Glutera News

8 Cara Menurunkan Hormon Kortisol Akibat Stres 

Rabu, 05 Oktober 2022 - 13:42 | 25.11k
8 Cara Menurunkan Hormon Kortisol Akibat Stres 
Image: Glutera for Times Indonesia

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Kortisol merupakan jenis hormon yang diproduksi oleh kelenjar adrenal untuk meningkatkan fungsi respon tubuh terhadap suatu situasi tertentu. Hormon kortisol akan cenderung tinggi ketika kita dilanda stres, yang biasanya tidandai dengan perasaan cemas dan gelisah. 

Bahkan jumlahnya dapat menetap dalam waktu yang cukup lama dan bisa berakibat gangguan kesehatan yang serius.

Gangguan kesehatan yang bisa muncul akibat hormon kortisol tinggi 

Peningkatan hormon kortisol dalam waktu lama mengganggu beberapa fungsi fisiologis tubuh, di antaranya:

1. Gula darah tidak seimbang

Kortisol berperan dalam menyediakan energi dalam bentuk glukosa darah sebagai bentuk persiapan menghadapi suatu kondisi stress tetapi jika terjadi dalam waktu yang lama hal tersebut dapat menimbulkan kerusakan dan memicu perkembangan diabetes mellitus.

2. Gangguan kesehatan pembuluh darah

Tingginya hormon kortisol dalam darah dapat menyulitkan distribusi darah yang mengandng oksigen dan meningkatkan tekanan dalam pembuluh darah. Sehingga memicu kerusakan pembuluh darah dan berbagai penyakit jantung.

3. Perut membuncit

Selain tak sedap dipandang mata, perut buncit menyimpan banyak potensi masalah kesehatan. Perut memiliki sel lemak yang lebih banyak dibandingkan bagian tubuh lainnya. Hormon kortisol merupakan salah satu pemicu pematangan sel lemak tersebut sehingga memicu penumpukan lemak perut yang lebih cepat. Dalam dunia medis, perut buncit digolongkan sebagai obesitas sentral.

4. Sistem imun melemah

Hormon kortisol berperan untuk mengurangi reaksi peradangan pada tubuh. Namun di saat yang sama, hormon ini juga memiliki efek samping terhadap sistem imun dengan menurunkan respon imun terhadap adanya kuman yang memapar tubuh.

5. Gangguan kesehatan reproduksi

Hormon seks androgen diproduksi dari kelenjar yang sama dengan hormon kortisol. Sehingga ketika hormon stres kortisol dihasilkan berlebih, maka dengan sendirinya sekresi hormon seks akan cenderung berkurang.

6. Gangguan sistem saluran penceranaan

Tingginya kortisol dalam tubuh menurunkan respon tubuh untuk menyerap makanan sehingga menyebabkan sistem pencernaan kesulitan mencerna makanan dengan baik. Makanan yang tidak tercerna dengan sempurna dapat merusak permukaan mukosa usus sehingga menyebabkan luka di lambung, seperti pada gangguan irritable bowel syndrome dan colitis.

7. Gangguan kognitif

Sekresi hormon kortisol berlebih menyebabkan otak tidak dapat bekerja dengan optimal sehingga memicu gejala seperti kesulitan mengingat dan brain fog. Ganggan kerja otak tersebut juga berpotensi menyebabkan gangguan emosi dan depresi.

menurunkan-hormon-kristol.jpg

Berbagai cara mudah menurunkan hormon kortisol yang terlalu tinggi

Untuk menghindari potensi masalah kesehatan akibat peningkatan hormon kortisol, berikut beberapa cara yang dapat Anda lakukan:

"Ketika terjadi lonjakan kortisol, hormon ini memberitahu tubuh untuk makan banyak kalori, taktik bertahan hidup yang membutuhkan energi besar untuk melarikan diri predator. Namun taktik ini tidak efektif jika mencemaskan banyaknya tagihan yang harus dibayar," kata Shawn Talbott, PhD, ahli biokimia gizi sekaligus penulis buku 'The Cortisol Connection'.

Untungnya, tubuh telah berevolusi untuk menangkal lonjakan ini, yaitu dengan melakukan relaksasi. Seperti dilansir prevention.com, berikut adalah delapan cara yang mengejutkan untuk memangkas kadar kortisol hampir separuh.

1. Meditasi= Mengurangi Kortisol 20 persen

Dalam sebuah peneltiian di Thailand, orang yang berlatih meditasi secara signifikan mengalami penurunan kortisol dan tekanan darah dalam waktu 6 minggu. Demikian pula orang yang bermeditasi setiap hari selama 4 bulan mengalami penurunan kortisol rata-rata sebesar 20 persen, menurut sebuah penelitian di Maharishi University.

