Kopi TIMES

Nasib Petani Tanaman Pangan Kita

Minggu, 25 September 2022 - 01:29 | 44.14k
Nasib Petani Tanaman Pangan Kita
Weni Lidya Sukma, SST., MEKK., Statistisi Ahli Muda di BPS RI.

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Petani merupakan pekerjaan yang dibutuhkan agar ketersediaan pangan kita dapat terpenuhi. Bahkan pada saat terjadi pandemi COVID-19, sektor pertanian mampu menjadi penopang kehidupan masyarakat. Banyak pekerja yang terdampak dengan kehilangan pekerjaan memutuskan untuk Kembali ke kampung halaman dan terjun di pertanian.

Hal ini ditunjukkan dengan meningkatknya jumlah pekerja di sektor pertanian sebanyak 2,77 juta orang dibandingkan tahun sebelumnya dari hasil Sakernas Agustus 2020. Namun kondisi petani saat ini tidak begitu menggembirakan. Nilai Tukar Petani (NTP) mempunyai nilai yang lebih dari 100 yang artinya rata-rata harga yang diterima oleh petani masih lebih tinggi dibandingkan rata-rata harga yang dibayarkan. Namun NTP pertanian tanaman pangan sejak tahun 2021 hingga sekarang mengalami penurunan. Nilai NTP dari Januari hingga Agustus 2022 hanya sebesar 97,97. Hal mengisyaratkan bahwa pertanian tanaman pangan di Indonesia saat ini tengah merugi. Padahal sebagian besar pekerja sektor pertanian bergerak di subsektor tanaman Pangan.

Sebanyak 45 persen dari pekerja pertanian tanaman pangan yang mengusahakan tanaman padi dan palawija untuk memenuhi kebutuhan pokok masyarakat Indonesia. Kita perlu makan, kita perlu karbohidrat namun kondisi pertanian tanaman pangan lagi-lagi tidak menguntungkan. Luas lahan pertanian padi mengalami penurunan dari tahun 2019-2021 dari 10.677.887 hektar menjadi 10.411.801 hektar. Banyak lahan-lahan yang saat ini telah dialihfungsikan salah satu lahan pertanian. Baru-baru ini terjadi banyak penolakan mengenai pengalihan lahan pertanian menjadi nonpertanian di sejumlah wilayah Indonesia. Jika hal ini terus berlanjut, tentu dapat memengaruhi produktivitas padi. BPS mencatat bahwa produksi padi pada tahun 2021 yaitu sebanyak 54,42 juta ton mengalami penurunan jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Sedangkan konsumsi beras masyarakat Indonesia pada September 2021 adalah 6,75 kg per kapita per bulan atau sekitar 35,10 juta ton secara keseluruhan.

Tantangan Petani 

Konsumsi beras masyarakat Indonesia mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Hal ini dikarenakan masyarakat tidak hanya mengkonsumsi nasi sebagai makanan pokok namun juga gandum dan sumber karbohidrat lainnya. Jika produktivitas padi terus meningkat maka stok beras semakin banyak sehingga Indonesia bisa swasembada beras. Dan surplus beras dapat dimanfaatkana sebagai cadangan maupun untuk ekspor ke luar negeri.

Namun untuk mencapai hal ini masih perlu banyak hal-hal yang harus dibenahi. Salah satunya mengenai mendorong modernisasi pertanian. BPS mencatat bahwa hampir 40 persen pekerja sektor pertanian bekerja sebagai pekerja bebas dan pekerja keluarga. Besarnya jumlah pekerja dengan status ini tidak dapat meningkatkan nilai tambah pertanian. Alih-alih menggunakan alat pertanian modern atau pun teknologi dan internet, pertanian di Indonesia utamanya pertanian padi lebih banyak memanfaatkan tenaga manusia dalam berbagai tahapan produksinya. 

Pemerintah sebenarnya sudah melakukan upaya intensifikasi pada sektor pertanian sepertinya memberikan bantuan alsintan (alat mesin pertanian). Hal ini guna mendorong peningkatan produktivitas pertanian. Namun di beberapa daerah alsintan banyak yang mangkrak dan pada akhirnya rusak. Petani tentu saja tidak bisa melakukan perbaikan alat dengan dana pribadi karena perbaikan alsintan membutuhkan modal yang tidak sedikit. Alsintan yang tidak termanfaatkan salah satunya disebabkan oleh kecilnya lahan pertanian karena pertanian di Indonesia lebih banyak diusahakan oleh rumah tangga bukan perusahaan. Rata-rata lahan pertanian yang dimiliki pun tidak mencapai satu hektar. Usaha memodernisasi pertanian tentu menjadi lebih sulit lagi karena rata-rata petani berusia lanjut.

Hasil Sakernas Februari 2022 (BPS) menunjukkan bahwa hampir setengah dari pekerja sektor pertanian berumur 50 tahun ke atas. Hal ini tentu akan menjadi tantangan ke depannya. Alih-alih meningkatkan produksi, lahan yang ada saja ke depannya belum tau akan diolah oleh siapa.

Pertanian ke Depannya

Saat ini petani juga dihadapkan dengan tingginya harga pupuk dan pestisida karena adanya pembatasan subsidi pupuk. Bahkan petani mengungkapkan bahwa mereka harus membeli pupuk dan obat-obatan dengan harga sampai dua kali lipat karena sudah tidak mendapatkan subsidi. Hal ini terjadi karena petani saat ini sudah sangat tergantung dengan pupuk kimia dan pestisida untuk membantu proses pertanian.

Dengan keadaan yang terus berlanjut seperti ini, utamannya petani padi yang menggunakan lahan lebih banyak, maka isu keberlanjutan lahan pun menjadi sorotan saat ini. Tidak bisa dipungkiri bahwa Sebagian petani menggunakan bahan kimia yang cukup banyak agar hasin panen tampak bagus dan lebih banyak. Perubahan iklim dan kemampuan daya dukung lahan tentu akan terus merosot dengan penggunaan bahan-bahan kimia apalagi yang berlebihan. 

Berdasarkan hasil uji coba SITASI pada tahun 2020 pada tiga wilayah Indonesia yaitu Jawa Barat, Jawa Timur, dan Nusa Tenggara Barat, rata-rata tingkat ketidakberlanjutan lahan mencapai 60 persen. Hal ini tentu akan mengkhawatirkan. Dengan lahan yang seperti itu, petani tidak bisa bercocok tanam lagi, makanan kita juga akan berkurang ke depannya, dan Sebagian besar penduduk akan kehilangan mata pencahariannya. Oleh karenanya, di Hari Tani ini, marilah bersama-sama saling menyadarkan dan mendukung agar pertanian di Indonesia dapat menjadi pertanian yang berkelanjutan.

***

*) Oleh: Weni Lidya Sukma, SST., MEKK., Statistisi Ahli Muda di BPS RI.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

 

___
**)
Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher : Sholihin Nur

TERBARU

KOPI TIMES