Kopi TIMES

Hamka, Pers, dan Perjuangan

Rabu, 19 Oktober 2022 - 14:38 | 32.08k
Hamka, Pers, dan Perjuangan
Muhammad Aufal Fresky, Mahasiswa Prodi Magister Administrasi Bisnis Universitas Brawijaya, Penulis buku Empat Titik Lima Dimensi, Pengurus LTN NU Pamekasan.

TIMESINDONESIA, MALANG – Kali ini, saya ingin mengangkat sosok ulama kharismatik yang multitalenta. Dia adalah Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau biasa dikenal dengan nama Buya Hamka.

Banyak yang mengenal beliau sebagai cendekiwan muslim yang kiprahnya untuk agama, nusa, dan bangsa tidak  diragukan lagi. Mulai dari bidang jurnalistik, dakwah, pendidikan, hingga politik. Beliau juga masyhur sebagai pengarang yang tulisan-tulisannya penuh dengan inspirasi. Mengulas tokoh sekaliber Hamka, rasa-rasanya tidak cukup hanya melalui catatan ringkas ini. Sebab itu, dalam catatan ini saya ingin lebih memfokuskan peran beliau selama menjadi jurnalis atau penulis.

Selama hidup, Hamka tidak pernah ragu dalam menyampaikan gagasan dan pemikirannya melalui media massa. Media menjadi sarana bagi Hamka untuk mendidik umat. Melalui media, dia menyalurkan idenya untuk membangun masyarakat. Tidak hanya itu, media juga menjadi corong bagi Hamka untuk berdakwah. Bahkan, melalui tulisan-tulisannya yang bernas dan kritis, dia berani untuk melawan segala bentuk ketidakadilan dan kesewenang-wenangan penguasa. Tidak ada rasa takut untuk menyuarakan kebenaran. Sebab baginya, kepentingan umat jauh lebih utama dibandingkan kepentingan individu dan golongan. Aspirasinya dituliskan secara gamblang untuk memperjuangakn nilai-nilai kebenaran yang bersumber dari Alquran dan Hadis. 

Kemampuannya dalam hal karang-mengarang tidak didapatkan dengan instan. Sejak belia, Hamka telah meletih kemampuan menulisnya. Apalagi, dia sudah terbiasa melahap buku-buku berkualitas saat teman-teman yang lainnya sibuk dengan dunianya masing-masing. Hamka adalah sosok pembelajar otodidak. Tak heran, cakrawala pemikiran dan wawasannya sangat luas, ilmunya mendalam. Kegemarannya dalam membaca buku mendukung kualitas gagasan yang dituliskannya. Bahkan, sejak usia 17 tahun, dia mulai mengarang. Hal itu diungkapkan dalam buku yang dikarangnya sendiri berjudul Kenang-Kenangan Hidup.

Pada tahun 1927, saat pulang dari pengembaraannya menuntut ilmu di Makkah, Hamka mulai rajin mengirimkan tulisan-tulisannya ke berbagai media massa. Seperti halnya majalah Pembela Islam di Bandung, Suara Muhammadiyah di Yogyakarta, majalah Adil di Solo, harian Pelita Andalas. Tidak hanya itu, keaktifannya di dunia organisasi dan pergerakan juga turut andil dalam mengembangkan bakat dan kemampuannya di bidang tulis menulis. Terutama ketika aktif di Muhammadiyah, tepatnya tahun 1928, saat dia ditunjuk  sebagai redaktur majalah Kemajuan Zaman. Kemudian, saat diutus ke Makassar sebagai mubalig, dia sempat menerbitkan majalah Tentera dan majalah Al-Mahdi. 

Tidak sampai di situ saja, pada tahun 1936, ketika Hamka berada di Medan, dia mendirikan majalah Pedoman Masyarakat (1936-1943). Saat itu, oplahnya pernah sampai 4 juta eksemplar per bulan. Jumlah yang cukup besar untuk ukuran media milik pribumi. Bahkan, ketika mengurusi Pedoman Masyarakat, namanya semakin melambung sebagai tokoh jurnalistik beraliran islami. Hingga pada akhirnya, saat Jepang menduduki Indonesia, majalah tersebut dilarang terbit. Namun, Hamka tidak menyerah. Justru semangatnya semakin berapi-api. Dia memutar akal untuk kembali menerbitkan majalah. Pada tahun 1943, dia aktif memimpin majalah Semangat Islam dan tiga tahun kemudian, saat memasuki masa revolusi memimpin majalah Menara. Sayangnya, majalah tersebut hanya seumur jagung.

