Kopi TIMES Universitas Islam Malang

Guru di Zaman Pra-Hindu Budha, Hindu-Budha, dan Zaman Islam Masuk di Indonesia

Jumat, 01 Mei 2020 - 11:18 | 208.75k
Guru di Zaman Pra-Hindu Budha, Hindu-Budha, dan Zaman Islam Masuk di Indonesia
Ganjar Setyo Widodo, Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Islam Malang (UNISMA). (FOTO: AJP TIMES Indonesia)
FOKUS

Universitas Islam Malang

TIMESINDONESIA, MALANG – Guru merupakan pekerjaan tertua. Lebih dulu dibandingkan arsitek yang baru ada setelah manusia tidak lagi tinggal di gua. Atau, lebih juga dari insiyur metalurgi yang baru muncul pada masa manusia mengenal logam dan pengolahannya. Pekerjaan guru ada sejak manusia mampu berpikir dan mengenal ilmu pengetahuan.

Pada awal kemunculan, seseorang membutuhkan orang lain untuk dimintai pendapat dan dijadikan panutan. Orang-orang kebanyakan mendatangi pertapa. Pertapa adalah orang yang menjauhkan diri dari kehidupan duniawinya dan berdiam di suatu tempat tertentu untuk merenung dengan harapan mendapatkan wahyu dari hal yang ia percayai.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

Pada umumnya, pertapa mendiami gua-gua, di bawah pohon yang besar dan rindang. Di tempat tersebut, pertapa bersila sembari mendengarkan kesunyian. Ditempat itulah kebanyakan orang awam percaya bahwa orang yang mampu bertapa/hidup tanpa ada hasrat keduniawian, memiliki ilmu yang bermanfaat.

Kebanyakan pertapa adalah orang yang memang mampu secara ekonomi, atau memiliki kekuasaan. Namun ada juga, pertapa yang berasal dari kaum yang tidak berada. Orang-orang yang mendatangi pertapa dan dijadikan muridnya, biasanya mengolah tanah yang dimiliki pertapa untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka.

Dalam kesehariannya, setelah mengolah tanah di pagi sampai siang hari, para pencari ilmu mendatangi pertapa dan meminta nasihat. Nasihat-nasihat yang diberikan biasanya berupa nasihat tentang bagaimana menjalani hidup dengan tenang sesuai dengan apa yang telah ditakdirkan oleh Tuhan. Oleh karena itu, nasihat tersebut kadang berupa tugas yang harus dilalui oleh pencari ilmu dan baru boleh kembali pada saat mereka sudah menyelesaikan tugasnya.

Selanjutnya, sistem pendidikan  pada masa kerajaan hindu-budha, sudah mengenal adanya guru. Pada masa agama hindu, yang mengenal sistem kasta, guru berasal dari kasta Brahmana yang dikenal dengan nama begawan. Dalam hal ini, kasta guru setingkat lebih rendah dari raja.

Oleh karena itu, Begawan memiliki hak-hak tertentu, dan cenderung dimuliakan oleh masyarakat karena dianggap sebagai penjelmaan kehidupan spiritual kebenaran. Pada masa itu, di dalam menyampaikan pengetahuan dari buku suci (Weda), para siswa tinggal di rumah Begawan tersebut serta mengabdi dengan penuh kesetiaan dan pengabdian. 

Hal yang tidak jauh berbeda juga terjadi pada saat ajaran agama Budha mempengaruhi nusantara. Jejak pengajaran pada masa budha, dapat diketahui melalui pada zaman kerajaan Sriwijaya. Tujuan utama pendidikan berdasarkan ajaran Sidharta Gautamma, yakni setiap manusia penganut Budha dididik menjadi manusia sempurna agar dapat masuk nirwana/ surga. Salah seorang guru yang terkenal adalah Darmapala. Sistem pengajarannya menggunakan format asrama sebagai sekolah sekaligus tempat tinggal para siswa dan guru. “Belajar menjadi etos baru bagi kehidupan umat.

Hal ini dibuktikan melalui bentuk dari salah satu arca di Candi Borobudur. Arca Dhyani Budha bersikap darma cakra mudra, kedua tangannya di dada menggambarkan, bahwa manusia hidup harus belajar (PGRI, 2008: 3)”.  Corak pendidikan masa hindu-budha, ternyata memberikan pengaruh pula pada sistem pendidikan islam.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

Masuknya islam ke tanah air mempengaruhi sudut pandang masyarakat, yang memerlukan pendalaman ajaran agama islam. Oleh karena itu, dikenalah sistem pesantren. Pesantren mempercayakan pendidikan pada seorang guru yang disebut kyai. Pada mulanya pembelajaran dilaksanakan di langgar-langgar atau pelataran masjid.

Namun, karena jumlah santri semakin banyak maka pembelajaran dilakukan di rumah ksyai. Kemudian untuk dapat memaksimalkan pemahaman akan ajaran agama islam, maka pesantren menjadi sistem asrama. Sehingga murid atau santri tinggal berdekatan dengan guru. Hal tersebut kemudian membawa pengaruh bagi perkembangan pesantren, sehingga pesantren menjadi lebih besar peranannya. 

Selain sebagai sarana belajar, pesantren telah dipercaya oleh masyarakat sebagai pewaris nilai-nilai guna melengkapi nilai-nilai yang diajarkan dalam lingkungan keluarga. Berkembangnya peran pesantren tersebut, akhirnya memunculkan konsekuensi logis adanya tuntutan pemenuhan kebutuhan hidup bagi para santri dan guru yang tinggal di pesantren.

Akhirnya, pesantren mengajarkan untuk mengelola alam, sehingga pesantren berupaya mandiri dalam pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari. Apabila menilik kemampuan pesantren dalam pewarisan nilai-nilai, tidak lepas dari peran kiai sebagai pemimpin pesantren. Karena pada umumnya sebuah pesantren dapat berdiri karena gagasan seorang kiai yang telah mempuni bidang keilmuannya, sehingga perlu meneruskan pengetahuannya pada generasi selanjutnya. 

INFORMASI SEPUTAR UNISMA MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

*)Penulis: Ganjar Setyo Widodo, Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP),  Universitas Islam Malang (UNISMA).

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : AJP-3 Editor Team
Publisher : Rochmat Shobirin

TERBARU

KOPI TIMES