Indikator
  • USD → IDR Jual: 13,291 • USD → IDR Beli: 13,305
  • EUR → IDR Jual: 14,951 • EUR → IDR Beli: 14,971
  • HKD → IDR Jual: 1,707 • HKD → IDR Beli: 1,709
  • JPY → IDR Jual: 120 • JPY → IDR Beli: 120
  • AUD → IDR Jual: 9,958 • AUD → IDR Beli: 9,973
  • SGD → IDR Jual: 9,576 • SGD → IDR Beli: 9,593
  • Emas Jual → 548,000 • Emas Beli → 532,000
  • Perak Jual → 10,500
  • Update Tanggal 23-05-2017

Dari Diragukan, Kopi Bondowoso Kini Jadi Unggulan

Home / Ekonomi / Dari Diragukan, Kopi Bondowoso Kini Jadi Unggulan
Dari Diragukan, Kopi Bondowoso Kini Jadi Unggulan Bupati Bondowoso Drs H Amin Said Husni saat berada di Far Eastern Federal University Rusia (Foto: Istimewa)
Fokus Berita

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Sebelum program Pengembangan Kluster Kopi, petani kopi Bondowoso tidak banyak yang melihat kopi sebagai tanaman emas. Baru pada tahun 2011 sejak Pemerintah Kabupaten Bondowoso mengeluarkan program Pengembangan Kluster Kopi, masyarakat mulai beramai-ramai menanam kopi dan menggantungkan hidupnya disana. 

Program Pengembangan Kluster Kopi sendiri diinisiasi oleh Pemerintah Kabupaten Bondowoso yang saat ini dipimpin oleh Bupati Bondowoso H Amin Said Husni dengan melibatkan lima stakeholder terkait diantaranya Perhutani, Asosiasi Petani Kopi, Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (Puslitkoka), Bank Jatim dan Bank Indonesia.

Bupati Bondowoso Drs H Amin Said Husni (kanan) dan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin saat ngopi bareng di Bondowoso (Foto: Dok/TIMES Indonesia)

Untuk perluasan lahan kopi rakyat, Pemkab Bondowoso menggandeng Perhutani Bondowoso sebagai mitra. Area hutan lindung dan hutan produksi milik Perhutani boleh digunakan oleh petani kopi dengan syarat Sumber Daya Alam (SDA) hutan tidak diambil. Kesepakatan dua belah pihak ini masih dijalankan hingga sekarang dan telah menghasilkan luas areal tanam sebesar 14.000 hektar. 

Sebagai mitra dalam hal peningkatan kualitas kopi, Puslitkoka ditunjuk oleh Pemkab Bondowoso untuk memberikan pelatihan pasca Progam Kluster Kopi Bondowoso terbentuk. Sejak saat itu, Puslitkoka bersama dinas terkait rutin dan gencar melakukan pelatihan mulai dari proses petik merah matang segar, pengolahan wet process dan proses pengeringan pascapanen. Jika sebelumnya para petani mengeringkan kopi langsung di atas jalan raya, kali ini mereka diberikan penyuluhan bagaimana teknik mengeringkan kopi menggunakan para-para.

Berita Terkait

Komentar

Top
Tim.my.id Wawanita.com satriamedia.com