Kopi TIMES

Pancasila Sakti

Sabtu, 01 Oktober 2022 - 06:01 | 39.31k
Pancasila Sakti
drh. Puguh Wiji Pamungkas, MM Founder RSU Wajak Husada.

TIMESINDONESIA, MALANG – Sejarah lahirnya Pancasila sebagai falsafah dasar negara pada 1 juni 1945 tidak terlepas dari perjuangan para "Founding Fathers" bangsa ini. Beberapa bulan sebelum proklamasi kemerdekaan Indonesia, beberapa tokoh bangsa bertemu dalam forum BPUPKI (Badan Penyelidik Upaya Persiapan Kemerdekaan Indonesia) untuk merusmuskan dasar negara Indonesia. Serentetan peristiwa sejarah perjuangan dan perlawan terhadap penjajahan telah menjadi ramuan awal akan lahirnya Pancasila, Indonesia dengan keberagaman suku, budaya, agama, ras juga turut menjadi pemikiran mendalam bagi forum BPUPKI untuk merumuskan dasar negara Indonesia waktu itu.

Memang benar, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) ada 1.340 lebih suku bangsa yang bermukim diribuan pulau dari Sabang sampai Merauke. Fakta kemajemukan Indonesia juga terlihat dari jumlah, komposisi dan sebaran penduduk berdasarkan aspek-aspek sosial budaya. Dilihat dari komposisi penduduknya, Suku Jawa terbesar mencapai 40,2% dari populasi penduduk Indonesia. Diikuti Suku Sunda (15,5%), Suku Batak (3,6%), suku asal Sulawesi selain Suku Makassar, Bugis, Minahasa dan Gorontalo, serta Suku Madura (3,03%).

Dilihat dari pemeluk agamanya, Islam yang terbesar (87,18%), diikuti Kristen (6,96%), Katolik (2,91%), Hindu (1,69%), Budha (0,72%), Kong Hu Cu (0,05), dan agama lainnya. Keragaman juga terlihat dari bahasa daerahnya, menurut data yang sama dari BPS masyarakat yang menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa keseharian dan rumah tangga sejumlah 79,5%, bahasa Indonesia 19,9% dan sisanya 0,3% menggunakan bahasa asing.

Keberagaman yang ada di Indonesia ini telah di sadari oleh para pendiri bangsa sebagai sebuah masalah yang krusial dan sensitif, oleh karenanya salah satu cara untuk membentenginya adalah  dengan mengokohkan Pancasila sebagai ideologi bangsa dengan tetap menjaga tradisi lokal yang menjadi akar budaya dan sumber nilai-nilai luhur bangsa kita.

Keragaman dan keyakinan harus dipahami dengan memberikan apresiasi serta toleransi bukan dipertentangkan. Kalau tidak, akan menimbulkan kebencian yang menyulut perpecahan dan konflik diantara anak bangsa. Sebagai negara majemuk dengan beragam suku, agama, ras dan golongan bangsa kita memang menjadi salah satu negara yang sangat rawan dengan terjadinya konflik horizontal, karena perbedaan pandangan, budaya dan sosial bisa menjadi pemicu pecahnya konflik di masyarakat.

Sebut saja beberapa konflik terbesar yang pernah terjadi di Indonesia dan cukup lumayan memakan banyak korban di antaranya peristiwa kerusuhan mei 1998 yang di awali oleh sentimen etnis saat itu dan berujung pada kerusuhan serta penjarahan. Konflik agama di Ambon yang terjadi pada tahun 1999 juga menjadi sejarah kelam sejarah bangsa ini, ribuan nyawa menjadi korban karena konflik yang berbau agama ini. Tragedi sampit pada tahun 2001 yang melibatkan suku dayak dan suku madura ini juga menjadi catatan menyedihkan bangsa kita, konflik yang menyebabkan jatuhnya ratusan korban jiwa ini diduga karena warga madura sebagai pendatang disana dianggap gagal beradaptasi dengan suku dayak sebagai etnis asli disana. Munculnya kelompok separatis di Indonesia juga menjadi catatan yang berharga tentang sensitifnya masalah keberagaman suku, ras, agama dan golongan ini, misalnya munculnya Gerakan Aceh Merdeka (GAM), kelompok Republik Maluku Selatan (RMS) dan Organisasi Papua Merdeka (OPM).

