Kesehatan

Ada Komplikasi Covid-19, 5 Pasien Anak di Yogyakarta Meninggal Akibat Gagal Ginjal Akut

Rabu, 19 Oktober 2022 - 15:37 | 29.78k
Ada Komplikasi Covid-19, 5 Pasien Anak di Yogyakarta Meninggal Akibat Gagal Ginjal Akut
Kepala Dinas Kesehatan DIY, Pembajun Setyaningastutie. (FOTO: Pradito Rida Pertana/detikcom)

TIMESINDONESIA, YOGYAKARTA – Periode Januari hingga Oktober 2022, di DI Yogyakarta terdeteksi ada 13 kasus gagal ginjal akut atau acute kidney injury (AKI) yang menyerang anak-anak. Lima anak di antaranya bahkan meninggal dunia.

Dari kasus tersebut, terdapat kasus komplikasi dengan Covid-19 dan dua kasus komplikasi dengan organ tubuh lain seperti jantung atau fungsi lain.

Kepala Dinas Kesehatan DIY, Pembajun Setyaningastutie, menjelaskan anak-anak tersebut menunjukan gejala demam, batuk, pilek disertai penurunan volume urine, harus segera dibawa ke rumah sakit.

Dari 13 kasus ginjal akut itu, delapan anak berusia di bawah lima tahun dan lima anak berusia enam hingga 13 tahun. Dari 13 anak yang menderita gangguan ginjal, lima meninggal dunia. Sementara, yang masih dirawat di RSUP Dr Sardjito ada enam anak. Dua anak sudah sembuh.

"Dari lima anak yang meninggal itu, empat anak balita, kemudian satu anak usia 10 tahun satu bulan," ungkapnya, Rabu (19/10/2022).

Selain itu ada dua anak yang meninggal dunia di PICU (pediatric intensive care unit) rumah sakit. Kondisi itu menunjukkan indikator penanganan darurat pada anak. Selain itu, tiga anak telat dibawa ke rumah sakit karena orang tua mereka menganggap gejala yang diperlihatkan anak-anak biasa saja.

"Awalnya biasa tetapi makin banyak, akhirnya jadi satu KLB, kasus yang tidak biasa. Kebanyakan memang tidak diketahui etiologi atau penyebabnya. IDAI juga sedang mengevaluasi ini," ujarnya.

Pembajun mengungkapkan sejumlah gejala dari penyakit ginjal akut ini di antaranya demam, batuk pilek, mual atau muntah pada anak. Kemudian pada hari ketiga hingga kelima, volume urine pada anak tersebut mulai menurun, urine berwarna keruh. Bahkan ada beberapa anak yang tidak bisa mengeluarkan urine.

"Urine sangat sedikit, karena tidak ada yang bisa dikeluarkan. Ketika sudah seperti ini harus diwaspadai, jangan-jangan ginjal tidak bisa berfungsi dengan baik, maka harus segera dibawa ke fasyankes secepatnya," ungkapnya.

Meski demikian, masyarakat tidak perlu khawatir atau panik berlebihan dalam merespons kondisi ini. Dia meminta masyarakat agar tetap mewaspadai penularan Covid-19 dengan tetap menjaga prokes, karena ada kasus yang disebabkan oleh komplikasi Covid-19.

Kasus ini sedang diteliti para pakar dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dan Kementerian Kesehatan. Menurutnya banyak pihak yang masih kebingungan karena anak-anak yang terkena tidak memiliki catatan gagal ginjal.

"Makanya sering disebut ini misterius karena tidak diketahui apa penyebabnya, ini gagal ginjal tetapi tidak diketahui penyebabnya," ujarnya.

Sementara itu, Dokter Anak Konsultan Neurologi, dr Henny Adriani Puspitasari, menyebut penyakit gangguan gagal ginjal ini menyerang sekitar 100 anak, terhitung Januari 2022. Peningkatan terjadi secara sigrifikan pada bulan Agustus dan September tahun ini.

"Kasus (gangguan ginjal misterius) nya tiba tiba melonjak dua bulan terakhir tahun ini," ucap dr Henny.

Lebih lanjut, dr Henny menjelaskan tentang istilah medis yang diperuntukkan bagi gangguan ginjal misterius ini. IDAI kemudian menggunakan istilah gangguan ginjal akut progresif atipikal, untuk penyakit ini.

"Kami menggunakan istilah gangguan ginjal akut progresif atipikal, karena cepat dan ketidakbiasaan dari penyakit ini," ungkapnya.

Sebelumnya, dr. Henny menyebutkan, istilah misterius yang sebelumnya berkembang, sebelum adanya istilah gangguan ginjal akut progresif atipikal ini berasal dari fakta mengenai penyakit ini, yang menurutnya tidak biasa.

"Mengapa misterius? Karena gangguan ginjal akut misterius ini perjalanan penyakitnya yang cepat, terjadinya mendadak, dan perkembangannya juga cepat. Ini buat kami dokter anak, ini jadi suatu hal yang tidak biasanya," paparnya.

Selain itu, ketika ditanya mengenai kaitan dengan pandemi saat ini, dr. Henny juga tidak mengelak. Menurutnya, ada dugaan bahwa penyakit ini berkaitan dengan pandemi meskipun belum ada bukti yang pasti.

Hal ini terkait dengan usia anak yang menderita gangguan ginjal akut progresif atipikal ini yang sebagian besar diantaranya adalah anak berusia di bawah 6 tahun. Menurut dr Henny, anak di bawah usia 6 tahun belum mendapatkan vaksinasi, sehingga belum punyai kekebalan Covid-19, terkecuali anak yang pernah terinfeksi virus ini.

"Kita melihat, sebagian besar anak-anak ini punya bukti terhadap infeksi covid, baik yg sedang dialami atau sudah pernah. Mungkin tidak bergejala, ataupun bergejala tapi tidak terdeteksi," ungkapnya.

Berangkat dari hal inilah, pihaknya berpikir gangguan ginjal misterius yang kini disebut gagal ginjal akut progresif atipikal berkaitan dengan Covid-19. "Kita kemudian berpikir tentang hal ini, walaupun belum ada bukti ada keterkaitannya. Masih dibutuhkan investigasi yang lebih dalam," ujar dr Henny terkait kasus di Yogyakarta. (*)

**) Dapatkan update informasi pilihan setiap hari dari TIMES Indonesia dengan bergabung di Grup Telegram TI Update. Caranya, klik link ini dan join. Pastikan Anda telah menginstal aplikasi Telegram di HP.



Editor : Ronny Wicaksono
Publisher : Sholihin Nur

TERBARU

KOPI TIMES