Indikator
  • USD → IDR Jual: 13,291 • USD → IDR Beli: 13,305
  • EUR → IDR Jual: 14,951 • EUR → IDR Beli: 14,971
  • HKD → IDR Jual: 1,707 • HKD → IDR Beli: 1,709
  • JPY → IDR Jual: 120 • JPY → IDR Beli: 120
  • AUD → IDR Jual: 9,958 • AUD → IDR Beli: 9,973
  • SGD → IDR Jual: 9,576 • SGD → IDR Beli: 9,593
  • Emas Jual → 548,000 • Emas Beli → 532,000
  • Perak Jual → 10,500
  • Update Tanggal 23-05-2017

Social Work Integrative Approach Pendekatan Baru Pemberantasan Terorisme

Home / Pendidikan / Social Work Integrative Approach Pendekatan Baru Pemberantasan Terorisme
Social Work Integrative Approach Pendekatan Baru Pemberantasan Terorisme Siti Napaiyah Ariefuzzaman Sidang Promosi Doktor bidang Ilmu Kesejahteraan Sosial, FISIP Universitas Indonesia. (Foto : Istimewa)

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Persoalan pemberantasan terorisme terus menjadi ikhtiar semua pihak termasuk para akademisi. Ini karena ternyata penjara nyaris tidak memberi deterrance effect atau tidak membuat jera, kapok para pelakunya.

Pada beberapa kasus, penjara justru menjadi school of radicalism, semacam kawah candradimuka bagi para teroris. Keluar dari penjara justru jadi semakin keras pahamnya dan kembali melakukan teror. Penjara belum berhasil membuat teroris sadar dan bertaubat sehingga upaya pemberantasan terorisme terhambat.

Demikian inti persoalan yang disampaikan Siti Napaiyah Ariefuzzaman pada sidang promosi doktor bidang ilmu kesejahteraan sosial, Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik, Universitas Indonesia.

Disertasi berjudul "Pendekatan Integratif dalam Pembinaan Narapidana Kasus Terorisme: Studi Kasus Lembaga Pemasyarakatan Klas I Cipinang dan Balai Pemasyarakatan Jakarta Timur-Utara" ini menawarkan pendekatan baru yang disebutnya Social Work Integrative Approach yaitu suatu pendekatan yang melibatkan lintas profesi, lintas disipilin ilmu, yang dilakukan secara komprehensif pada level mikro, mezzo dan makro.

Dengan pendekatan ini seorang narapidana teroris akan mendapatkan pembinaan secara terencana dan sistematis yang melibatkan petugas lapas, ahli agama, psikolog, kriminolog ditambah social worker (pekerja sosial).

"Social worker bisa menjadi case manager (manajer kasus) yang bertanggungjawab atas penanganan seorang narapidana sampai tuntas. Tuntas dalam pengertian selama di lapas mendapat pembinaan, ada program deradikalisasi, rehabilitasi, reintegrasi dan reentry. Seorang terpidana teroris diharapkan kembali ke masyarakat, diterima oleh masyarakat dan berperan dalam masyarakat," terang Dosen Kesejahteraan Sosial UIN Jakarta ini, Selasa (20/6/2017).

Napsiyah menekankan pentingnya melibatkan pekerja sosial (social worker) dalam pemberantasan terorisme. Lapas bisa menerima sarjana kesejahteraan sosial, Bapas juga bisa menerima social worker untuk pendamping kemasyarakatan.

Berita Terkait

Komentar

Top
Tim.my.id Wawanita.com satriamedia.com