme seorang profesional yang patut diteladani. (*)

***

*) Oleh: Muhammad Aras Prabowo, S. E,. M. Ak, Kaprodi Akuntansi Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia; Direktur Lembaga Profesi Ekonomi dan Keuangan PB PMII; Mahasiswa Program Doktor Ilmu Akuntansi UNTIRTA.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

**) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Faizal R Arief
Publisher : Sofyan Saqi Futaki

TERBARU

KOPI TIMES