Selanjutnya, menjelang akhir tahun 1950-an, Hamka mengamati bahwa masyarakat sedang membutuhkan adanya media untuk penyaluran pemikiran Islam di tengah pemikiran kiri yang semakin gencar. Sehingga, dia berinisiatif untuk kembali mendirikan majalah, namanya yaitu Panji Masyarakat atau Panjimas. Di majalah tersebut, dia sebagai editor. Baru pertama muncul ke permukaan, majalah tersebut langsung digandrungi masyarakat. Awalnya majalah tersebut menggunakan pendekatan kebudayaan untuk mencerahkan dan mengedukasi masyarakat. 

Namun, seiring berjalannya waktu, majalah tersebut mulai terjun ke politik, Lebih-lebih, Bung Karno menerapkan kebijakan Demokrasi Terpimpin melalui Dekrit 5 Juli 1959. Hal itu membuat sebagian kalangan Islam kecewa. Termasuk pihak dari majalah Panjimas yang orientasinya mulai mengarah ke politik sebagai bentuk kekesalan terhadap kebijakan penguasa Orde Lama. Panjimas mulai agresif dan secara terang-terangan menilai Manifesto Politik (Manipol) dan Undang-Undang Dasar 1945, Sosialisme Indonesia, Demokrasi Terpimpin, dan Kepribadian Nasional (Usdek) yang dicanangkan Bung Karno. Apalagi, saat itu Bung Karno dinilai sangat mesra dengan tokoh Partai Komunis Indonesia (PKI).

Kala itu, Hamka tidak tinggal diam. Dia terjun langsung untuk berhadap-hadapan dengan penguasa. Bagi Hamka, idealismenya harus diperjuangkan dan dipertahankan, apa pun risiko yang akan dihadapinya. Puncaknya, redaksi Panjimas, atas restu Hamka, memuat artikel karangan Mohammad Hatta yang berjudul “Demokrasi Kita”. Artikel yang terbit pada 1 Mei 1960 itu berisi kritikan keras terhadap pelaksanaan konsepsi Demokrasi Terpimpin. Sontak, tulisan Hatta membuat Soekarno naik pitam. Proklamator kemerdekaan RI itu memberedel Panjimas karena dianggap kontra dengan pemerintah. 

Kendati demikian, spirit perjuangan Hamka tidak padam. Pada tahun 1962, dia kembali menerbitkan majalah Islam, Gema Islam. Majalah tersebut juga disokong oleh militer sebagai bentuk dukungan terhadap majalah Islam untuk membendung pers beraliran kiri. Sebab ketika itu, pandangan politik Bung Karno dinilai mulai ke ‘kiri’. Saat aktif di Gema Islam, Hamka tercatat sebagai asisten. Namun sesungguhnya, Hamka adalah otak di balik majalah tersebut. Puncaknya, dua tahun kemudian, Hamka ditangkap dan dituduh terlibat pemberontakan terhadap pemerintahan yang sah. Hingga pada akhirnya, dia dijebloskan ke penjara selama sekitar dua tahun. Dia mulai benar-benar bebas dan namanya kembai pulih ketika rezim berganti. 

Ringkas cerita, hingga pada akhir hayatnya, Hamka tidak pernah letih untuk menyuarakan kebenaran, membela ‘wong cilik’ dan mendidik masyarakat lewat pers. Dia adalah ulama yang konsisten berjuang tidak hanya lewat mimbar dakwah, pendidikan, dan politik. Lebih dari itu, dia juga senantiasa berjuang membangun bangsanya melalui pena. Rasa-rasanya, generasi muda sekarang perlu menengok kembali, dan mengambil nilai-nilai keteladanan yang ditinggalkan Hamka. Seperti halnya, ketekunannya menulis untuk membangun bangsa. Sebab, dengan menulis untuk publik, kita bisa turut berkontribusi untuk bangsa ini. Jika bukan di bidang menulis, bisa di bidang lainnya.

Intinya, kita bisa berkaca kepada Hamka, terkait spirit perjuangannya dan pengorbanannya untuk agama, nusa, dan bangsa. 

***

*) Oleh: Muhammad Aufal Fresky, Mahasiswa Prodi Magister Administrasi Bisnis Universitas Brawijaya, Penulis buku Empat Titik Lima Dimensi, Pengurus LTN NU Pamekasan.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

**) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Faizal R Arief
Publisher : Ahmad Rizki Mubarok

TERBARU

KOPI TIMES