Indikator
  • USD → IDR Jual: 13,325 • USD → IDR Beli: 13,339
  • EUR → IDR Jual: 14,210 • EUR → IDR Beli: 14,229
  • HKD → IDR Jual: 1,715 • HKD → IDR Beli: 1,717
  • JPY → IDR Jual: 120 • JPY → IDR Beli: 120
  • AUD → IDR Jual: 10,072 • AUD → IDR Beli: 10,088
  • SGD → IDR Jual: 9,505 • SGD → IDR Beli: 9,522
  • Emas Jual → 552,000 • Emas Beli → 531,000
  • Perak Jual → 11,500
  • Update Tanggal 06-04-2017

Semangat Kartini dalam Jiwa Eva Handriyantini

Home / Peristiwa - Daerah / Semangat Kartini dalam Jiwa Eva Handriyantini
Semangat Kartini dalam Jiwa Eva Handriyantini Ketua STIKI Ibu Dr. Eva Handryantini, S.Kom, M.MT

TIMESINDONESIA, JAKARTA – “Saya akan mengajar anak-anak saya, baik laki-laki maupun perempuan untuk saling memandang sebagai makhluk yang sama. Saya akan memberikan pendidikan yang sama kepada mereka, tentu saja menurut bakatnya masing-masing. Lagi pula, saya bermaksud akan menghapuskan batas yang menggelikan antara laki-laki dan perempuan yang dibuat orang sedemikian cermatnya”.

~Kutipan Surat Kartini kepada Stella Zeehandelaar 23 Agustus 1900.

Sebagai seorang perempuan yang hidup di zaman kental dengan budaya patriarki, Kartini harus membuang asanya untuk mengenyam pendidikan tinggi. Kesempatan untuk memperoleh pendidikan hanya bisa dirasakan oleh laki-laki keturunan ningrat. Dia, harus dikungkung dalam budaya pingitan dan ketakutan akan perjodohan yang tidak diinginkannya.

Zaman telah berubah. Perempuan leluasa menikmati pendidikan tinggi. Bahkan, tak jarang banyak yang berhasil menduduki posisi puncak berbagai institusi. Eva Handriyantini, perempuan kelahiran Malang ini adalah salah satu contoh perempuan dengan keinginan dan determinasi yang kuat.

Sudah sejak remaja, Eva bercita-cita menjadi seorang pengajar. Keinginannya muncul karena kekagumannya ketika melihat orang berbicara di depan seminar.

Eva memulai passion mendidik sejak masih menempuh pendidikan sarjana. Tahun 1995, dia mengajar di Lembaga Pendidikan computer (LPK) Kolese Santo Yusup, Malang, sebagai instruktur komputer. Pada tahun 2000, berpindah ke STIKI menjadi dosen serta diberikan tugas sebagai Kepala Program Studi Sistem Informasi.

Perjalanannya di dunia akademik bukan tanpa tantangan. Ketika sudah menjadi dosen pun, keinginan melanjutkan studi S2 sempat tertunda karena kesibukan yang tidak bisa ditinggalkan. Kesempatan studi lanjut datang pada tahun 2006, dimana saat itu juga masih menjabat sebagai kepala program studi. Namun kali ini, kesibukan tidak dijadikannya sebagai alasannya untuk tidak menyelesaikan kuliahnya tepat waktu.

Tahun 2009, dia dipercayakan untuk memimpin STIKI. Sebagai seorang perempuan, tentu saja banyak yang meragukan kemampuannya untuk memimpin. Eva sebenarnya sudah terbiasa berorganisasi dan memimpin sebelumnya, namun menjadi pemimpin institusi pendidikan tinggi adalah hal berbeda. Lebih kompleks. 

Tak putus asa, Eva banyak berdiskusi dengan sesama rekan akademisi lainnya. Support yang didapatnya membuat dia semakin teguh mengemban kepercayaan yang diamanatkan.

Walaupun sudah menduduki posisi puncak, Eva tidak berpuas diri. Pada tahun 2011, dia mengambil program doktoral. Tidak mudah memang. Apalagi sebagai seorang perempuan berumah tangga dia harus mampu membagi waktunya untuk keluarga, lembaga yang dipimpinnya, dan kuliahnya.

Eva menyayangkan adanya pandangan yang mengatakan perempuan setinggi apapun ketika dia bekerja atau belajar ketika sudah menikah dia harus berhenti dan fokus pada keluarga. Bagi Eva, talenta yang telah diberikan Tuhan harus terus dikembangkan.

Bekerja tidak harus di lembaga formal. Ada banyak bidang yang bisa dijadikan lahan berkiprah. Asalkan bijaksana, keluarga dan karir dapat berjalan seimbang bahkan saling mendukung.

Selain sebagai Ketua STIKI, Eva terlibat dalam pengurus Asosiasi Dosen Indonesia (ADI) Jatim, Asosiasi Praktisi/Akademisi di bidang TIK (IndoCEISS), dan menjadi ketua relawan TIK kota Malang. Dia aktif juga dalam organisasi Asosiasi Pendidikan Tinggi Informatika & Komputer (APTIKOM) sebagai pengurus pusat, dengan jabatan Direktur Kerjasama Pemerintah. 

Selain itu, Eva juga diminta menjadi Wakil Ketua bidang Kerjasama Dalam dan Luar Negeri bagi Asosisasi Perguruan Tinggi Swasta (APTISI) Jawa Timur.

Eva berpesan, “Perempuan harus banyak belajar dan belajar banyak hal. Belajar membuka jendela pengetahuan. Apalagi ketika menjadi ibu, pendidikan paling utamadalam keluarga di dapat dari ibu. Ibu yang memiliki wawasan luas mendorong tumbuhnya generasi berpikiran luas juga”.

Selamat Hari Kartini. Perempuan Indonesia, bisa!

Berita Terkait

Komentar

Top
Tim.my.id Wawanita.com satriamedia.com