Multikulturalisme merupakan sebuah konsep di mana komunitas dalam konteks kebangsaan dapat mengakui, menghormati dan merayakan keberagaman, perbedaan, dan kemajemukan budaya, ras, suku, etnis, agama, golongan, bahasa, dan lain sebagainya. Bangsa yang multikultural adalah bangsa yang kelompok-kelompok budaya yang ada dapat hidup berdampingan secara damai dalam prinsip co-exsistensi yang ditandai oleh kesediaan untuk menghormati budaya yang lain. Konsep tersebut memberi semacam kesinambungan dengan pancasila yang dipandang sebagai cita-cita bangsa Indonesia.

Berdasarkan konsep tersebut, multikulturalisme menghendaki seluruh masyarakat Indonesia apapun latar belakang agama, budaya, ras dan golongannya melakukan proses belajar untuk menghargai dan menghormati perbedaan-perbedaan yang ada, yang dimulai dari sikap dan perilaku dalam berinteraksi.

Selain keberagaman suku, ras, agama dan golongan yang dimiliki oleh Indonesia, peristiwa G30SPKI yang pernah terjadi pada tahun 1965 menjadi salah satu penanda bahwa Pancasila merupakan falsafah dasar negara yang tidak tergantikan. Upaya PKI untuk memaksakan komunis sebagai dasar negara dengan melakukan sejumlah kudeta militer berujung pada kegagalan. Genetik masyarakat Indonesia yang sudah terbentuk sejak zaman kerajaan-kerajaan lama di Nusantara, seolah secara otomatis melakukan penolakan terhadap faham komunisme yang coba disebar luasakan oleh DN Aidit dan kawan-kawannya.

Pancasila sebagai dasar negara dapat menjadi rujukan bersama dalam kemajemukan   dan  perbedaan.  Pancasila sebagai falsafah dasar negara harus kita jadikan sebagai rujukan hidup bersama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita, ia perlu di operasionalkan sebagaimana setiap sila yang terkandung di dalamnya sebagi unsur yang menyatukan segala keberagaman yang ada di Indonesia.

Tidak ada yang perlu di perdebatkan tentang Pancasila sebagai dasar negara, sudah 77 tahun pancasila menjadi dasar dan ideologi bangsa ini. Ke lima sila yang tertuang dalam teks Pancasila telah terbukti cocok menjadi dasar bagi kita semua untuk hidup berbangsa dan bernegara. Pancasila juga telah terbukti menjadi bahasa pemersatu bagi semua anak bangsa dari agama apapun, suku apapun, pulau manapun dan ras apapun.

Pancasila dengan Ketuhanan yang Maha Esanya telah menjadi payung bagi semua agama dan keyakinan untuk dengan bebas menyelenggarakan peribadatannya masing-masing. Potret kedamaian itu bisa kita lihat di tengah-tengah Kota Malang, yang mana Masjid Jami' Kota Malang bersebelahan dengan Gereja sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu. Di Nusa Dua Bali juga ada pusat peribadatan "Puja Mandala" dimana tempat ibadah dari lima agama berjejer disana selama berpuluh-puluh tahun.

Pancasila menjadi dasar bahwa kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, Kerakyatan yang di pimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia merupakan instrumen bernegara yang harus di hidupkan, di implementasikan, di jaga dan difahami sebagai bagian yang melekat dalam diri setiap orang yang ada di Indonesia, dengan harapan keadilan sosial atas dasar kemanusiaan yang adil beradab bisa di rasakan oleh seluruh rakyat Indonesia.

Tanggal 1 oktober yang senantiasa diperingati sebagai hari “Kesaktian Pancasila”, sekaligus menjadi penanda bahwa Pancasila yang telah 77 tahun lalu digagas oleh para pahlawan bangsa harus kita maknai spiritnya hingga saat ini, “Pancasila Sakti” telah terbukti menjadi Bahasa pemersatu.

Keberagaman agama, suku, ras, bahasa yang ada harus kita maknai sebagai sumber kekayaan bangsa dan bukan malah sebaliknya. Tidak akan mungkin bangsa ini menjadi bangsa yang besar, rakyatnya adil dan makmur tanpa implementasi nilai-nilai pancasila oleh seluruh elemen bangsa, baik pemerintah sebagai penyelenggara negara ataupun masyarakat.

*) Oleh : drh. Puguh Wiji Pamungkas, MM, Founder RSU Wajak Husada.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Dhina Chahyanti
Publisher : Rochmat Shobirin

TERBARU

KOPI TIMES