2. Mendengarkan Musik= Mengurangi Kortisol 66 persen

Musik dapat memiliki efek menenangkan otak, terutama saat sedang menghadapi pemicu stres. Ketika seorang dokter di Osaka Medical Center, Jepang, memainkan lagu untuk sekelompok pasien yang menjalani kolonoskopi, tingkat kortisol pasien naik lebih sedikit dibandingkan pasien lain yang menjalani prosedur sama di ruangan yang tenang.

Mencegah lonjakan kortisol dalam situasi pemicu stres lainnya dapat dilakukan dengan mengalunkan musik instrumental. Dan jika ingin lebih cepat tertidur, dengarkanlah musik yang menenangkan, jangan menonton TV.

3. Tidur lebih awal atau tidur siang= Mengurangi Kortisol 50 persen

"Apa perbedaan antara tidur selama 6 jam dengan 8 jam seperti yang direkomendasikan? Kenaikan Lima puluh persen kortisol lebih dalam aliran darah," kata Talbott.

Ketika sekelompok pilot tidur 6 jam atau kurang selama 7 malam saat bertugas, tingkat kortisolnya meningkat secara signifikan dan tetap meningkat selama 2 hari, demikian kesimpulan penelitian yang dilakukan Jerman Institute for Aerospace Medicine. Tidur 8 jam direkomendasikan karena memberikan tubuh waktu untuk memulihkan diri dari stres seharian.

Jika tidak dapat memenuhi 8 jam tidur, pastikan dapat tidur siang pada hari berikutnya. Peneliti dari Pennsylvania State University menemukan bahwa tidur siang dapat mengurangi kortisol yang diakibatkan kurang tidur pada malam sebelumnya.

4. Minum antioksidan= Mengurangi Kortisol 47 persen

Minuman antiokisdan terbukti ampuh meredakan lonjakan kortisol. Ketika relawan di University College London diberi tugas yang memicu stres, kadar kortisol orang yang biasa minum antiokisdan turun sebesar 47 persen dalam satu jam setelah menyelesaikan tugas.

Sedangkan peserta lain yang minum coklat hanya mengalami penurunan 27 persen. Sang peneliti, Andrew Steptoe, PhD, menduga banyaknya terjadi radikal bebas saat stres, dan antioksidan bekerja menanggulanginya.

5. Bergaul dengan teman yang lucu= Mengurangi Kortisol 39 persen

Sahabat yang selalu dapat membuat tertawa tak hanya dapat mengalihkan perhatian dari masalah, tapi kehadirannya dapat membantu meredam stres. Tertawa saja sudah cukup untuk mengurangi kortisol hampir setengahnya, menurut para peneliti di Loma Linda University. Jika teman-teman sudah pada sibuk dengan urusannya masing-masing, menonton acara komedi juga dapat membantu.

6. Pijat= Mengurangi Kortisol 31 persen

Pijatan lembut dapat memangkas tingkat stres. Setelah beberapa minggu terapi pijat, rata-rata kadar kortisol akan menurun sebesar hampir sepertiga, menurut penelitian di University of Miami School of Medicine. Selain menjaga kadar kortisol, pijat juga dapat mengurangi stres dengan meningkatkan produksi dopamin dan serotonin, hormon yang dilepaskan ketika bersosialisasi dengan teman atau melakukan sesuatu yang menyenangkan.

7. Beribadah= Mengurangi Kortisol 25 persen

Menurut penelitian dari Universitas Mississippi, ritual keagamaan membentengi banyak orang dari tekanan sehari-hari, dan juga dapat menurunkan kadar kortisol.

Subyek penelitian yang rajin ke gereja memiliki kadar hormon stres lebih rendah daripada yang tidak menghadiri ibadah sama sekali. Jika ritual tidak cukup menarik, cobalah mengembangkan sisi spiritual dengan berjalan-jalan di alam, hutan, pantai, atau menjadi relawan dalam kegiatan sosial.

8. Kunyah permen karet = Mengurangi Kortisol 12-16 persen

Mengunyah permen karet dapat meredakan ketegangan, demikian saran dari peneliti di Northumbria University di Inggris. Ketika menghadapi tekanan, pengunyah permen karet memiliki kadar kortisol 12 persen lebih rendah dibandingkan yang tidak mengunyah permen.

Pengunyah permen karet ditemukan memiliki kewaspadaan lebih besar dibandingkan yang tidak mengunyah permen. Diduga, mengunyah permen karet meningkatkan aliran darah dan aktivitas saraf pada salah satu bagian otak.

Hormon kortisol sebenarnya memiliki dampak baik dan tidak berbahaya bagi tubuh, tetapi apabila kadarnya berlebihan atau kekurangan, berbagai keluhan dapat muncul dan bisa saja menjadi tanda adanya penyakit tertentu. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Dhina Chahyanti
Publisher : Rochmat Shobirin

TERBARU

KOPI TIMES